
Arini tak mampu, melanjutkan kata - katanya dirinya terlalu malu dengan apa dia inginkan untuk sekedar melepas rindu pada suaminya.
Fa'i yang memahami itu, tak ingin menayakan lebih lanjut. Bisa jadi mood Arini berubah seketika jika dirinya terlalu memaksa istrinya itu.
" Kamu kok pakai baju mas sayang.?" Tanya Fa'i merenggangkan pelukannya dan menatap wajah istrinya.
" Ehmmt, soalnya aku berasa dipeluk sama kamu mas. Karena kamu udah datang, aku ganti baju dulu yaa," Jawab Arini dengan mata berbinar bahagia. Senyumnya terus menyungging dibibirnya. Senyum kebahagiaan yang benar - benar tulus dari dalam hati.
" Ngapain harus ganti,..?"
" Yaa kan sekarang mas udah pulang jadi udah bisa peluk beneran kan..!"
" Gak usah ganti mas suka, kamu terlihat_..." ujar Fa'i dengan kata terakhir hanya dibisikkan ketelinga Arini pelan. Entah apa itu. Tapi, sontak membuat Arini membulatkan matanya. Pipinya semakin merona dan terlihat malu - malu.
" Iihh, mas pikirannya kok jadi m*sum gini sih.?" gerutu Arini, mencubit perut suaminya.
Fa'i hanya terkekeh mendengarnya.
" Mas..!"
" Heemt... apa sayang.?"
" Aku pingin makam mie instant boleh yaa...?" ucap Arini dengan muka memelas, karena memang Fa'i melarang Arini makan mie instant dan junk food.
" Jangan mie donk sayang yang lain yaa...?"
" Nggak mau, boleh yaa mas. Kali ini aja. yaa... aku mohon..!" Arini memelas dengan mata yang sudah mulai berkaca - kaca.
" Hufff,. Yaa sudah, sekali ini saja yaa..."
Akhirnya Fa'i memenuhi permintaan sang istri. Arini pun terlihat sangat senang dan langsung mencium pipi kanan suaminya.
" Tapi, ada syaratnya... " sambung Fa'i menatap Arini dengan tatapan mautnya. Arini mengerutkan dahinya.
" Apa..?"
Fa'i pun menunjuk bibirnya dengan telunjuk kanannya. Arini membelalak karena mengerti maksud suaminya. Sementara Fa'i merasa puas menggoda istrinya.
Cup
__ADS_1
Sebuah ketjupan singkat dilepaskan Arini.
"Lagi...!" kata Fa'i tersenyum jail dengan rasa gemes pada istrinya yang malu - malu itu.
Cup
Dan ketjupan kedua pun sama singkatnya dengan ketjupan pertama tadi.
" Lagi...!" Fa'i meminta Arini kembali melalukannya lagi. Walau rasa canggung dan malu semakin membuat wajahnya semakin merah. Tapi, dengan senang hati Arini melakukannya kembali dan
Cup
Sebuah ketjupan ketiga diberikanya lagi. Namun, saat akan menarik diri kedua tangan Fa'i memegang kepalanya hingga bibir itu gagal terpisah dari bibir suaminya.
Bukannya kesal, Arini justru tersenyum senang karenanya.
..............
" Gimana, Enak...?" tanya Fa'i melihat Arini begitu lahap memakan mie instant yang dia masak special untuk istrinya itu.
Arini mengangguk senang, maklum dulunya kan Arini anak kos jadi suka makan mie instans. Yaa apalagi alasanya pasti karena murah juga gak pake ribet kalau masak.
Fa'i yang memang sangat jarang atau mungkin hampir gak pernah makan mie instant akhirnya ingin memcicipinya. Karena tergoda melihat cara makan Arini yang begitu menggemaskan.
" Boleh, kelihatannya enak.!"
Melihat suaminya yang antusias untuk mencoba, muncul niat untuk menjahili suaminya itu. Hingga seringai jail tersungging dibibirnya.
" Aaaaa..." kata Arini mengarahkan sumpit itu pada suaminya. Tapi, ketika sudah didepan mulut Fa'i yang terbuka siap menerima suapan itu. Arini menarik tanganya dan memakan mie itu sendiri.
Mrlihat Arini mengerjainya, Fa'i memanyunkan bibirnya sambil melirik sinis pada Arini. Namun yang dilirik malah tersenyum puas sambil terus memakan mie itu.
Tiba - tiba Fa'i menyambar sehelai mie yang belum masuk sempurna kedalam mulut Arini. Mata Arini terbelalak melihat apa yang dilakukan suaminya. Dia memakan sehelai mie itu sampai bibir mereka bertemu, kemudian Fa'i melanjutkannya dengan mencium Arini.
" Enak juga makan mie dengan cara seperti ini.!" goda Fa'i tersenyum puas karena berhasil membalas Arini.
Sementara Arini hanya terkekeh, pura - pura kesal dan memanyunkan bibirnya. Lalu menyuapi suaminya kali ini beneran yaa.
" Gimana, enak kan. Kalau sesekali makan gak apa - apa kan mas.?"
__ADS_1
" Eheemt... boleh juga kalau sebulan sekali." jawab Fa'i setelah menelan mie itu. Lalu bersiap menerima suapan berikutnya dari Arini.
" Bukanya gak higienis dan steril yaa makan berdua kaya gini.? tanya Arini
" Gak apa - apa kita juga sering berc*uman juga tak jauh bedanya kan dengan yang kita lakukan ini." Fa'i tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya itu.
Arini mengelengkan kepalanya, ada - ada saja. dokter satu ini sungguh aneh. Awalnya melarang keras Arini makan mie instant. Tapi, setelah merasakan malah dia ketagihan gini. Dan ikut memakan semangkuk mie itu.
" Alhamdulilah, " ucap Arini puas memakan mie itu meski hanya semangkuk untuk berdua. Tapi, tak apa sudah mengobati ngidamnya malam ini.
Setelah meletakkan mangkuk itu ke nakas dekat tempat tidur dan mengambil segelas air putih untuk diberikan pada Arini.
" Terima kasih,.." Ucap Arini setelah meneguk air putih itu tanpa memegang gelasnya. Lalu dengan santai Fa'i meminum sisa air yang diminum Arini tepat dibekas bibirnya.
Sambil tersenyum, Fa'i meletakkan gelas kosong itu disebalah mangkuk kosong tadi.
Arini lalu menarik wajah Fa'i lalu menyapu sisa - sisa air dibibir Fa'i dengan kedua ibu jarinya.
" Rasanya aku masih ingin memakan sesuatu deh..." ujar Fa'i dengan kedua alisnya yang terangkat menandakan sesuatu itu.
Arini mengreyitkan dahinya, lalu bertanya.
" Mas Fa'i lapar.? Memangnya mas mau makan apa lagi.?"
Bukannya menjawab Fa'i malah mendekatkan wajahnya yang dihiasi senyum penuh arti itu. Lalu berbisik ditelinga kiri Arini.
" Aku ingin memakanmu sayang..!"
Mendengar itu, tubuh Arini seketika membeku. Hembusan nafas Fa'i tepat dilehernya membuatnya bergidik seketika matanya meremang begitupun dengan kulitnya yang kini mulai disentuh dengan lembut tepat di pahanya yang terekspos itu.
Arini memejamkan matanya, mengatur detak jantungnya yang kian memburu. Deru nafas yang mulai tak teratur turut membuat suasana menjadi panas meski Ac disana masih berfungsi dengan baik.
Saat sentuhan lembut dan hangat menyapu bibirnya, dengan gerak refleks tangan Arini menjulur keatas melewati dada bidang suaminya kemudian keatas lagi kebahu kokoh itu hingga akhirnya tangannya dikalungkan dileher suaminya. Jemarinya mencengkeram kerah kemeja milik sang suami.
Sampai pada akhirnya desahan keluar dari mulut keduanya. Beradu peluh yang meresap pada seprei warna putih nan halus itu.
Melepas rindu yang bercangkol dibenak mereka sejak beberapa hari ini. Bahkan untuk Fa'i yang sudah dua minggu lebih harus menahan gejolak hasrat yang ada dalam dirinya. Hasrat seorang laki - laki normal pada umumnya, ketika berdua dengan sang istri tercinta.
Terima kasih. Jangan lupa like comment dan vote yaa.
__ADS_1
Semoga sehat selalu semua.... Happay weekand dan jangan lupa bahagia.