Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
64. Aku ikhlas.


__ADS_3

Setahun yang lalu, Arini tak akan pernah melupakan hari itu. Hari dimana dia menyaksikan waktu kematian suaminya.


Hati perempuan mana yang tak hancur berkeping - keping, karena sebuah kecelakaan yang mengerikan itu. Arini harus kehilangan buah hati tercintanya dan selang beberapa waktu suaminya juga harus berpulang.


Satu hal yang begitu disesali wanita itu sampai saat ini. Suaminya berpulang dengan rasa marah karena dirinya. Arini sadar benar, siapa yang tak marah dan kecewa, bila suatu rahasia besar itu beetahun - tahun telah disembunyikan.


" Andai saja, aku tidak egois dan berbagi rahasia itu lebih cepat. Pasti sekarang kita masih bersama mas. Maaf kan aku yaa, mas! Kelak dipengadilan Allah, aku tak akan bisa mengelak. Aku hanya berharap semoga kelak saat itu, kamu telah memaafkan ku."


Ada suatu rasa takut yang selalu memenuhi hatinya selama ini. Dikejar perasaan bersalah membuatnya harus pergi dari ibu kota yang memberikan cerita cinta pertamanya.


Kisah cinta yang dimulai dengan suatu kebohongan yang sulit diungkap. Dan justru juga harus berakhir dengan kepedihan karena kebohongan juga. Sungguh, benar berbohong tak dibenarkan dalam Islam meski apapun alasannya.


**


Arini bersimpuh diantara kedua makam itu. Satu nisan bertuliskan M. Rifa'i Hadi Asaalam dan satu nisan lagi AL- Luqman Hasifh Aqmar. Mengusap pelan nisan itu, Arini menahan air mata yang memenuhi kelopak matanya.


Namun, apa daya bulir - bulir air mata itu pun mengaliri pipinya.


" Aku ikhlas Allah memanggil kalian terlebih dulu. Tapi, satu hal yang masih berat untukku mas. Aku masih bersalah karena belum sempat mendapatkan maaf darimu.."


Setelah merasa lega dan matahari sudah tinggi. Arini bergegas untuk meninggalkan tempat itu.


Dengan langkah pelan Arini menyusuri jalur setapak dengan kiri dan kanan tertata rapi makam - makam insan ciptaan Allah SWT. Tempat dimana setiap manusia menunggu hari kebangkitan kelak.


Deg Deg Deg...


" Ada apa ini, mengapa mendadak jantungku berdetak kencang seperti ini.?"


Arini menghentikan langkahnya, menoleh kesegala arah. Namun, tak ada apapun yang mencurigakan ataupun seseorang yang dia kenal disini. Disana hanya ada beberapa orang penjaga makam yang membersihkan makam - makan disana.


" Astaqfirullah, Yaa Allah lindungi hambamu dari segala mara bahaya. Aamiin.!" gumam Arini sambil menyentuh dadanya .

__ADS_1


Arini memang pergi tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk mbak Amira. Dia hanya butuh waktu sendiri merenungi segala kesalahan dimasa lalu.


Entah mengapa perasaan Arini kali ini benar - benar berbeda. Padahal hampir tiap sebulan sekali Arini menyempatkan datang ke Kota ini hanya untuk berziarah kemakam Alm. Suami dan anaknya.


Tetapi, kali ini berbeda apa mungkin karena ini tepat satu tahun kejadian itu.


" Semoga seperti biasa aku tidak akan bertemu dengan semua orang dari masa lalu." Batin Arini melangkah lagi untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


Baru beberapa langkah, Arini terbelalak melihat tiga orang berjalan dari pintu masuk pemakaman.


" Mbak Amira, mas Haris dan Sarah. Aku harus sembunyi, aku belum siap bertemu dengan mereka.!" Arini lantas bersembunyi dibalik pohon itu. Memakai masker dan kaca mata hitamnya.


Mbak Amira dibuat kaget ketika sampai dimakam adik dan keponakannya itu. Ada rangkaian bunga dan dipusara kedua makam itu telah ditaburi bunga yang masih segar.


Pandangannya diedarkan kepenjuru arah makam itu. Hati kecilnya mengatakan Arini masih ada disekitar sini. Ada setitik harapan untuk bertemu dengan wanita itu.


" Mas apa mungkin Arini dari sini.?" tanya mbak Amira pada Suaminya.


Mbak Amira pun mengangguk, tanda mengerti. Setidaknya perasaan khawatirnya sedikit banyak telah hilang. Berganti rasa optimis akan menemuakan keberadaan Arini satu saat nanti.


Disisi lain Arini masih termenung disana, menatap keluarga yang dirindukankannya. Dia sadar keputusannya untuk pergi setelah pemakaman itu adalah keputusan yang salah. Tidak seharusnya dia pergi begitu saja tanpa pamit dan tanpa kabar.


Namun, bukan hanya karena penyesalan akan kejadian itu saja Arini memutuskan pergi menjauh. Sejujurnya Arini pergi karena Imam yang akan pulang secepatnya setelah mendengar kematian alm. Rifa'i.


Flashback On.


Sore itu selepas pemakaman, Arini termenung didalam kamarnya. Mentap foto pernikahan dirinya dan dokter tampan itu. Dipeluknya foto itu erat, sambil menahan derai air mata yang seakan tak ada habisnya.


" Maaf aku bukan istri yang baik untuk kamu mas. Terima kasih mau menerima ku, menjadikan wanita paling bahagia selama hampir lima tahun ini. Allah lebih mengizinkanmu bersama - sama dengan AL anak kita dialam sana. Semoga kamu dan AL tenang disana mas. Aku mencintai kalian."


Setelah menguatkan hatinya sendiri, Arini berniat kedapur untuk mengambil air minum. Tapi, langkahnya terhenti didekat pintu samping rumah. Dilihatnya mbak Amira berbicara lewat ponselnya. Sebenarnya Arini tak ingin tahu, tapi ketika dalam percakapan itu mbak Amira menyebut nama ' Imam '.

__ADS_1


Arini pun berhenti mendengarkan percakapan itu.


" Apa Mam, kamu memutuskan untuk pulang sekarang juga. ?"


Imam : " ......."


" Tapi, Mam bukan begini caranya. Arini pasti belum ingin menemui kamu. Mbak takut rasa bersalahnya semakin memperburuk keadaan jika kamu kembali sekarang."


Arini yang mendengar itu segera berlari kekamarnya lagi. Ada perasaan marah sekaligus takut yang membuncak dihatinya.


Marah karena semua ini secara tidak langsung adalah kesalahan Imam yang harus jatuh cinta padanya.


Takut jika dirinya harus bertemu dengan seorang laki - laki yang mencintainya. Namun, membuat hidupnya hancur.


Pada akhirnya tanpa pikir panjang Arini memutuskan untuk pergi dari sana saat itu juga. Berusaha menyelinap pergi tengah malam agar tak ada satu orang pun yang tahu.


Flashback off.


Arini memutuskan untuk segera pergi dari pemakaman itu sebelum hal yang diinginkan terjadi. Dirinya belum siap untuk bertemu dengan mereka sekarang.


Namun, saat dirinya berbalik dan melangkah pergi, langkah kembali terhenti. Tubuhnya serasa membeku, mematung ditempat. Jantungnya berdebuk kian lantang tak terkendali.


Arini tak tahu apakah ini sebuah kebetulan atau kah memang takdir dari sang pencipta. Inikah waktunya Arini memberanikan diri bertemu dengan mereka dari masa lalunya.


" Yaa Allah. Kuatkan aku jika memang Engkau takdirkan aku bertemu dengan mereka."


Terima kasih, maaf semalam tidak bisa Up. SiAuthor lagi gak enak badan, jadi gak tuntas ngetik naskahnya.


Terima kasih sudah mampir.


Sehat selalu semua.

__ADS_1


__ADS_2