Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
85. Pernikahan.


__ADS_3

Hari yang dinanti pun tiba. Imam begitu bahagia. Di dampingi Firman dan kedua orang tuanya. Juga tak ketinggalan Aisya, mereka telah sampai dikediaman mbak Amira dan mas Haris.


Sementara Arini yang masih berfikir akan menikah denga Firman. Terlihat murung dan sangat sedih. Padahal semua orang tahu, mempelai prianya adalah Imam bukan Firman. Terkecuali dirinya sendiri.


Arini sangat cantik dengan balutan kebaya moderen warna putih itu. Apalagi make up dan hijab yang simpel tapi elegan menambah keangunannya. Sayang wajah pengantin satu ini tak bahagia.


" Senyum donk, Rin! Nyesel nikah sama_ " kata mbak Amira yang terpotong oleh panggilan mas Haris yang memintanya keluar sebentar dari kamar Arini. Mbak Amira dan mas Haris memang sudah mengetahui semuanya. Karena kemarin Imam sudah memberitahu semua masalah diantara mereka.


" Bagaimana mau bahagia, dua kali aku menikah dengan orang yang belum benar - benar mencintaiku. Dua kali terpaksa menikah karena sebuah keadaan yang rumit.!"


Arini menahan air matanya agar tak jatuh. Mungkin memang inilah takdir yang harus dijalani pikir Arini. Apalagi pernikahannya yang kedua ini Arini sudah tak memiliki sanak keluarga sama sekali. Sedih memang.


Sementara Dibawah, Imam telah duduk di depan pak penghulu untuk mengucapkan ijab qabul. Meski bukan yang pertama. Tapi Imam sama gemetarnya seperti waktu dulu menikah dengan Alm. Sabina.


Saya terima nikah dan kawinnya Arini setyoningrum binti Soleh dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin........grm. Dibayar tunai.!


Dalam satu tarikan nafas, Imam pun lancar mengucapkannya.


Saaahhhh....


Teriak para saksi. Arini yang masih didalam kamar pun. Semakin ingin menangis mendengar teriakan para saksi itu.


Andai saja, kemarin Arini mau mendengarkan penjelasan Imam. Pasti saat ini dia sangat bahagia . Bukan malah merana dengan pikiran dan anggapannya sendiri.


" Yuuk, Rin. Keluar.!" ajak mbak Amira.


Arini menarik nafas dalam, gugup, sedih, kecewa campur aduk menjadi satu.


Mungkin ini mamang takdir yang telah digariskan padaku. Semoga saja, ada hikmah didalamnya. Lindungi setiap langkah hamba yaa Rabb.


Arini menuruni tangga bersama dengan mbak Amira dan penata rias yang mendandaninya. Semua mata takjub melihat pengantin wanita yang begitu cantik dengan balutan kebaya syar'i warna putih.


Sementara Imam yang duduk membelakangi tangga itu, nampak tak sabar melihat ekspresi Arini ketika tahu kenyataan yang sebenarnya.


Arini pun duduk disamping Imam dengan perasaan berkecambuk dalam hatinya. Kepalanya sedari tadi menunduk, belum siap menatap wajah laki - laki disebelahnya. Yang dia pikir adalah Firman.


Pak penghulu pun menyuruh, kedua mempelai untuk menandatangani buku nikah. Lagi - lagi Arini hanya menunduk tak membaca ataupun melihat buku itu. Seolah dia menandatanginya sambil memejamkan matanya.


Begitu juga saat sang mempelai laki - laki memasangkan cincin dijari manisnya. Arini masih setia menunduk. Imam yang melihat tingkah Arini menjadi gemas karenanya.

__ADS_1


" Heiii... Nyonya Imam Alfarizqi. Kenapa menunduk terus.?" bisik Imam sambil


mendaratkan sebuah ketjupan dikening Arini.


Deg,


Mendengar suara barusan seketika membuat tubuhnya membeku. Lalu diangkat kepalanya menatap kedepan.


Mata Arini membelalak. Jantungnya seakan meloncat keluar dari rongga dadanya. Saat melihat yang dihadapannya adalah laki - laki yang semula membatalkan penikahannya dan membuat harapannya sempat hancur.


" Mas Imam!" ucapnya lirih dengan mata berkaca - kaca. Pada akhirnya pandangannya menjadi gelap dan tubuhnya terkulak lemas - pingsan.


" Rin, Arini.!" panggil Imam yang dengan siga menangkap tubuh Arini hingga tak tersungkur kebawah.


Suasana menjadi sedikit riuh karenanya. Mbak Amira dan ibu Dewi pun mendekat untuk melihat keadaan Arini.


Tapi, bukankah sungguh lucu. Pengantin wanitanya pingsan setelah dicium keningnya oleh sang pengantin pria.


Setelah beberapa menit Arini tak kunjung sadar, Imam pun dengan tangan kokohnya menggendong Arini dan membawanya kekamar yang paling dekat dari halaman belakang.


Sementara mbak Amira dan Ibu Dewi mengikutinya. Undangan yang hadir pun hanya bisa tersenyum melihat kejadian langka seperti itu.


Tak lama Arini mulai membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju pada Imam yang duduk dihadapannya.


" Alhamdulilah kamu sudah sadar, Rin!" kata Imam dan mbak Amira bersamaan.


Perlahan Arini beringsud untuk duduk. Dibantu Imam, Arini duduk bersandar pada headboard. Meski kepalanya masih sedikit berat.


" Ini diminum dulu!" kata Ibu Dewi.


Lalu mbak Amira dan Ibu Dewi keluar dari sana. Memberi waktu kepada pengantin baru itu untuk saling berbicara dan menyelesaikan masalah diantara mereka.


" Masih pusing?" tanya Imam sambil meletakkan gelas itu diatas nakas.


Arini hanya diam menatap dingin pada Imam yang tersenyum manis pada istrinya itu.


" Bingung, Yaa!" pelan Imam sambil meraih tangan Arini, tapi ditepi olehnya.


" Salah sendiri, kemarin pas mas jemput disekolah kamu malah lari. Dan gak mau dengerin penjelasan Mas.!"

__ADS_1


Arini mengerutkan keningnya,


" Waktu itu, mas mau menjelaskan semuanya sayang.!" kata Imam berusaha kembali meraih tangan Arini untuk digenggam. Dan kali ini Arini tak menolaknya.


Imam pun menjelaskan semua yang telah terjadi. Jujur bahwa Andu yang menculik Aisya dan memintanya untuk membatalkan pernikahannya. Juga mengenai rencana Firman juga.


Bahkan Imam juga mengatakan kalau semua orang sudah tau mengenai hal ini.


" Jahat.!" sentak Arini memukul pelan dada bidang Imam. Sementara yang dipukul hanya terkekeh, gemas melihat sikap Arini yang saat ini dia yakini sedang merajuk.


" Tapi, suka kan aku jahatin kaya gini?" goda Imam menyeringai. Arini memutar bola matanya jengah.


" Sini peluk.!" titah Imam.


" Gak." sentak Arini pura - pura masih kesal. Walaupun sejujurnya dia bahagia karena ketakutannya sejak kemarin tidak terjadi padanya. Hanya saja hatinya masih sedikit kecewa pada laki - laki yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu.


" Dosa lho, nolak suami.!" kata Imam, lalu dengan cepat tanpa mendengar persetujuan Arini. Imam sudah menarik kedalam pelukannya.


Diam - diam Arini tersenyum disana. Dekapan hangat dada Imam, seketika membuatnya terasa nyaman disana. Arini bisa merasakan kehangatan dan ketulusan cinta Imam dari detak jantung yang dia dengar.


" Kalau mau marah, marah saja Rin. Mas terima kok. Asal kamu jangan meminta mas membatalkan pernikahan ini karena pak penghulu masih disani.!"


Bukannya menjawab Arini malah melingkarkan tangannya kebelakang tubuh Imam. Sambil memejamkan matanya, menikmati dekapan hangat itu. Lalu menggeleng samar disana.


" Terima kasih, sudah memberi mas kesempatan lagi.!" kata Imam melepaskan pelukannya.


Ditatapnya wajah Arini yang tersenyum manis itu. Lalu mencium keningnya mesrah.


" Terima kasih juga, mas sudah mau mempertahanku dan tak melepaskan aku untuk orang lain.!"


Imam dan Arini pun keluar dari kamar itu, menuju halaman belakang. Tempat dimana acara masih berlangsung.


Bahagia, malu dan tak menyangka campur aduk menjadi satu. Meski sorak - sorai dari tamu membuat Arini sangat malu. Tapi, dirinya tetap tersenyum bahagia.


Menjadi ratu sehari, pengalaman pertama untuk Arini yang dipernikahannya terdahulu. Tak dia rasakan.


Terima kasih, sudah mampir.


Gimana bahagia kah. Atau masih kurang.? Mau ditamatin sekarang, masih sayang sama pasangan ini. Padahal awalnya naskah yang saya buat hanya sampai pernikahan Imam dan Arini. Bingung Authornya.!

__ADS_1


Sehat selalu semua.


__ADS_2