
Bismillah, semoga Kau lancarkan segala urusan hamba, yaa Rabb. Dan semoga pula keputusan ini adalah keputusan yang terbaik untuk kami semua.
Dengan langkah pasti Aisya berjalan memasuki pelataran kantor ' Angkasa Groub ' Hatinya memang sedikit bimbang, dengan keputusannya yang dia ambil. Bukan karena ragu akan takdir Allah. Tapi, lebih tepatnya takut jika nantinya keputusanya itu akan menyakiti orang lain.
Apalagi dirinya belum menceritakan perihal itu pada Bunda Arini maupun ayah Imam. Bahkan sahabatnya Dara pun belum tahu. Mungkin hanya mbak Arum yang sudah mengetahuinya. Itupun dari Danies.
Tinggg....
Bunyi lift yang mulai terbuka, Aisya melangkah masuk. Matanya membulat sempurna saat melihat seseorang yang belum ingin dilihatnya pagi ini, ikut masuk kedalam.
Pak Danies.
Aisya mengerjabkan matanya beberapa kali. Menetralisir rasa canggung yang tiba - tiba mendera.
" Assalamualaikum Pak Danies!" sapa Aisya setenang mungkin.
" Walaikum salam, Aisya. Apa kabar?"
" Baik pak." jawab Aisya segan, hanya menunduk tak menoleh pada lawan bicaranya itu.
Ohh, jantung jangan seperti ini dulu. Baru juga ketemu udah deg - dega gini. Gimana kalau nanti pas dia tanya soal jawabanku? Bikin malu kalau nanti sampai pingsan.
Beberapa detik lagi, Aisya sampai di lantai tiga tempatnya bekerja.
Ayo cepat sampai!
Aisya bergumam dalam hati, tangannya saling bertautan karena merasa gugup lagi takut kalau - kalau saat pintu lift terbuka, ada orang yang melihatnya bersama pak Danies. Sementara Danies merasa lucu dengan galagat Aisya.
Lift pun berhenti. Namun, dengan cepat Danies menekan kembali tombol menuju lantai 7. Pintu pun tak jadi terbuka.
Aisya melongo melihat tindakan atasannya itu. Lalu menoleh pada Danies dengan dahi berkerut bingung.
" Sudah punya jawaban?"
Pertanyaan yang sejatinya belum ingin didengar pagi ini. Aisya tersentak, susah payah menelan ludahnya. Lalu mengalihkan pandangannya.
" Huh, ehmmt. Anu pak?" jawab Aisya bingung lagi gugup. Ternyata tak semudah bayanganya. Lidahnya mendadak kelu. Sulit untuk menjawabnya. Seolah kata - kata itu hanya tertelan ditenggorokan saja.
__ADS_1
" Aisya, aku menunggu jawaban kamu!"
Mengigit bibir bawahnya, jemari yang saling meremas kuat. Aisya menunduk, lalu menarik nafas dalam. Menghembuskannya perlahan, menenangkan debaran jantungnya yang sudah tak terkendali.
Namun, dalam hatinya mengerutu. Danies selalu saja bertanya hal sepenting itu dimoment yang selalu salah. Waktu itu buru - buru karena telat. Terus diacara makan malam dirumah pak Rahmat. Lah, sekarang meminta jawaban didalam lift. Berasa gak modal.
" Pak Danies, momentnya gak tepat banget sih.!" celetu Aisya tiba - tiba meluncur begitu saja dari mulutnya. Cepat Aisya menutup mulutnya. Sambil merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Danies tersenyum, mendengarnya. Lalu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
" Lalu mau moment yang bagaimana?" goda Danies.
Bluusss,
pipi Aisya seketika langsung merona. Digombali dan digodain laki - laki memang pernah dialami oleh Aisya. Namun, kali ini berasa berbeda.
" Hahh, maaf pak saya salah bicara?"
Saat itu tiba - tiba mati lampu dan lift berhenti begitu saja tepat dilantai 6. Namun, sialnya pintu tak bisa terbuka.
" Apa kamu takut, Sya?" tanya Danies yang berbalik menghadap pada Aisya yang sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Namun, tak ada signyal didalam sana.
" Ehhm, gak juga pak." jawab Aisya yang duduk bersimpuh dipojokan. Merasa putus asa.
Danies lalu ikut duduk bersila dipojokan sisi kanan tempat Aisya.
" Kenapa senyum?" tanya Aisya heran melihat Danies sekilas itu.
" Gak apa - apa."
Sejujurnya Danies juga bersyukur dalam keadaan itu. Setidaknya dirinya dan Aisya bisa mengobrol banyak hal. Saling mengenal lebih dalam.
" So, apa jawaban kamu?"
" Saya harus jawab sekarang pak?" tanya Aisya yang sedikit lebih santai saat ini.
" Yaa, terserah kamu. Tapi, kalau kamu jawab nanti. Yakin bisa jawab didepan orang lain. Mumpung cuma berdua disini. Gak ada yang denger pula. Paling cuma CCTV yang liat. Tapi, gak bisa dengerkan."
__ADS_1
Benar juga, kalau aku jawab nanti apa bakalan bisa dapat moment berdua seperti ini lagi. Apa ini cara dari Allah supaya aku berani melangkah.
Menarik nafas dalam, Aisya mengendalikan detak jantungnya yang mulai berdebuk tak karuhan.
" Ayah saya melarang saya menjalin hubungan dengan laki - laki tanpa ada ikatan pernikan. Prinsip hidup saya pun juga seperti itu." kata Aisya pelan, lalu menarik nafas dalam dan melanjutkan perkataannya itu.
" Jika bapak memang serius sama saya. Maka memintalah diri saya pada ayah saya. Mintalah baik - baik pada beliau.!" jawab Aisya tegas.
Danies pun mengerti, seutas senyum terbit dibibirnya. Meskipun secara langsung bukan jawaban ' IYA ' . Namun, setidaknya Aisya memberi isyarat kalau dia tidak keberatan dan bersedia menjadi istrinya.
Dan Danies paham, saat ini Aisya memang masih tanggung jawab orang tua serta walinya. Begitu juga aturannya, jika ingin meminang seorang gadis untuk dijadikan istri. Maka harus meminta pada walinya.
" Kapan aku bisa kerumah menemui orang tua kamu? Nanti malam, besok atau_" tanya Danies antusias dan gak sabar itu.
" Huh, jangan nanti malam juga pak. Saya belum bilang pada orang tua saya. Bisa disidang sama ayah saya nanti kalau tiba - tiba ada laki - laki datang dan ingin mengkhitbah saya." selak Aisya memotong perkataan Danies.
" Maaf, aku terlalu buru - buru yaa? Kalau begitu, aku ikut kata kamu saja Sya. Beritahu aku kalau kamu sudah siap aku datang kreumah.!"
Aisya menganguk samar dengan senyum tipis yang tak bisa disembunyikan lagi. Ada rasa lega dihatinya. Mungkin memang belum ada rasa dihatinya. Tapi, Aisya yakin cinta itu akan hadir disaat yang tepat. Cinta akan tumbuh saat saling memiliki.!"
Akhirnya aku menemukannya dalam Istiqarah. Dia yang selama ini aku nanti. Semoga jalan menuju ikatan itu dipermudah oleh Allah.
Tak lama, lampu didalam lift menyala. Dan pintu pun terbuka. Aisya dan Danies cepat - cepat berdiri. Binar kebahagiaan dan juga rasa syukur tercetak jelas diraut wajah mereka berdua.
" Alhamdulilah, yaa Allah.!" ucap Aisya bersyukur. Begitu juga dengan Danies.
Tapi, saat pintu terbuka lebar. Didepan sudah banyak pasang mata yang menyaksikan kejadian itu. Seketika Aisya membeku, malu dan tak enak hati menyergap perasaannya.
" Pergilah keruangan kamu, biar aku yang bereskan semuanya.!" kata Danies menyuruh Aisya duluan pergi meninggalkan tempat itu.
Danies pun mendehem, membubarkan kerumunan karyawannya itu. Tidak habis pikir, sejak Aisya datang bersama dengan Danies waktu itu. Kenapa mereka penasaran dengan hubungannya denga Aisya.
Alhamdulilah yaa, Allah. Kau permudahkan jalan hambamu ini. Semoga aku bisa secepatnya melupakan Fitria dan mencintai Aisya.
Terima kasih sudah mampir.
Semoga suka.
__ADS_1