
Hari - hari begitu terasa begitu indah dilalui pasangan yang sedang dimabuk cinta itu. Sosok Arini yang berubah manja pada sang suami pun, Selalu membuatnya tercengang, memang semenjak hamil Arini selalu bergelayut manja dan bertingkah kekanakan pada sang suami.
Seperti pagi itu selesai sholat subuh berjamaah tadi, Arini berlama - lama dipangkuannya sambil memeluk pinggangnya. Walau merasa aneh dengan sikap sang istri. Tapi, Fa'i merasa itu sangat menggemaskan.
" Mungkin memang benar kata orang, wanita yang tengah hamil sering kali bertingkah aneh - aneh." batin Fa'i yang sedari tadi memperhatikan sang istri yang punya kebiasaan baru, yaitu memaksa Fa'i kerumah sakit dengan berkemeja lengan panjang lengkap dengan dasi.
Padahal dari dulu Fa'i sangat jarang memakai dasi saat bekerja. Tapi, demi sang istri Fa'i pun hanya bisa pasrah.
" Sudah selesai mas..." ucap Arini yang mengusap dada bidang suaminya kala dasi itu telah terpasang rapi ditempatnya.
" Ehmmmt, sekarang naik berapa tingkat ketampananku..." sahut Fa'i setelah melihat dirinya didepan cermin itu.
" Kamu tetap yang paling tampan didunia ini mas..!" jawab Arini yang bergelayut manja dipelukan sang suami. Fa'i pun tersenyum mengecup puncuk kepala istrinya.
" Mas udah daftarin untuk kamu periksa hari ini. Nanti, kerumah sakitnya jam 10. Biar mas bisa nemenin.!"
" Kalau mas nemenin, bisa heboh tuu rumah sakit. Secara banyak perawat yang naksir mas kan."
Fa'i hanya tertawa mendengar perkataan sang istri. Hingga membuatnya teringat pada beberapa dokter perempuan, perawat dan staf rumah sakit. Yang secara terang - terangan menyatakan perasaan mereka.
Tepat pukul 10, Arini sampai didepan poliklinik Obgyn rumah sakit XY. Ini kali ketiga dia periksa kehamilannya. Sekarang usia kehamilannya sudah memasuki trimester kedua. Trimester pertama yang penuh dengan tantangan, akhirnya terlewati juga.
Tuk.... tuk... tuk...
suara cepat sepasang langkah kaki yang menggema dikoridor rumah sakit. Membuat setiap pasang mata menoleh pada sosok seorang dokter tampan, yang masih menggunakan baju OK berwarna biru.
Yaa, dia adalah dokter Fa'i yang baru saja menyelesaikan tugasnya diruang operasi, beberapa saat yang lalu.
Sambil sesekali tersenyum, dokter yang sedari tadi menjadi pusat perhatian itu , melihat beberapa notifikasi pesan dalam ponselnya.
" Eehh, liat - liat itu dokter Fa'i. Dokter paling tampan disini.!" Ujar seorang pasien yang duduk dibelakang Arini, saat menunggu didepan poliklinik Obgyn itu.
Arini tersenyum tipis mendengar nama suaminya disebut. Lalu menoleh kekanan melihat sosok laki -laki yang tersenyum padanya.
Tapi, lagi - lagi telinganya menangkap pembicaraan mengenai suaminya.
__ADS_1
" Dia berjalan kesini, aduh senyumnya pasti meleleh deh aku." celetuk wanita berambut pendek itu.
" Mau donk, jadi istrinya." timpal wanita disebelahnya.
Arini terkekeh geli mendengarnya. " Ternyata banyak juga yang naksir suamiku.. hhh." batin Arini sambil geleng - geleng kepala.
Saat itu Fa'i telah sampai didepannya, memandang serius wajah sang istri yang melirik kebelakang. Melihat ekspresi kedua wanita yang dari tadi mengagumi suaminya.
Dan tepat seperti dugaanya, mereka kaget sampai - sampai tak berkedip melihat Fa'i didepan Arini. Arini tersenyum geli melihat ekspresi mereka.
" Eehhh, melihat apa kamu? Sampai aku datang malah tak kamu hiraukan!" ujar Fa'i yang kini duduk samping Arini dengan wajah yang masih menatap istrinya itu.
" Huuh, tidak kok mas. Kamu kok masih pakai OK sih mas?"
" Mas baru aja selesai operasi, sayang. Terus langsung kesini, mas tidak mau kamu menunggu sendirian.!"
Arini tersenyum kala suaminya itu mengelus perutnya yang kini mulai membuncit. Sementara dua wanita dibelakangkanya itu tak mampu berkata - kata melihat hal romantis didepannya.
Semua mata pun mengarah pada pasangan itu. Entah apa yang membuat mereka tertarik melihat keromantisan pasangan ini.
" Ibu Arini. Sil_" kata - katanya seolah tertelan ditenggorokanya saja kala melihat sosok dokter Fa'i disana bersama seorang wanita cantik yang tengah hamil.
Maklumlah ini kali pertamanya menemani sang istri periksa kehamilan. Bukan karena apa. Namun kesibukan dan jadwal operasi, yang kerap kali berbeturan dengan jadwal pemeriksaan kehamilan istrinya.
" Dokter Fa'i, jadi ibu Arini istri anda.?" tanya perawat itu yang dari name tagnya bertuliskan Dina.
" Iya, ini istri saya. " jawab Fa'i sambil menggandeng tangan istrinya. Lalu masuk kedalam bilik poliklinik itu.
Dina yang masih tak menyangka apa yang dilihatnya ini benar atau hanya halusinasinya saja, tetap mematung disana.
" Assaamualaikum, dok." sapa Arini saat dokter cantik itu masih sibuk dengan ponselnya. Dan tak menyadari kedatangan pasiennya.
" Walaikumsalam.." Jawab dokter itu mendongakan kepalanya.
Lagi - lagi Arini dan Fa'i harus melihat raut wajah kaget itu lagi.
__ADS_1
" Benar kata Arini tadi pagi, rumah sakit akan heboh karena ini."
Batin Fa'i yang berusaha menahan tawa melihat ekspresi kaget pada wajah dokter Rahma. Melebihi ekspresi perawat Dina tadi.
Yaa maklum saja Dokter Rahma salah satu wanita, yang berani secara terang - terangan mengatakan perasaannya pada dokter Fa'i.
Suasana pemeriksaanpun menjadi canggung, meski kini Dokter Rahma telah berkeluarga. Tapi, kenangan penolakan yang cukup memalukan dua tahun lalu seketika menyergap begitu saja.
Selesai pemeriksaan yang dibubuhi sedikit drama kejutan itu, mereka berjalan keluar dengan buncak kebahagiaan yang tergambar diwajah mereka. Fa'i menautkan jemarinya pada jemari Arini, mengajaknya menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang ganti. Tempat dimana Fa'i biasa menganti pakaianya itu.
Saat perjalanan itu, semua pasang mata melihat mereka dengan penuh tanya, serta kehebohan dalam pikiran masing - masing.
" Yaa, patah hati Gw. Ternyata istri dokter Fa'i cantik bener. " celetuk perawat dengan name tag bertuliskan Lisa.
" Heemt, benar - benar cantik. Pantes saja perawat Nindy hingga dokter Rahma ditolaknya. Jauh jika dibandingkan dia." timpal perawat yang satunya.
" Ooo, jadi dokter Rahma juga sempat naksir mas Fa'i. Pantas dia kaget banget tadi."
Batin Arini melirik pada suaminya yang tengah menerima telfon dari seseorang.
" Sayang, maaf aku harus segera keruang operasi. Sabina harus melahirkan sekarang juga." ucap Fa'i setelah menutup telfonnya dan wajahnya berubah panik itu.
" Terus bagaimana keadaannya.?"
" Kamu tenang yaa dia baik - baik saja. Kamu ke depan ruang operasi saja. Disana ada Umi dan Abi juga yang lainnya."
Arini pun menganggukan kepala tanda mengerti. Sementara Fa'i langsung berlari duluan, setelah tadi mengecup kening Arini.
Terima kasih semua, maaf menunggu. Beberapa hari tidak bisa up niih.
Dan maaf juga mungkin beberapa waktu kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya. Kerena harus merevisi bab - bab sebelumya dulu. Maafkan Authornya. yaa.
Author akan secepatnya menyelesaikan semuanya. Jangan pernah bosen yaa.
Terima kasih. sekali lagi mohon maaf.
__ADS_1
Semoga sehat selalu dan bahagia yaa.