
Setelah kepergian Imam dan keluarganya yang entah kemana itu, Arini mulai mengingat - ingat sesuatu. Hatinya merasa ada sesuatu yang disembunyikan mbak Amira darinya dan mas Fa'i.
Ingin rasanya beberapa kali bertanya yang sebenarnya pada kakak iparnya itu. Bukan karena masalah yang terjadi pada Imam tentunya. Tapi, Aisya lah yang menjadi alasan kuatnya.
Rindu yang membuncak pada bayi cantik yang kini telah berusia satu tahun lebih. Tiap waktu Arini tak hentinya merindukannya. Membayangkan gadis kecil itu telah bisa berjalan sendiri, berceloteh dengan riangnya. Mungkin juga dia sudah bisa bicara beberapa kata.
Membayangkan itu, semakin membuatnya rindu. Dan kali ini tekatnya kuat untuk mencari tahu semuanya lewat mbak Amira.
Pagi itu setelah suaminya berangkat kerja, sementara baby AL telah tertidur pulas setelah mandi. Arini mengajak mbak Amira berbicara empat mata. Sempat mbak Amira menolak, karena sepertinya tahu apa yang ingin dibicarakan Arini.
" Mbak, Amira tahu kan sebenarnya tentang kepergian mas Imam.?" ujar Arini meninggikan suaranya, karena mbak Amira memilih menghindarinya.
Mbak Amira pun menghentikan aktifitas memcuci piring. Menghela nafas pelan, lalu berbalik mendekati Arini setelah memcuci tangannya.
" Kamu ingin tahu yang sebenarnya kan, Rin. Baiklah mbak akan beritahu semuanya. Tapi, kamu harus janji jangan pernah memberitahu pada suamimu.!"
Sesaat Arini bingung, haruskah nantinya menyembunyikan fakta yang sebenarnya dari suaminya. Sementara sang suami masih saja mencari tahu tentang keberadaan mereka. Lalu, terpaksa Arini mengangguk dan menyanggupinya.
Mbak Amira mengajak Arini ke teras belakang, supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Menghela nafas pelan, mbak Amira siap menceritakan semuanya.
" Imam pergi keJerman untuk meneruskan pendidikan specialisnya dan kamu tahu apa alasan sebenarnya Imam pergi. ?"
Arini masih diam mendengarkan cerita mbak Amira dengan seksama.
" Imam pergi karena jatuh cinta pada kamu, Rin."
Deg,
mendengar hal itu, membuat Arini lemas seketika. Gendang telinganya bagaikan tersambar petir dan guntur yang menggelegar.
Arini terduduk tak berdaya, wajahnya pucat. Tak tahu harus bagaimana menanggapai kenyataan itu.
__ADS_1
" Itulah sebabnya, mbak tak ingin memberitahu ini pada kamu terlebih Fa'i."
" Bagaimana bisa mas Imam mencintaiku mbak, padahal selama ini aku tak merasa dekat apalagi perhatian padanya. Bagaimana bisa itu terjadi.?" tanya Arini dengan suara bergetar, perasaannya bercampur aduk dalam hati.
" Ketulusan kamu menyayangi Aisya yang membuatnya jatuh hati. Apalagi, saat itu hatinya dalam keadaan hampa setelah kepergian."
Arini tak menyangka, setiap ketulusan yang dilakukan pasti ada yang rasa tidak wajar yang menodainya. Dulu saat dia tulus memperlakukan Danies, membuat papanya Andi jatuh hati. Sekarang pun terulang kembali tanda terduga.
" Apakah aku salah tulus sepenuh hati menyayangi Aisya. Apakah setiap ketulusan selalu mampu meluluhkan hati seseorang.? Mengapa kamu harus mencintaiku mas, dan membuat ku jauh dari Aisya.?"
Arini duduk termenung dikamar sore itu, saat baby AL diajak bermain mas Haris dan Sarah ditaman belakang. Pikiran dan hatinya masih kacau mengetahui kenyataan itu. Dirinya tak tahu bagaimana harus menyikapi semuanya.
Haruskah diam saja, sementara kerinduan pada Aisya masih saja memenuhi hatinya. Apakah harus seperti Imam, berpura - pura tak terjadi apapun. Melupkan semua yang diketahuinya. Membiarkan perasaan rindunya pada Aisya, perlahan memudar seiring jalannya waktu.
Klekkk,
suara pintu kamar terbuka, lalu masuklah sosok tampan pemilik hati seorang Arini. Namun, Arini masih diam larut dalam lamunannya.
" Assalamulaikum." salam Fa'i tapi tak dijawab Arini, pikiranya masih melayang entah kemana.
" Ehhh, mas sudah pulang?" tanya Arini mengerjab, kesadarannya kembali dari lamunannya.
" Kamu kenapa sayang, mikir apa sampai melamun begitu? Apa ada masalah.?" tanya Fa'i, setelah tadi Arini mencium tangan suaminya.
" Tidak ada mas, hanya merindukan Aisya. Mas tahu itu kan.?"
" Sabar yaa, secepatnya mas akan menemukan mereka. Kamu juga bantu doa yaa.?" jawab Fa"i sambil merapikan anak rambut Arini didahinya.
" Ehmmmt, mas. Mulai sekarang sudah yaa gak usah cari mereka lagi. Kata mbak Amira dulu kan mereka pasti kembali. Kita tunggu saja.!"
" Tadi kamu bilang rindu pada Aisya?"
__ADS_1
" Iya, tapi aku tak ingin membebani mas. Mas semakin kurus karena masalah ini. Aku tak ingin mas sakit.!"
Arini berhambur memeluk sang suami, membenamkan wajahnya, tak ingin kegundahan hatinya diketahui suaminya.
Jujur saja, ini terlalu berat untuk Arini. Menyembunyikan fakta menyakitkan ini dari suaminya. Arini merasa bersalah tak mampu berkata jujur, karena sebuah janji pada mbak Amira.
Maaf mas, aku harus berbohong dan menutupi semua rahasia yang telah aku. Aku tahu bagaimana usahamu untuk menemukan keberadaan Aisya dan mas Imam. Aku tak tega melihatmu seperti ini mas. Maafkan aku.
Fa'i merenggangkan pelukannya, menatap lekat wajah istrinya. Mencoba menelisik sebuah kejujuran dari mata Arini. Namun, nihil sorot mata Arini yang sembab, menyiratkan kerinduan pada Aisyalah yang justru lebih terlihat disana.
" Maaf yaa Rin. Sepertinya kita memang harus menunggu mereka kembali. Semua yang mas lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali. Imam benar - benar sudah merencanakan ini semua dengan matang. Sampai - sampai tak ada informasi sedikitpun." ujar Fa'i pasrah.
Kepasrahan Fa'i membuat hati Arini seakan terkoyak. Arini tak sanggub membayangkan bagaimana bahagianya Fa'i, jika dia memberitahu informasi keberadaan Imam. Pastinya dia akan bersyukur, atau bahkan langsung terbang menyusul sahabatnya itu.
Tetapi, bagaimana perasaan Fa'i jika Arini juga memberitahu tentang alasan Imam pergi dan menghilang. Entahlah ! Tak bisa dibayangkan.
" Mandi, gih!" seru Arini melepaskan pelukan suaminya. Menatap dalam mata itu. Teduh memang tapi goresan kekecewaan masih sekilas terlihat.
Fa'i mengangguk, lantas menerima handuk dari istrinya. Bergegas menyegarkan tubuhnya, agar penat yang dirasa luruh bersama air mandi itu.
" Mas, "
"Hemm " Jawab Fa'i berbalik sebelum menutup pintu kamar mandi.
" Aku mencintaimu.!" seru Arini berhambur memeluk suaminya, lalu mengecup bibirnya sekilas.
Fa'i masih terpaku akan tingkah Arini yang begitu menggemaskan kali ini. Apalagi dia langsung tersenyum malu dan pergi keluar kamar, meninggalkan Fa'i termenung didepan pintu kamar mandi.
Maaf, karena harus berbohong mas. Aku tak ingin cintamu padaku goyah. Aku juga tak ingin persahabatanmu hancur karena aku. Aku hanya mencintaimu Mas. Percayalah, aku tak pernah berniat sedikitpun membuat mas Imam jatuh cinta padaku dengan sikapku ini.
Arini bersandar dipintu kamarnya, menyakinkan hatinya. Inilah yang terbaik.Berbohong demi kebaikan, tak apa kan? Berharap semoga Allah mengampuni dosanya karena berbohong pada suami tercintanya.
__ADS_1
Terima kasih, maaf lama.
semoga berkenan dihati. Sehat selalu semua.