Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
78. Menggoda


__ADS_3

Imam tersenyum melihat Arini masih menggenggam ponsel yang masih menyala menampakkan aplikasi Al - Quran yang tadi dia baca.


" Kenapa harus pura - pura masih tidur.?" tanya Imam yang mengetahui Arini hanya berpura - pura memejamkan matanya.


" Hehehe.." Arini tertawa malu, sambil membuka matanya perlahan. Pipinya sudah merah seperti kepiting rebus.


" Kenapa gak pulang.?" tanya Arini.


" Gak tega, kamu lagi sakit dan dirumah sakit sendirian pula." jawab Imam duduk dikursi sebelah bankar yang ditempati Arini.


Arini tersenyum, bahagia menyelimuti sejak dia mulai membuka matanya tadi.


" Berarti gak tega juga, kalau aku nikah sama orang lain.!" celetuk Arini tanpa sadar. Dan langsung memutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


" Apa yang kamu bilang tadi, Rin.?" tanya Imam tersenyum menggoda. Padahal dengan jelas Imam mendengar semuanya.


" Huh, bukan apa - apa.!"


Arini nampak menggemaskan dengan ekspresinya saat ini. Menunduk malu dan tak berani menatap Imam.


" Bukan hanya tidak tega, tapi juga tidak ikhlas, sepertinya."


Mendengar penuturan Imam, seketika membuat hatinya berdesir, menyejukkan. Jantungnya berpacu lebih cepat dari yang seharusnya. Pipinya mulai terasa panas hingga membuat pipi yang telah merah semakin merona.


Mungkin bukan sebuah kalimat romantis, tapi kejujuran dari lubuk hatinya yang membuatnya istimewa.


" Rin, apa kamu sudah memaafkan ku.?" tanya Imam, serius.


" Maaf, mas Imam gak pernah punya salah sama aku. Jadi apa yang perlu dimaafkan.?"


" Bukankah selama setahun kamu pergi, hanya untuk menghindariku.! Karena kamu kecewa padaku."


Arini tersenyum mengerti arah pembicaraan Imam kemasa lalu mereka.


" Aku memang sempat sedikit kecewa pada mas Imam, waktu pertama kali tahu mas Imam jatuh cinta padaku. Tapi, aku sadar bahwa Allah yang maha membolak - balikan hati setiap umatnya. Jadi aku gak bisa menyalahkan mas Imam juga kan.!"


" Dan untuk takdir ku bersama mas Fa'i. Mungkin inilah jalan. Hidup, mati, dan jodoh bukankah semua adalah rahasiaNya."


Mata Arini pun mulai berkaca - kaca mengingat perjalanan hidupnya yang selalu saja ditinggalkan orang - orang tercintanya terlebih dahulu.


" Maaf, jika aku mengingatkanmu soal ini. Tapi, mengapa kamu harus lari dari ku.?"


Arini tersenyum menatap sekilas wajah Imam yang terlihat merasa bersalah padanya.


" Waktu itu aku belum siap, untuk bertemu dengan kamu mas. Bahkan aku takut, kalau kamu masih menyimpan rasa itu padaku. Aku takut kamu akan semakin mencintaiku nantinya.!"


" Aku tahu, aku telah salah jatuh cinta sama kamu waktu itu. Tapi, apa sekarang aku masih salah dan tidak boleh untuk mencintaimu.?"

__ADS_1


Deg, sebuah kalimat tanya yang sebenarnya sudah dinantikan Arini sejak kemarin. Jujur saja hati Arini memang menantikan Imam mengungkapkan perasaannya secara langsung padanya.


" Apa aku harus menjawabnya sekarang.? Dan kenapa kamu menanyakan hal itu." tanya Arini berniat menggoda Imam.


" Yaa, gak harus sekarang." sahut Imam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa kikuk dan canggung juga.


" Tapi, minimal aku tidak akan terlalu berharap pada kedekatan kita saat ini. Aku sadar aku sangat jauh jika dibandingkan Firman dan Andi." sambungnya menatap Arini sekilas, sambil meremas jari - jarinya yang saling bertautan.


" Bagaimana kalau aku bilang IYA.?" kata Arini cepat sambil menipiskan bibirnya menahan bibirnya yang memang tak tertahan untuk tersenyum bahagia.


" Heeh, apa Rin.? Iya. "


Arini mengangguk, sementara Imam langsung tersenyum lebar.


" Eh, tunggu. Tapi, iya apa dulu Nihh.?" lanjut Imam sambil menyeringai.


" Iya, Ya... Iya.!" jawab Arini malu, lantas memalingkan wajahnya.


" Ya, Iya.. Apa Rin?"


" Iss, iya boleh.!" sahut Arini mulai kesal.


" Iya, boleh. ?" tanya Imam sambil mengreyitkan alisnya. Masih setia menggoda Arini.


Arini pun mendengus kesal, karenanya.


Arini menghela nafas kasar, lalu melirik tajam Imam. Sementara yang dilirik masih berpura - pura tak mengerti apa pun.


" Sudahlah kalau tidak mau.!"


Imam mengreyit, " emang mau, apa?"


" Mas Imam, " sentak Arini sedikit keras karena kesal dengan Imam yang terus saja menggodanya.


Imam tertawa puas melihat wajah Arini yang tampak menggemaskan itu.


" Jadi boleh nii, aku mencintai kamu terang - terangan.?" tanya Imam. Sedangkan Arini masih kesal dan tak menanggapinya


" Arini, maukah kamu menikah denganku.?"


Pertanyaan Imam sukses membuat Arini, membeku saat itu juga. Bahagia, sudah pasti. Entah mengapa, kali ini Arini merasakan debaran yang sangat indah didadanya. Buncahan bahagia menyeruak hingga membuatnya tak tahu harus berkata apa.


Bahkan dia masih tak percaya, apakah ini nyata ataukah Imam hanya menggodanya saja. Tak ingin berlebihan, Arini kembali menampakkan wajah datarnya. Seolah menyembunyikan kebahagiaan hatinya dari Imam.


" Gak usah bercanda lagi deh, mas! Seneng banget sih godain aku.!" kata Arini mencoba bersikap sebiasa mungkin.


" Heeh, siapa yang bercanda. Aku serius, aku sudah tidak sabar untuk memiliki kamu seutuhnya.!"

__ADS_1


" Memangnya aku mau gitu?" goda Arini membalas.


" Oo, gak mau yaa? Jadi maunya sama Firman atau Andi.?"


Arini malah merasa tersudut, ceritanya pingin liat Imam kesel malah dikasih pertanyaan yang sudah pasti jawabannya itu.


" Iss, kok jadi mereka dibawa - bawa sih.!"


" Yaa, terus bawa siapa.?"


" Aah, sudahlah. Aku mau sholat subuh. Bercanda mulu sih mas Imamnya.!" sahut Arini yang turu dari bankar dari sisi kanannya.


Karena saat itu, tepat adzan subuh telah berkumamdang. Seruan cinta Allah memanggil para insan yang masih terlelap.


" Sholat berjamaah, mau?" tanya Imam yang baru saja masuk lagi kekamar Arini setelah tadi berwudhu dikamar mandi dekat ruang perawat jaga.


Arini yang telah siap dengan mukena diatas bankar, hanya mengangguk. Arini memang sejak kemarin sholat diatas tempat tidur dengan posisi duduk. Mengingat keadaannya seperti itu.


Bahagia serta haru memenuhi segenap ruang hati mereka berdua. Beribadah bersama menghadap sang pencipta. Dalam hati pun berharap semoga kedepannya, akan beribadah bersama dalam ikatan suci pernikahan. Beribadah bersama untuk mencapai surgaNya.


Setelah selesai, Imam melipat sajadahnya dan juga menawarkan diri melipat mukena Arini.


" Aku serius Rin dengan pertanyaanku tadi. Kamu sudah tahu bagaimana perasaanku kan? Tapi, apapun jawaban kamu, aku akan menerimanya." kata Imam serius.


" Tapi, aku belum menolak lamaran pak Andi dan mas Firman."


Imam tersenyum


" Dengan kamu menerima ku, itu artinya kamu sudah menolak mereka. Rin.! Aku akan menemanimu mengatakan keputusan kamu pada mereka.!"


" Kapan aku bilang menerima mas Imam.?" celetuk Arini. Ingin sekali lagi mencoba untuk menggoda Imam.


" Yaa, belum sih.! Memang beneran gak mau yaa?" kata Imam menaikkan alisnya sambil tersenyum misterius.


Arini pun mencebik kesal. Selalu saja Imam berhasil membuatnya malu sendiri. Padahal mau menggoda duluan, ehh malah dengan mudahnya Imam membalikkan suasana.


" Mas Imam gak romantis banget sih, ngelamar kok becanda terus dari tadi.!"


Imam tertawa, entah mengapa sisi romantisnya tiba - tiba menghilang dari dirinya. Kenyataannya Imam lebih senang dengan caranya yang seperti itu untuk menunjukkan cintanya pada Arini.


" Jadi mau gak, nikah sama aku?" sambung Imam.


Terima kasih, sudah mampir.


Semoga suka yaa.


Iss, Authornya jadi gemes sendiri. Eits, jangan seneng dulu. Masih ada halangan lho untuk mereka bersatu. Nantikan kejutannya.!

__ADS_1


Sehat selalu semua.


__ADS_2