
Dengan tergesa, Arini membayar belanjaan disebuah mini market yang tak jauh dari sebuah stasiun kereta. Hingga tanpa dia sadari, sebuah kartu ATM dan secarik karcis jatuh dari dompetnya.
Setelah melaksanakan pembayaran Arini segera keluar dari sana. Tapi suara seorang laki - laki menghentikan langkahnya. Suara seorang laki - laki yang tidak dia kenal.
" Mbak, tunggu.!" seru laki - laki itu. Arini lantas membalikkan badan, dan kini Arini berhadapan dengan laki - laki itu.
" Yaa, " ucap Arini menipiskan bibirnya.
" Ini tadi terjatuh saat anda membayar dikasir tadi.!" jawab laki - laki itu sambil menyodorkan secarik kertas tiket kereta api miliknya.
" Ooo, Alhamdulilah. Terima kasih.!"
Arini meraih secarik tiket itu. Menatap sekilas lalu menundukkan pandangan kembali. Laki - laki berkaca mata hitam itu tersenyum.
" Terima kasih, sekali lagi. Saya permisi.!"
Arini kembali berbalik, segera melangkah kaki kembali menuju stasiun, karena setengah jam lagi waktu keberangkatannya.
Sedangkan laki - laki itu masih memandang punggung Arini yang telah menghilang dibalik kerumunan orang -orang. Seulas senyum terbit dibibir pria alim itu.
" Astafirullah, kenapa aku memandangnya. Ingat zina mata, Man!" batin laki - laki bernama Firman itu. Laki - laki yang pernah disebut oleh alm. Fa'i dalam cerita masa lalunya.
Laki - laki alim yang rupawan. Firman yang dulu pergi menimba ilmu diMesir dan beberapa negara dijazirah arab kini telah kembali. Penampilan yang rapi dan bersahaja. Kini, dia mengajar disalah satu kampus Islam di Ibukota.
Yaa, Firman telah kembali 2 bulan yang lalu. Kembali ketanah kelahiran dengan pencampaian yang diimpikan, menjadi seoarang penghafal AL - Quran.
Penampilnya memang sedikit berbeda dari para penghafal lainnya. Dirinya masih tetap berpenampilan rapi, seperti pria metrosensual.
Meski kadang juga berpakaian syar'i dengan koko panjang dan surban, saat berada di komunitas para penghafal seperti dirinya.
" Firman, " panggil Andi dan Imam bersamaan karena mereka berjanji jumpa disalah satu cafe dekat stasiun itu. Firman yang sedari masuk memang mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dua sahabat baiknya itu. Dia lantas berjalan menuju meja itu dengan senyum diwajahnya.
" Asalamualaikum, " ucap Firman setelah sampai didepan kedua sahabat lamanya.
" Walaikumsalam, ustad!" jawab mereka bersamaan. Lalu berjabat tangan dan berangkaulan melepas rindu karena bertahun - tahun tak berjumpa.
" Maaf, terlamabat tadi habis mengembalikan karcis kereta seorang wanita dulu yang terjatuh dimini merket.!"
__ADS_1
" Ok, gak apa? "
" Ooyaa, An namanya kaya nama mantan istri kamu lho.!"
Deg, Imam dan Andi pun menatap pada Firman. Firman pun agak bingung dengan arti tatapn itu. Imam langsung membuka ponselnya lalu menyodorkan foto Arini yang memang dijadiakan layar belakang ponselnya.
" Apa seperti ini wajah Arini itu.?"
Firman mengamati foto itu, lalu mengangguk.Tapi, saat akan menjawab Imam langsung beranjak dan berlari meninggalkan Andi dan Firman begitu saja.
Firman semakin bingung dibuatnya, sementara Andi tak begitu kaget dengan tindakan Imam. Karena mamang dia tahu semua permasalahan yang terjadi antara Imam dan Arini.
" Kamu tahu Man, Arini yang kamu temui tadi adalah istri alm. Fa'i. Dan Imam begitu memcintai dia begitupun sebenarnya dengan ku.!"
Firman mengerutkan dahinya, tak percaya dengan ucapan Andi. Sementara Andi menghela nafas dalam. Sejujurnya memang masih ada cinta untuk Arini dihati Andi.
**
Imam, berlari kesana - kemari mencari keberadaan Arini. Tak peduli apapun lagi Imam hanya ingin berjumpa dengan perempuan itu.
Yaa, Allah bantu hamba menemukan Arini. Ijinkan hamba bertemu dengan Arini. Rin, kamu dimana, please tolong jangan lari lagi. Cukup kami berlari setahun ini.!"
" Arini.!" panggil Imam yang telah berdiri disamping kanan Arini.
Deg,
"Suara ini,_ tidak - tidak.! Aku hanya salah dengar.!"
" Arini.!" panggil Imam lagi, karena mengerti Arini pasti belum ingin bertemu dengan dirinya.
Arini pun memberanikan diri menoleh, matanya membulat sempurna. Melihat sosok tinggi menjulang didekatnya.
"Mas, Imam.!" batin Arini. Membeku ditempat, kilatan kemarahan dan kekecewaan kembali menyeruak dihatinya.
Setelah beberapa detik mematung dan bisa menguasai diri, Arini bangit dari duduknya. Meraih tas jinjingnya lalu melangkah pergi tanpa mengucap satu kata pun pada Imam.
" Tunggu, Rin! Sampai kapan kamu akan berlari dari kami. Kita harus bicara, masalah tidak akan pernah selesai dengan kamu terus lari dan menghindariku.!" sentak Imam, yang menghalangi langkah Arini dengan berdiri didepannya.
__ADS_1
Arini menunduk masih enggan untuk menatap ataupun menanggapi perkataan Imam.
" Bisa kita bicara baik - baik, Rin!"
Arini mengangguk pelan tanpa menatap laki - laki didepannya. Imam pun sedikit lega melihat Arini yang akhirnya menerima ajakannya itu.
Mungkin benar, masalah bukan untuk dihindari. Semua sudah berlalu, setidaknya ketika nanti aku pergi dari kehidupan mereka tak ada lagi beban dan kekecewaan dihati.
Akhirnya Arini mengikuti Imam yang mengajaknya berbicara disebuah kedai kopi tepat didepan pintu masuk stasiun. Arini duduk berhadapan dengan Imam yang telah kembali dengan dua paper cup berisikan capuccino hangat.
" Minumlah,!" ucap Imam, meletakan satu paper cup didepan Arini.
" Bisakah anda tidak berbasa - basi, cepat katakan apa yang anda ingin sampaikan pada saya.!" tegas Arini dengan tatapan dingin, namun tak menatap Imam sedikitpun.
Imam menghela nafas pelan, ditatapnya wajah ayu Arini yang hampir membuatnya gila beberapa tahun terakhir. Wajah ayu yang masih sama seperti dulu. Bukannya mulai berbicara, Imam malah hanyut dalam pikiran dan hatinya sendiri. Debug jantungnya masih sama seperti empat tahun lalu kala dirinya menyadari perasaan haramnya pada perempuan yang berada ditempatnya saat ini.
" Rin, kamu tidak berubah. Wajahmu masih teduh menyenangkan hati setiap orang yang memandangmu. Sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu, apa kamu tahu. Aku juga tersiksa dengan rasa ini terlebih rasa bersalah pada kamu dan Fa'i.!"
Sementara Arini masih diam tak bergeming, menunggu sampai lawan bicaranya itu. Sampai beberapa menit, akhirnya Arini memyadari Imam menatapnya intens.
" Tidak seharusnya anda menatap saya seperti itu.!"
Imam mengerjab, tersentak dengan perkataan Arini yang menohok. Dalam hati Imam merutuki dirinya sendiri.
" Jika, anda masih tak berbicara, lebih baik saya pergi.!" Arini bangkit dari duduknya.
" Maafkan saya, Arini.!" Tolong dengarkan saya dulu.!" Sahut Imam memohon, sambil menahan lengan Arini agar tidak pergi.
Arini pun melirik tangan Imam yang masih setia mencengkeram lengan kanannya. Meski tak sakit, tapi Arini tak bisa meneranya.
" Oo, maaf. Saya tak bermaksud apa - apa.? Saya hanya repleks.!" ucap Imam melepaskan tangannya.
Arini pun kembali mendudukan diri, sambil berharap semua akan selesai dengan pembicaraan itu.
Terima kasih, sudah mampir dan membaca.
Maaf, jika cerita ini membuat kalian kecewa. Namun, cerita yang saya buat hanya fiktif belakang. Saya hanya menyampaikan pemikiran saya yang juga masih belajar tentang kehidupan. Kita hanya menjalani takdir Tuhan. Begitupun cerita ini, yang setidaknya bisa memberikan pelajaran untuk kita. Ambilnya sisi positifnya saja.
__ADS_1
Jika memang memgecewakan, saya mohon maaf. Maaf karena tidak sesuai ekspektasi kalian semua. hhhhh🤗🤗
Semoga sehat selalu dan murah rejeki. Allah selalu melindungi kita semua. Aamiin.!