
Hari itu Imam mengajak Arini dan Aisya melihat rumah baru mereka, yang sengaja dia beli untuk keluarga barunya. Imam tak ingin tinggal dirumah mbak Amira, meskipun masih ada hak Aisya dan Arini atas rumah itu.
" Ini rumah siapa, mas?" tanya Arini setelah keluar dari mobil yang telah terparkir sempurna didepan sebuah rumah lantai tiga bergaya minimalis.
" Rumah kita, sayang." jawab Imam sambil mengendong Aisya yang telelap di kursi belakang.
" Ayo masuk!" ajak Imam berjalan mendahului Arini. Arini pun mengekori suaminya sambil mendecak kagum pada desain rumah itu.
" Sayang, tolong ambilin kunci dikantong celana mas! Sebelah kiri." Kata Imam yang diam - diam tersenyum jail.
Arini pun tak menyadari kejahilan suaminya, tak berfikir macam - macam langsung mendekat dan merogoh kantong saku celana suaminya.
" Sayang, jangan mancing - mancing mas donk.!" Imam menyeringai jahil. Arini membelalak dan berdecak sebal pada sang suami.
" Iish, mas omes banget sih. Mas tuu yang modus.!" sentak Arini tak terima.
" Yaa, gak apa kan Rin. Namanya juga usaha, gak kasihan apa semalam gagal lagi dan gara - gara Aisya lagi kan. Masa tiap malam gagal terus.!" gerutu Imam.
Arini tersipu, wajahnya langsung merona merah saking malunya. Mengingat, kalau sejak menikah hingga seminggu ini. Aisya selalu menyusul kekamar disaat yang tidak tepat.
Apalagi semalam adalah hal yang paling memelukan untuk Arini. Disaat baju Arini sudah terlepas, tiba - tiba Aisya datang dan mengacaukan semuanya. Untung pintu kamarnya dikunci, jadi setidaknya Aisya tak melihatnya.
Arini menepis semua pikirannya. Arini tersenyum lalu membalikan badan untuk membuka pintu rumah baru itu. Karena tak ingin Imam melihat wajahnya yang sudah sangat memerah itu.
Sementara Imam terkekeh pelan melihat tingkah malu - malu Arini. Dia tau Arini pasti mengingat kajadian semalam. Walaupun hatinya kesal, tapi Imam juga merasa itu sangat konyol.
" Assalamualaikum, !" sapa Arini dan bersamaan, lalu Arini membuka lebar kedua daun pintu itu.
Mata Arini berbinar melihat isi rumah baru mereka yang sangat bagus. Desain interior rumah yang serba minimalis namun sangat berkelas.
" Suka?" tanya Imam melangkah menuju sofa panjang diruang TV untuk membaring Aisya disana.
__ADS_1
" Huum, bagus banget mas!" sahut Arini berdecak kagum, lantas berjalan melihat disi lain bagian rumah itu.
Lagi - lagi mata Arini berbinar saat langkahnya terhenti didapur yang sangat cantik dan moderen itu. Dapur rumah minimalis yang sering dia lihat di TV atau majalah itu.
" Suka dapurnya, kamu kan hoby masak jadi mas pilihin desain yang mas rasa cocok sama kepribadian kamu.!" ucap Imam yang berdiri dibelakang Arini sambil melingkarkan tangannya diperut langsing Arini.
Arini mengangngguk lalu meletakan tangannya ditangan Imam.
" Mas, terima kasih untuk semuanya. Aku sangat bahagia bersama mu dan Aisya.!" pelan Arini lalu berbalik dan menatap wajah Imam lekat.
" Mas hanya ingin menebus semua hal bahagia yang hilang dihidupmu dulu, Rin. Gara - gara mas kamu kehilangan semuanya. Mas gak bisa menjanjikan apa - apa sama kamu. Tapi, selama mas mampu, mas akan memberian semuanya. Dan satu hal yang peru kamu tahu, mas selalu memegang janji kita untuk Menua bersama.!"
Mendadak wajah Arini kembali memanas, rona merah jambu nampak jelas dikedua pipinya. Menggemaskan, pikir Imam.
Buncahan bahagia seketika menyeruak dari lubuk hati terdalamnya. Memiliki seorang yang tulus adalah suatu anugerah yang luar biasa dari sang pencipta.
" Katakan pada mas, jika ada yang kamu tak suka dari diri mas.! Mas akan merub_."
Sebuah kecupan singkat dilepaskan Arini dibibir merah Imam, untuk menghentikan perkataan Imam. Imam pun terdiam membeku melihat tindakan Arini yang tak disangkanya.
" Aku menerima dan memilih mas, karena ketulusan hati mas padaku.! Aku rasa, akan mudah bagiku untuk mencintaimu, mas.!" ucap Arini tersipu malu, lantas membenamkan wajahnya didada sang suami. Terlalu malu untuk mengungkapkan rasa yang mulai tumbuh dihatinya itu.
Imam bahagia mendengar kejujuran Arini, lalu didekapnya Arini dengan erat sambil mengecup puncak kepala Arini yang tertutup hijab itu.
" Kira - kira gimana caranya, yaa Rin.? Supaya, tiap malam Aisya gak ganggu kita lagi." celetuk Imam, Arini lantas melayangkan sebuah pukulan ringan didadanya.
" Iss, mas gak boleh kaya gitu tauu!" Masa sama anak sendiri kaya gitu.?"
" Yaa, habisnya. Kentang mulu.!" kata Imam santai.
" Pokoknya nanti malam harus jadi, mas gak mau gagal lagi, Gak kasihan apa,?" sambung Imam dengan entengnya.
__ADS_1
" Mas, " sentak Arini, yang merasa malu sendiri dengan kejujuran suaminya. Lalu melepaskan pelukan suaminya.
" Apa, sayang. Sini peluk lagi!"
" Gak, mas mesum terus sih.!"
" Tapi, suka kan dimesumin sama ma?"
Arini membulatkan matanya, lalu mencubit perut Imam cukup keras.
" Aaauuu! sakit sayang."
Arini lantas menjulurkan lidahnya, lalu berlari kecil menuju dapur meninggalkan Imam disana, untuk membuat minuman.
Masih ingin menggoda Arini, Imam pun menyusul. Dilihatnya Arini nampak bingung karena belum ada apa - apa disana. Bahkan air putih pun tak ada.
" Disini belum ada apa - apa, Rin! Tadi mas udah pesen makan siang kita lewat G* **k. Jadi ditunggu saja, bentar lagi juga datang.!"
Arini tersenyum, lalu melihat - lihat seluruh perabotan dapur yang sangat lengkap dan mewah itu.
Sembari menunggu makanan yang dipesan datang, Imam mengajak Arini berkeliling rumah. Melihat seluruh isi rumah itu. Imam sangat bahagia menikmati wajah Arini yang sedaro tadi berdecak kagum itu.
Seperi yang dikatakannya tadi, Imam akan mengganti setiap deti kebahagiaan yang telah hilang dari hidup Arini.
Terima kasih, Yaa Allah. Engkau kembali memberikan kebahagiaan yang tiada tara ini. Memafkan mas Imam memang sulit, tapi hamaba yakin satu hal. Memaafkan memang tak akan menghapus masa lalu, tapi memaafkan pasti memperindah masa depan.
Terima kasih sudah mampir.
Maaf, bab ini cukup pendek. Karena mendadak Author kehilangan ide nii.!
Sehat selalu dan jangan lupa bahagia.
__ADS_1