
" Mau, makan.?" tanya Imam sambil berjalan mendekati nakas yang berada disebelah kiri Arini.
" Boleh, " jawab Arini mengangguk.
Imam lalu membuka kotak makanan yang berisikan nasi merah lengkap dengan sayur dan lauk. Lalu diletakkan didepan Arini.
Tapi, Arini nampak bingung cara memakan makanan itu. Tangan kanannya masih sangat sakit untuk digerakkan. Sementara tangan kirinya terpasang infus.
" Kenapa gak suka yaa,?" tanya Imam.
Arini menggeleng lalu mengigit bibir bawahnya. Tidak mungkin dirinya memberitahu atau bahkan meminta tolong Imam. Untuk membantunya makan.
Imam yang sedari tadi memperhatikan gerak - gerik Arini pun mengerti. Apalagi melihat Arini yang kesulitan untuk makan itu. Imam yang semula duduk disofa, beranjak mendekati Arini.
" Bisa aku bantu.?" tanya Imam berdiri didepan Arini.
" Huuh, " Arini kaget, wajahnya seketika berubah sangat menggemaskan.
" Boleh aku menyuapimu.?"
" Haah, jangan.! Tidak apa - apa, aku akan makan pelan - pelan. Lagi pula kita bukan mahram jadi tidak baik melakukannya. " jawab Arini menunduk, enggan menatap Imam setelah kejadian tadi.
Imam merasa malu pada Arini, karena tak menyangka dirinya malah terbawa perasaan terdalamnya. Sampai lupa, bahwa wanita yang dicintainya adalah wanita sholehah yang sangat menjaga dirinya dari hal yang dilarang olah Allah SWT.
" Maaf, bukan maksud saya _" kata - kata Imam seperti tertelan dikerongkongannya. Karena merasa sangat malu dan tak enak hati pada Arini. Sementara Arini hanya tersenyum sambil terus menahan nyeri saat menggerakkan tangannya.
Imam yang melihat Arini meringis menahan nyeri ditangannya, bergegas keluar dari sana. Entah kemana tak bilang apapun pada Arini.
Tak lama Imam kembali bersama seorang suster senior yang kira - kira berumur 45 sampai 50 tahun. Arini menatap bingung,
" Rin, makannya biar disuapin sama suster Ratih yaa.!" kata Imam satelah mengucapkan salam dan berdiri tepat didepan Arini.
" Suster Ratih, bisa bantu kan?" sambungnya, menoleh pada suster Ratih yang telah duduk disisi kiri Arini.
" Bisa kok, Dok.!" Suster itu tersenyum penuh arti sambil menatap Arini dan Imam bergantian.
Arini pun tersenyum sungkan, sambil menerima suapan pertama dari suster baik hati itu. Sementara Imam memilih untuk duduk disofa dekat dengan Aisya.
" Makanya Dok, cepet dihalalin biar bisa bebas kalau mau nyuapin kaya gini.!" celetuk suster Ratih bermaksud menggoda mereka berdua.
" Uhuuk...uhuuuk.!" Arini sampai tersedak mendengarnya, sementara Imam hanya terkekeh.
Suster Ratih pun mengambil segelas air minum yang ada dinakas itu. Lalu memberikan pada Arini. Senyumnya masih mengembang juga menggoda Arini dan Imam yang nampak malu - malu.
Imam bingung harus menjawab apa dan bagaimana supaya suster Ratih tak salah sangka pada hubungannya dengan Arini.
__ADS_1
" Maunya juga langsung dihalalin. Tapi, apa Arini bersedia menerima ku.?"
Setelah selesai, Suster Ratih pun pamit. Arini dan Imam pun mengucapkan terima kasih. Waktu sudah menunjukan hari telah sore. Tetapi, mbak Amira belum juga datang. Dihubungi juga gak bisa.
Imam sedikit bingung, siapa yang akan menjaga Arini nanti malam. Aisya pun bangun dari tadi. Sekarang sedang bermanja - manja dengan Arini.
" Mas," panggil Arini
" Ya, " sahut Imam menoleh.
" Ehhmt, apa nggak lebih baik mas Imam dan Aisya pulang dulu. Nggak baik Aisya terlalu lama dirumah sakit.!"
" Tapi, mbak Amira belum datang. Siapa yang bakal jagain kamu, Rin?"
" Aku gak apa - apa kok. Kasihan Aisya.!"
" Aku nggak apa - apa kok, bunda. Aku mau nemenin bunda aja disini.!" sahut Aisya cepat.
Arini pun tersenyum menatap mata polos Aisya. Lalu menasehati dengan lembut, supaya Aisya mau pulang. Imam pun tersenyum bahagia melihat kedua perempuan yang berarti dihidupnya itu.
" Bagaimana aku tidak semakin mencintai kamu, Rin."
Akhirnya Aisya pun menuruti Arini untuk pulang dulu. Dengan berat hati juga, Imam meninggalkan Arini disana sendirian. Tak tega sebenarnya, tapi Imam sudah memberitahu suster Ratih yang masih berjaga disana sampai malam. Untuk sesekali melihat keadaan Arini.
Tetapi, lagi - lagi suster Ranti menggoda Imam. Yang sukses membuat Imam salah tingkah seperti anak ABG yang baru mengenal cinta.
Sementara Imam hanya terkeke, tak tahu harus menjawab apa.
***
Malam itu selepas Isya, Imam kembali melajukan mobilnya kerumah sakit lagi. Hati dan pikirannya tak tenang memikirkan Arini yang sendirian disana.
" Assalamualaikum, " sapa Imam begitu membuka pintu dan masuk keruang rawat Arini.
" Walaikum salam, " jawab Arini yang baru saja selesai menjalankan sholat Isya diatas bankarnya.
" Eh, mas kok balik lagi. Nggak sama Aisya kan?" tanya Arini melihat kearah pintu, memastikan Aisya tak dibawa kerumah sakit lagi.
" Nggak, aku tahu. Tidak baik Aisya kesini." jawab Imam meletakkan dua gelas plastik berisikan wedang jahe hangat kesukaan Arini.
" Sini, biat aku yang lipat mukena kamu.!" Sambung Imam mengulurkan tangannya mengambil mukena di pangkuan Arini.
Arini pun tersenyum canggung, dan sedikit ragu menyerahkan mukenanya itu. Diam - diam Arini mencuri pandang mematap wajah manis laki - laki yang berdiri disampingnya itu.
Hatinya terasa menghangat melihat perlakuan tulus Imam padanya. Tanpa disadari kedua ujung bibirnya tertarik keatas membuat sebuah senyuman bahagia.
__ADS_1
Tanpa disadari pula perhatian yang diberikan Imam menyentuh hatinya.
Imam yang melihat Arini tersenyum sambil mengalihkan padangannya dari dirinya, ikut tersenyum tanpa disadari oleh Arini.
" Gimana udah ada kabar dari Mbak Amira ?" tanya Imam, duduk dikursi sebelah kiri Arini.
" Heemt, mbak Amira gak bisa datang. Sarah lagi demam dan mas Haris masih dirumah orang tuanya. Besok baru bisa kesini kalau mas Haris sudah pulang." jawab Arini duduk bersandar sambil mengenggam ponselnya.
Imam mengangguk kemudian bangkit dari duduknya mengambil wedang jahe yang dia bawa tadi. Satu diberikan pada Arini dan satu untuk dirinya sendiri.
" Tau dari mana, kalau aku suka wedang jahe.?" tanya Arini setelah menerima dan meminumnya sedikit karena masih panas.
" Apa sih yang gak aku tahu.?" jawab Imam santai, tapi membuat Arini merasa tersipu.
" Ehhmt, boleh tanya sesuatu gak, Rin?" tanya Imam ragu.
Arini mengangguk, pelan lalu menyeruput kembali minumannya.
" Kotak cincin berwarna biru, dilaci itu punya kamu.?"
Imam mengira Arini akan kaget dan marah karena dirinya telah lancang mencampuri urusan pribadinya. Tetapi, alih - alih marah. Arini justru tersenyum menatap Imam sekilas.
" Itu dari Pak Andi. Tadi siang dia melamar ku."
Deg,
jantung Imam serasa copot dari tempatnya. Ada rasa sakit dan kecewa dihatinya. Perih. Terlihat jelas wajahnya yang kaget dan berubah pucat.
" La _ lalu apa kamu menerimanya.?" tanya Imam terbata menahan nyeri dihatinya.
Arini menggeleng lantas tersenyum sambil menundukkan wajahnya.
" Aku masih bingung mas, awalnya aku sudah menolak dengan alasan aku belum siap untuk menikah lagi. Tetapi, dia memintaku untuk memikirkannya sekali lagi. Dan sampai kapan pun dia akan menunggu aku siap untuk menikah lagi." Arini menghela nafas dalam, sebelum melanjutkan ceritanya.
" Kamu tahu mas,? Mas Firman sudah terlebih dulu sudah melamarku seminggu yang lalu."
Hati Imam bertambah perih begitu pula dadanya terasa sesak. Namun, dirinya sadar siapa dirinya dimata Arini. Makanya Imam berusaha menenangkan dirinya dan rasa sakit dihatinya.
" Apa karena Firman kamu menolak Andi?"
Arini menggeleng, sejujurnya dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Apalagi perhatian Imam siang ini benar - benar membuatnya semakin bingung.
Terima kasih, sudah mampir dan membaca.
Semoga suka yaaa.
__ADS_1
Sehat selalu semua...