
Kata - kata Sabrina saat berbincang semalam terlintas dipikiran Arini.
" Nikmati saja , toh itu harus dan wajib dilakukan. Bagaimanapun perasaan mas Fa'i saat ini tetap dia suamimu yang harus dipatuhi dan dilayani. Mungkin saja setelah itu dia benar - benar jatuh cinta sama kamu."
Lalu perlahan Arini mendongakkan wajahnya, ditatapnya mata suaminya itu lekat - lekat. Dari mata itu terlihat jelas rasa ingin memiliki seutuhnya.
Hasrat yang terpendam seakan tergambar jelas. Sebuah gelora yang entah bagaimana menyebutnya.
Tangan Arini yang semula menekan dada Fa'i, agar tidak merapat padanya. Kini telah menyentuh pipi suaminya. Ibu jarinya mengusap lembut wajah tampan sang suami. Seolah mengerti yang diinginkan suaminya, Arini tersenyum dan mengangguk pelan.
" Aku ingin saat, kita sedang berdua saja jangan mengikat rambutmu. Biarkan seperti ini. " Ucap Fa'i melepas ikatan rambut Arini membiarkannya tergerai dengan indah.
Arini hanya mengangguk pelan. Lengannya kini melingkar dileher suaminya. Fa'i mengecup kening Arini sambil melantunkan doa sebelum melakukannya.
Perlahan Fa'i mencuim Arini, mulai dari kening lalu hidung, lanjut ke pipi. Kemudian turun kebibir. Kali ini cukup lama Fa'i mencium bibir merah itu. Semakin dalam dan bertambah dalam, seiring hasrat yang kian membuncak.
Tangan Fa'i menyusuri punggung Arini, meraih zipper gamisnya kemudian menurunkan perlahan hingga menampakan punggung Arini yang putih bersih. Fa'i mengusap lembut punggung polos itu, seiring dengan ciuman yang turun keleher dan meninggalkan beberapa jejak merah tanda kepemilikan.
Hasrat yang kian membuncak membuat Fa'i mendorong lembut tubuh Arini hingga berbaring diikuti dirinya yang kini berada diatasnya.
__ADS_1
Perlahan tangannya menyusuri lengan Arini yang telah polos hingga menyentuh jemari Arini. Saling mengisi sela - sela jari dan bertautan erat seakan tak ingin terpisah oleh apapun.
" Jika kamu merasakan sakit, gigit aku atau cakar punggungku." bisik Fa'i yang membuat Arini meremang, matanya pun semakin sayu.
Fa'i memandang lekat wajah Arini. Tatapan mata yang menyiratkan keinginan untuk saling memiliki. Arini begitu mendamba sentuhan, belaian kasih dari sang suami.
Menikmati segala yang dilakukannya. Menyerahkan apapun yang dia miliki dan jaga selama ini untuk suaminya. Yaa segalanya hanya untuknya.
" Rasa bahagia itu begitu menyentuh qalbu yang paling dalam, hati seakan tak mampu menampung rasa bahagia yang telah meluap memenuhi relung hati. Karena telah melewati kebersamaan penuh cinta, menyalurkan hasrat saling mendamba untuk saling memiliki seutuhnya melalui jalan yang diridhoi ALLAH SWT. Sehingga bukan hanya pahala yang diraih. Namun, juga rasa cinta kasih antara aku dan kamu ( satu )."
" Terima kasih, Arini sayang " lirih Fa'i mengecup keningnya.
Nafas yang masih belum teratur, keringat yang menyatu membasahi seprei warna biru nan lembut itu.
Disela - sela nafas yang mulai teratur dan detak jantung yang tak berdebar sekencang tadi, Arini merasakan hangat kulit Fa'i yang menempel dipunggungnya. Jari - jari mereka saling bertautan. Begitu menentram hati.
" Semoga benih yang aku titipkan dirahimmu akan segera menjadi buah cinta kita." ucap Fa'i ditelinga Arini yang membuatnya bergidik.
" Bisakah secepat itu,?"
__ADS_1
" Tidak juga, harus melakukan beberapa kali dulu. Tapi tidak ada yang tidak mungkin kan."
" Oooo, semoga itu cepat terjadi. Aamiin"
" Baiklah, jika kamu menginginkan secepatnya kita akan melakukannya lagi nanti."
goda Fa'i yang mulai beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri. Karena ternyata matahari sudah mulai mengintip dari sela - sela jendela kamar.
" Apa sangat sakit dan perih? " pertanyaan konyol dari Fa'i yang membuat Arini kembali bersemu malu.
Dia hanya tersenyum tak ingin menjawab pertanyaan yang seharusnya sudah bisa dijawab sendiri oleh Fa'i. Arini langsung masuk kekamar mandi memakai handuk yang diambilkan Fa'i dari almari.
" Alhamdulilah, Yaa Allah karena kau telah memberiku jodoh yang bisa menjaga dirinya serta kehormatananya. Hingga aku suaminya yang merenggut kehormatanya. " Gumam Fa'i sambil tersenyum melihat noda darah diseprai yang telah berantakan itu.
Entah mengapa perasaan bahagia itu membuat Fa'i ingin selalu tersenyum. Serta getaran cinta dalam hatinya semakin kuat untuk Arini. Hingga membuatnya lupa akan cintanya pada Diana.
Maafkan siAuthor yaa karena udah gantungin bab sebelumnya. Karena memang sengaja...hhhh
Sebagai permintaan maafnya nii Author kasih kelanjutanya. Tapi maaf juga kalau terlalu gimana gitu 🙈🙈🙈🙈🙊🙊🙊🙊... Maafkan Author yang sudah khilaf bikin bab ini. 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Mohon maaf juga bagi yang belum berpasangan. Kalau Autornya udah punya 2 jagoan jadi nggak masalah yaaa 🙊🙊
Terima kasih,