Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
41. Hormon kehamilan


__ADS_3

Fa'i tersenyum mendekati istrinya itu. Arini langsung memalingkan wajahnya dari tatapan sang suami.


Fa'i terkekeh dan terus mendekati Arini yang memundurkan langkahnya karena perasaan yang campur aduk antara bersalah dan kesal.


Druggg...


Langkah Arini terhenti saat dirasa punggungnya merapat pada almari dibelakangnya.


Fa'i menatap Arini begitu intens, dari bibirnya tersungging senyuman jail yang seolah siap untuk menggoda sang istri yang sedari tadi menunduk malu dan berusaha menghindari tatapan mata itu.


" Makanya gak usah berencana untuk jailin mas, mas pasti akan tahu." Ujar Fa'i menyelipkan telunjukkan diantara ribuan helai rambut panjang Arini.


Arini menghembuskan nafasnya pelan, mencoba mengendalikan debaran jantungnya yang bekerja keras karena tindakan Fa'i yang begitu intens.


" Iyaa, mas Fa'i pasti tahu dari Sabina kan. Sudah kuduga, pasti ada konspirasi antar saudara kan." Celetuk Arini dengan wajah dibuat sedatar mungkin menatap suaminya, agar dia percaya kini Arini benar - bebar kesal pada Fa'i.


" Belum juga genap dua bulan kamu didalam sini sayang. Tapi, mengapa Ibumu jadi sosok yang posesif dan terlalu sensitif gini sih." gerutu Fa'i sambil mengelus - elus perut Arini yang masih rata itu.


Arini memejamkan matanya , menghirup nafas dalam lalu menghembuskan melalui mulut.


" Nggak usah pura - pura marah, kamu tuu gak cocok bersikap seperti Sabina. Marah aja gak cocok apalagi pura -pura." sambung Fa'i sambil menyelipkan rambut Arini kebelakang telinganya. Arini semakin terpojok karenanya.


Fa'i melihat guratan rahang Arini yang mengeras diwajahnya. Menandakan dia sedang merapatkan gigi atas dan bawahnya karena suatu perasaan kesal yang mungkin kini memenuhi hati seorang Arini.


" Sudahlah, sekali lagi maafkan mas yaa...!" Ujar Fa'i lembut yang merasa kasihan pada istrinya yang wajahnya terlihat merah padam menahan segala amarah.


Entah karena masalah kesalahpahaman kemaren atau karena adanya konspirasi saudara. Antara dirinya dan Sabina.


Atau karena hormon diawal kehamilan yang membuat emosi Arini naik turun tak terkendali seperti sekarang ini.


" Nggak baik untuk kehamilan kamu sayang, udahan yaa marahnya." Fa'i kembali melanjutkan kata - katanya, jemarinya mengelus pipi Arini dengan lembut.


" Apa betul kata mas Fa'i kalau aku perasaan dan sikap berubah posesif , dan sensitif pada apapun. Dan mengapa aku jadi suka marah gak jelas gini.. Astaqfirullahhalazim Ampuni aku yaa Rabb."


Arini menundukan wajahnya seketika rasa bersalahnya membuat malu dirinya untuk sekedar memandang wajah sang suami

__ADS_1


Merasa bersalah karena tak mampu mengendalikan emosinya, malah semakin menuruti hawa nafsu yang pasti semakin diperkeruh oleh bisikan - bisikan setan yang menyesatkan.


" Maaf, " Ucap Arini pelan mencoba mengumpulkan segala keberaniannya untuk menatap wajah tampan sang suami.


" Kamu gak salah sayang. Wajar kamu bersikap seperti ini karena kamu tengah hamil. Mungkin hormon - hormon kehamilan kamu sedang menyesuaikan kerja tubuh kamu sayang. Makanya emosi kamu tak terkendali. " jawab Fa'i menyisir rambut didahi Arini dengan jemari kirinya.


" Yang mas tahu, Arini istri mas adalah wanita berhati lembut dan penyayang gak mungkin cinta sejati mas ini akan tahan lama - lama marah pada suaminya yang sangat tampan ini." sambung Fa'i mencoba menggoda Arini agar kembali tersenyum.


" Kok mas jadi narsis sih..?" tanya Arini yang akhirnya tersenyum meski masih malu - malu.


" Yaa, mau gimana lagi. Istri mas saja berubah jadi agak jail juga sih."


Fa'i menarik Arini dalam dekapannya mengecup puncak kepala Arini yang ditutupi ribuan helai rambut hitam nan panjang itu.


" Tapi, sayangnya mau jailin mas dengan pura - pura masih marah gagal deh. Kasian yaa."


" Massss..." ucap Arini menampakkan wajah cemberut, merenggangkan pelukan suaminya sambil memukul ringan dada kiri sang suami tercintanya.


Arini merasa malu dengan tingkah kekanak - kanakannya itu. Pipinya yang putih dengan kemerahan nan halus itu kini semakin merona, cantik sekali. Seperti julukan untuk Aisyah istri baginda Nabi Muhammad yaitu Humairah..


Arini lalu tersenyum menampakan deretan gigi putihnya, manis sekali. Hingga bisa diabet kalau kelamaan melihatnya.


" Huufff..."


Fa'i menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya ada sesuatu dalam dirinya yang dia tahan ketika menatap wajah cantik sang istri yang dihiasi senyuman yang begitu manis itu. Entak apa yang bergejolak disana hanya Fa'i yang merasakan dan Allah yang tahu.


" Tahan Fa'i, tahan. istri kamu dalam kondisi yang belum setabil. Biarkan kehamilanya cukup kuat dulu." gumah Fa'i mencoba untuk menghalau pikiran dan suatu rasa yang bangkit dari dalam dirinya.


" Ada apa ?" tanya Arini yang melihat perubahan mimik wajah suaminya itu. Juga nafas kasar yang dihempaskan lewat mulutnya.


" Haaah... Tidak ada apa - apa. Hanya saja senyum kamu itu selalu saja meruntuhkan pertahanan mas, sayang.!"


Mendengar jawaban Fa'i membuat wajah wanita itu semakin dibuat merona merah, sudah seperti buah tomat saja pipi kamu Arini.


Senyumnya semakin melebar dan menunduk malu dibuatnya. Aduh, membuat sang suami jadi tambah semakin gemes saja.

__ADS_1


Lagi - lagi Fa'i menghela nafasnya dari mulut, dadanya semakin lantang berdetak tak terkendali, desiran darahnya semakin mengalir keseluruh tubuhnya.


" Udah, donk sayang senyumnya. Jangan buat mas jadi panas dingin gini.!" ucap Fa'i memelas sambil membelai rambut panjang istrinya.


" Ekhemm.... "


Arini mendehem sambil menahan senyum yang susah untuk dihilangkan dari bibirnya. Apalagi ekspresi wajah Fa'i membuatnya semakin ingin tersenyum, tertawa malahan kalau diizinkan.


" Agaknya mas harus sering menggoda kamu supaya kamu selalu tersenyum dan emosi kamu gak naik turun lagi.!"


" Emangnya mas kuat kalau aku senyum terus..." Kata Arini sengaja berbalik menggoda suaminya itu.


" Yaa harus ditahan, dari pada hati mas sakit liat kamu nangis. Kan mending tahan diri dari senyum kamu itu.!"


Arini kembali tersenyum saat kepalanya telah terbenam didada bidang suaminya.


" Rin, "


" Hemmt "


Fa'i kembali menghembuskan nafasnya kasar dan masih berusaha menahan hasrat dalam dirinya.


" Kalau hanya sekedar c*um saja boleh yaa. Gak akan masalah pada kandungan kamu."


Kelihatanya Fa'i memang sedikit kesulitan menghadapi dan menahannya yaa...


Arini yang mengerti langsung mengangguk. Meskipun wajahnya kembali merona mendengar kata - kata Fa'i yang agak menjurus itu.


Merasa mendapat lampu hijau membuat Fa'i tak sabar untuk melancarkan aksinya. Yaa memang harus benar - benar terkendali supaya tidak kebablasan. Karena saat seperti itu sering kali orang akan lupa diri.


Apa pun itu Fa'i sudah bertekad untuk menjaga diri dan cintanya hanya untuk Arini. Tak akan menyakiti ataupun membiarkan Arini menangis karena sebuah kesalahfahaman yang harusnya bisa dihindari dengan komunikasi yang baik dan tentunya saling percaya.


Terima kasih sudah mampir jangan lupa like, Comment dan vote yaa...


Sehat selalu semua. dan jangan lupa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2