
Tepat dihari ke sepuluh, keadaan Fa'i semakin memburuk. Semalam detak jantungnya sempat mendadak berhenti, hingga membuat kepanikan semua perawat dan dokter.
Beruntung detak jantungnya kembali selang beberapa saat.
Aruni berjalan cepat setelah menjalankan perintahNya siang itu. Mendadak perasaannya mengatakan ada hal yang tidak beres pada suaminya.
Langkahnya kembali terhenti ketika dia tiba didepan pintu ruang rawat suaminya. Dan melihat mbak Amira juga mas Haris menangis disana.
Arini melangkah kembali, mbak Amira membalas tatapan Arini lalu menggelengkan kepala, samar. Arini mengabaikan isyarat dan tatapan itu. Berharap apa yang terjadi sekarang tidak lebih buruk dari seperti tadi malam.
Hingga akhirnya Arini menerobos masuk kedalam ruangan itu. Untuk sekian kali hatinya hancur bersama rasa tak percaya, ketika menyaksikan dokter mulai melepas alat bantu medis yang semula melekat pada tubuh Fa'i sebagai penopang hidupnya.
" Apa yang kalian lakukan!" senatak Arini menangis histeris.
" Hentikan ! Saya mohon jangan lakukan itu, suami saya masih membutuhkan alat itu. Saya yakin dia akan bangun dan membuka matanya."
Beberapa suster dan mbak Amira mencoba menahan Arini agar tak mendekat.
" Kembalikan! Tolong kembalikan.! Teriaknya dengan frustasi.
Arini yang ditarik menjauh oleh mbak Amira dan mas Haris kembali memberontak, berlari. Lantas memeluk tubuh Fa'i dengan kedua tangannya.
" Mas, jangan bercanda mas. Aku tahu mas marah padaku. Tapi, jangan tinggalin aku dengan cara seperti ini. Aku salah dan mas belum memaafkan aku, mas. Mas bangun mas.!"
" Maafin aku mas, kamu harus memberiku maaf dulu sebelum kamu pergi. Tolong jangan tinggalkan aku seperti. Aku mohon.!"
Mbak Amira kembali meraih bahu Arini sambil terisak.
" Kamu yang sabar yaa, Rin.!"
__ADS_1
" Lepaskan mbak, lepaskan aku.!" elaknya.
" Mas bangun, jika mas pergi bagaimana dengan aku? Apa mas tega meninggalku sendiri dan melihatku dengan penyesalan ini? Aku mohon mas, bangun. Bangun mas.!"
Seolah ucapanya tak didengarkan oleh orang - orang disana, kali ini semua orang mencoba menarik Arini, menjauhkan dia dari suaminya.
" Tolong dia, aku mohon. Tolong!" pintanya memohon sambil terus terisak.Tak ada satu orang pun yang menjawab.
" Mbak, tolong mas Fa'i. Hentikan mereka mbak.!"
Mbak Amira hanya menatap nanar penuh iba pada Arini. Hatinya juga hancur melihat adik satu - satunya harus pergi selamanya.
" Mas Haris aku mohon. Aku yakin, mas Fa'i pasti bangun. Aku mohon sekali saja, tolong suruh mereka kembalikan alat - alat itu, mas. Aku mohon."
Arini berlutut dan menagkupkan kedua tangan didadanya. Memohon pada mbak Amira dan mas Haris disana. Namun, mereka berdua hanya menggeleng pasrah.
" Dokter tolong, Aku mohon.!"
Para medis pun menatapnya dengan tatapan iba. Seolah apa yang sedang terjadi saat ini, sudah terlalu sering mereka lihat dan hadapi. Lalu mereka kembali melanjutkan tugasnya dengan melepas alat - alat bantu medis itu.
Isakan tangis Arini kian menjadi disertai teriakan histeris memohon. Namun, apa daya semua sia - sia saja. Dirinya harus merelakan semuanya.
Arini jatuh kelantai terkulai lemas karena tenaganya telah habis untuk memberontak dan berteriak memohon. Salah apa hingga Allah memilih untuk mengambil Fa'i dengan cara seperti ini.?
Arini tak lagi mampu meronta, hatinya telah hancur dan patah untuk kesekian kalinya. Namun, dia masih sanggub melihat dengan jelas tim Dokter melepas satu persatu alat medis yang sempat terpasang pada tubuh suaminya. Sambil berkata,
" Waktu kematiannya.!"
Sejatinya kematian adalah rencana dan takdir yang telah tertulis pada setiap makhluk yang bernyawa. Tapi, yang terjadi pada Dokter Rifa'i sungguh tragis dan mengiris hati. Kematiannya melalui perantara tangan tim dokter yang menanganinya. Seolah merekalah yang mencabut nyawanya.
__ADS_1
**
Dalam keheningan disebuah ruangan bercat putih, Arini mendekat pada sebuah bankar rumah sakit. Hatinya remuk redam melihat sebuah tubuh lelaki tercintanya terbujur kaku tak bernyawa dan tertutup kain putih.
Sambil menahan tangis yang hampir pecah lagi, Arini membuka kain yang menutupi wajah suami tercintanya. Tangannya yang bergetar perlahan menariknya. Arini memejamkan matanya seolah tak kuasa melihat wajah itu.
Wajah tampan yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Kini mata yang selalu menatapnya penuh cinta telah tertutup selamanya.
Bibir merahnya telah membiru, dan tak mungkin Arini bisa melihat senyum darinya. Senyum lelakinya yang selalu membuat dirinya merona.
Dengan tangan yang bergetar hebat, untuk sekali saja Arini menyentuh wajah rupawan itu.
Maafkan aku yaa, mas. Semoga kelak diakhirat nanti kita kembali dipersatukan, memadu kasih bersama. Aku mencintaimu mas,
Pelahan Arini menundukkan wajahnya, mencium wajah itu untuk terakhir kalinya. Lalu beralih mencium punggung tangan kanan Fa'i cukup lama.
Arini sadar tak akan mampu melawan takdir Ilahi. Jika memang ini yang ditakdirkan sang pencipta, maka dirinya akan menerima dengan ikhlas.
Berat memang, namun harus percaya rencana Allah akan jauh lebih indah untuknya. Arini percaya akan ada hikmah dari segala cobaan dalam hidupnya.
Meski kini dirinya sadar bahwa sekarang hanya sebatang kara didunia ini. Tetapi, Arini masih memiliki iman yang cukup kuat dalam hatinya. Dirinya tak akan menyerah untuk selalu dijalan Allah meski penuh ribuan batu penghalang.
Hanya satu harapan dari segala yang dia jalani saat ini, yaitu surga Allah yang menanti.
Terima kasih sudah mampir.
Ehh, jangan sedih dulu. Masih banyak bab kok. Ini belum berakhir. Kisahnya masih cukup panjang. hhh
Sehat selalu semua.
__ADS_1