Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
81. Lamaran Resmi.


__ADS_3

" Apa Rin, kamu memerima lamaran Imam.?" tanya mbak Amira kaget. Saat malam itu Arini mengobrol dengan mbak Amira juga mas Haris.


" Iyaa, mbak aku yakin. Lagi pula semua ini juga karena Aisya. Setelah lamaran Mas Firman waktu itu, aku beberapa kali sholat istikharah. Tapi, sejak saat itu pula aku jadi kepikiran mereka. Dan juga entah bagaimana aku bisa membuka hati dan dekat sama mas Imam." jelas Arini,


Ada raut sedikit kecewa diwajah Amira. Lain halnya mas Haris, yang ikut senang lantaran Arini lebih memeilih Imam.


" Mbak aku mohon, restui kami. Aku tahu mbak masih kecewa pada mas Imam. Tapi, bukankah ini semua sudah menjadi kehendak Allah. Aku juga sedih dan kecewa pada mas Imam, dulunya!"


" Aku tidak ingin terjebak dimasa lalu, mbak. Lagi pula kita semua juga salah kan mbak? Bukan hanya mas Imam yang berbohong


Tapi, kita juga.!"


Mbak Amira diam, seperti kata suaminya waktu itu. Tak ada yang lebih baik untuk Arini selain menerima Imam. Akan ada dua kebahagiaan yang dia terima sekaligus. Cinta yang tulus dan putri yang sangat dia sayangi.


" Mir, ingat kan yang mas bilang waktu itu! Setidaknya dengan Imam menikahi Arini keluarga kita tak akan terpecah lagi. Walau mereka tak ada hubungan darah dengan kita. Tapi, mereka tetap menjadi bagian dari kita. Aisyalah yang menjadi alasan kita masih keluarga.!" kata mas Haris, menyakinkan istrinya.


Seutas senyum terbit dibibir Amira, menyambut Arini dalam pelukannya. Arini pun berhambur memeluk mantan kakak ipar yang sekarang menjadi sahabatnya itu. Keluarga yang dia miliki saat ini.


" Maafkan mbak, yaa Rin.!" Mbak sudah egois dan menutup mata pada kenyataan yang ada.! Mbak akan restui kalian. Mbak percaya semua keputusan kamu adalah demi kebaikan kita semua!"


Satu kebahagiaan lagi bertambah, mbak Amira telah luluh untuk mengikhlaskan semuanya. Memulai lembaran kehidupan baru yang lebih baik. Tak akan ada rasa kecewa yang akan menutup matanya lagi.


**


Dihari minggu siang, Imam bersama kedua orang tuanya dan tentu saja Aisya datang kerumah untuk melamar Arini secara resmi. Sebuah lamaran yang tak dirasakan dulu waktu menikah dengan alm. Fai. Meski deg - degan, tapi Arini selalu tersenyum bahagia.


Begitu juga Imam yang nampak gagah saat itu. Terlihat jelas raut bahagia yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Semua orang pun nampak bahagia karenanya. Mbak Amira pun juga antusias dengan pernikahan ini. Tak ada lagi kekecewaan yang terpancar dari matanya.


Acara lamaran yang cukup sederhana, hanya dihadiri keluarga inti itu. Membahas hari dan tanggal pernikahan sekaligus. Bukan kah niat baik memang harus disegerakan. Acara yang akan berlangsung minggu depan.


Arini dan Imam sepakat akan mengadakan pernikahan secara sederhana di kediaman mbak Amira. Akad nikah yang langsung berlanjut pada acara walimahtul ursy.


" Gak sabar nunggu, minggu depan.!" kata Imam mengagetkan Arini yang masih sibuk mencuci piring didapur. Setelah makan siang bersama sebagai penutup acara hari itu.


" Iss, ngagetin aja kamu tuu mas.!" sahut Arini menoleh pada Imam yang bersandar pada lembari pendingin itu.


" Pasti lagi melamun yaa, sampai kaget gitu.?"


Arini melirik tajam pada Imam. Sedang Imam yang dilirik hanya terkekeh melihat raut wajah Arini yang menggemaskan.

__ADS_1


" Coba kalau udah halal, pasti seru bisa bantuin kamu nyuci piring, berdua.!"


Arini masih tak menjawab, tapi sebuah senyuman terbit di bibir Arini.


" Besok aja, yuuk Rin. Nikahnya!" goda Imam.


" Sabar donk, mas. Minggu depan yaa!" sekilas melirik Imam.


" Huuft...!" Imam menghela nafas kasar.


Arini melangkah, mendekat pada Imam. Setelah menyelesaikan pekerjaannya.


" Omes banget, dari kemarin yang dibahas cuma nikah terus.!" ucap Arini berdiri didepan Imam.


" Kok omes, mas kan ngajak nikah cepet, biar gak ada fitnah. Rin.!" bela Imam.


Arini pun terkekeh karenanya. Lalu Arini menjulurkan tangannya kedepan.


" Ehmmt, tadi bilang mas yang omes. Taunya kamu sendiri, belum halal Rin. Jangan pegang tangan mas dulu yaa!" goda Imam sambil menyeringai.


Arini pun membelalak, ingin rasanya menyubit lengan calon suaminya itu. Padahal bukan itu yang ingin dilakukan Arini. Sambil mendecak Arini menjelaskan maksudnya.


" Iss, aku mau ambil minum kali mas! Siapa juga yang mau pegang tangannya situ!"


" Terima kasih yaa, Rin!" ucap Imam setelah mendudukan diri di meja mengikuti Arini yang sedang minum segelas air putih itu.


" Untuk.?"


" Semuanya. Cinta kamu buat Aisya, kebesaran hatimu untuk memberi mas maaf dan kesempatan buat mas.!"


Arini tersenyum menatap kesungguhan Imam yang terpancar dari matanya. Entah mengapa Arini malah semakin tenggelam dalam sorot mata hazel milik Imam. Sorot mata yang benar - benar memancarkan ketulusan cintanya tak ada keraguan sedikitpun.


" Arini, sayang.!" panggil Imam yang menyadari keterdiaman Arini.


Arini pun mengerjabkan matanya beberapa kali. Mengembalikan kesadarannya. Namun, lagi - lagi Arini membeku saat merasakan sentuhan lembut di tangan kirinya.


" Astagfirullah.!" sentak Arini memukul tangan Imam yang dengan sengaja menyentuh punggung tangannya.


" Plakkk...!"

__ADS_1


" Aauu..!"


" Iih, mas Imam. Nyuri kesempatan aja nieh.!" sentak Arini merengut kesal. Sedangkan Imam terkekeh karenanya.


" Kan, udah dibilangin mas gak sabar nunggu minggu depan. Makanya besok aja, yaa ke KUA nya.!" goda Imam sambil menyeringai jail.


" Gimana kalau mas, khilaf lagi kaya barusan.?" sabung Imam.


Arini membulatkan matanya, ingin rasanya mencubit Imam sekeras mungkin.


" Awas aja, aku batalin nikahnya.!" gerutu Arini.


" Yakin mau dibatalin. Mas liat kamu udah mulai nyaman. Gak nyesel gitu, nantinya?"


" Mas Imam.!" tegur Arini yang mulai kesal itu.


Imam tertawa melihat ekspresi wajah kesal Arini. Menyadari Arini mulai benar - benar marah, Imam mendehem dan berusaha untuk serius.


" Rin, maaf yaa.! Mas cuma bercanda.! Gak mungkin mas lakukan itu lagi. Tadi mas pegang tangan kamu, karena sepertinya kamu gak memperhatikan kata - kata mas. Maaf yaa.!"


Arini masih diam memasang wajah cemberutnya. Bahkan memalingkan wajahnya kesamping kiri.


" Mas, sayang sama kamu.! Gak mungkin mas akan melakukan hal - hal yang membuat kamu tidak nyaman. Mas akan lakukan apa pun agar kamu kelak nyaman berada disisi mas.!"


Diam - diam Arini tersenyum tipis mendengarnya.


" Maukan maafin mas.?"


Arini menoleh pada calon suaminya, tersenyum sambil mengangguk pelan. Tak ada hal yang membahagiakan baginya selain kesungguhan dan ketulusan yang diberikan Imam padanya.


Tak pernah terbayangkan dalam benak Arini, akan dicintai oleh seorang laki - laki hingga cintanya sebanyak ini. Bahkan mungkin cintanya alm. Fa'i suaminya tak sebesar cintanya Imam kepadanya.


" Mas sadar, mas bukan yang pertama untukmu. Dan kamu juga bukan yang pertama untuk mas. Tapi, mas ingin kamu menjadi yang terakhir mengisi hati dan hidup mas. Begitu juga sebaliknya. Temani mas menjalani sisa hidup mas, yaa Rin.!" sambung Imam. Dan lagi - lagi hati Arini dibuat semakin tak karuan karenanya.


" Janji yaa, kita akan menua bersama setelahnya.!" kata Arini yang sangat terharu hingga membuat matanya mamanas sampai - sampai ingin menangis saja.


Imam tersenyum, berjanji akan menua bersama Arini. Sambil berdoa dalam hatinya. semoga Allah mengijinkan itu terjadi. Menua bersama, berjuang meraih segala ridho Ilahi hingga kesurga nanti.


Terima kasih sudah mampir. Semoga suka.

__ADS_1


Maaf karena bisa update bab baru. Karena beberapa hari ini rada eror.


Sehat selalu semua.


__ADS_2