Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
57. Terakhir kali


__ADS_3

Sore itu Arini dan Fa'i memang sengaja datang, untuk melihat Aisya. Karena tiga hari kemarin Imam tak menitipkan pada Arini. Sebenarnya bukan sebuah kesengajaan, tapi Ibu Dewi sedang tidak sibuk mengurus Cafe serta Cateringnya.


" Apa kabar, Fa, kamu juga Rin?" sapa Imam yang kemudian duduk disamping Ibunya.


" Baik, Mam. Kamu sendiri.?" tanya Fa'i balik, sementara Arini hanya tersenyum menatap Imam sekilas.


" Alhamdulilah, baik juga."


Mereka pun berbincang diruang keluarga itu, Arini nampak begitu rindu pada Aisya. Tak henti - henti Arini menciumi pipi tembemnya. Gemes.


Jujur saja, Imam sangat menikmati pemandangan itu. Melihat tawa renyah putrinya, seketika membuat hatinya menghangat. Ditambah lagi, dirinya dapat melihat senyum dan tawa Arini yang begitu manis.


Imam seolah lupa, jika disana ada Fa'i, Pemilik perempuan itu. Tanpa disadari Imam tak berkedip menatap wajah cantik didepannya. Untung saja Fa'i juga turut bercengkrama dengan Arini dan Aisya. Jadi tak mungkin akan menyadarinya.


Mungkin ini akan jadi saat terakhir ku melihat senyum kamu, Rin. Dan terakhir untukmu juga Fa, aku melihat kamu. maafkan aku.!


Sementara ibu Dewi yang menyadari sikap anaknya, lantas mengusap pelan lengan kiri putranya. Membuat Imam mengerjapkan matanya, kembali tersadar dari pandangan kagumnya pada Arini.


Imam menoleh pada ibunya, tersenyum seolah tahu kekhawatiran dari sang ibu.


" Astaqfirullahhalazim. 3x." Imam beristifar karena mengagumi penuh cinta wanita yang ada didepanya.


"Jangan seperti ini, nak." lirih Bu Dewi didekat telinga putranya. Imam kembali tersenyum mengenggam tangan ibunya.


" Berilah kemudahan untuk putra hamba yaa Allah. Jangan biarkan hatinya semakin mencintai Arini. Jangan biarkan dirinya semakin terjerumus dalam laranganMu serta dosa - dosa yang menyesatkan yang akan meruntuhkan imannya."


Bukanya bu Dewi tak menyukai sosok perempuan seperti Arini. Hanya saja keadaan dan status istri orang lain lah yang membuat semua berat dan tak mungkin terjadi.


Imam beranjak kedapur mengambil air putih, sebenarnya bukan itu alasannya. Menenangkan debaran jantungnya juga peperangan batinya dihatinya.


Rasa bahagia melihat wajah cantik pujaan hati dan rasa bersalah pada sahabat baiknya. Apa mau dikata cinta tak dapat ditebak pada siapa akan berlabuh.


" Astagitullah, yaa Allah. Mengapa aku harus mencintainya.?" gumah Imam, meraup wajahnya gusar. Tanpa disadari Arini datang dan mendengar ucapannya.

__ADS_1


" Mas Imam mencintai siapa?"


Deg,


Jantung Imam seakan berhenti saat itu juga. Memejamkan matanya, Imam merutuki kebodohannya sendiri.


" Haah, bukan siapa - siapa kok Rin. Kamu salah dengar mungkin!" jawab Imam terlihat salah tingkah saat berbalik dan berhadapan langsung dengan sipencuri hatinya.


" Kamu perlu apa kedapur.?" sambung Imam mengalihkan pembicaraan, supaya Arini tak bertanya lebih jauh lagi.


" Mau buatin susu untuk Aisya mas!"


" Ooo, biar aku saja. Kamu kembalilah kesana.!"


" Biar aku saja mas, mas kelihatan capek banget. Apa mas Imam sakit?" tanya Arini yang melihat Imam seperti kurang sehat dan tak bersamangat.


" Tidak, aku baik - baik saja."


Imam pun mempersilahkan Arini menbuatkan susu untuk putri kecilnya. Sementara Imam kembali menebak sisa air minum dalam gelas ditangannya. Sambil sesekali melirik Arini disana.


Imam, sadarlah. Kamu sudah mulai tak terkendali sekarang. Kendalikan dirimu, Mam. Mengapa kau terus menambah dosa dalam hatimu.


Arini yang telah selesai, akhirnya kembali keruang keluarga. Sedangkan Imam masih disana memandangi punggung Arini hingga tak terlihat.


" Terakhir kali Rin. Aku ingin melihat mu lebih lama lagi. Setelah ini aku berharap, perasaanku yang tidak wajar ini hilang seiring berjalannya waktu."


Tepat setelah sholat maghrib, Arini dan Fa'i pamit untuk pulang. Karena Baby AL juga tak dibawa serta. Meski masih kangen tapi, Arini tetap harus pulang.


Entah mengapa tiba - tiba perasaannya menjadi gelisah. Ada sebuah rasa yang susah untuk diungkapkan. Rasanya begitu berat berpisah dengan Aisya. Ingin rasanya Arini berlama - lama memdekap bayi cantik itu, menciumi wajahnya. Seolah saat itu adalah saat terakhir Arini bersama Aisya.


" Kamu kenapa sayan.?" tanya Fa'i yang sedari tadi memperhatikan kegelisahan istrinya itu.


" Aku juga gak tahu, mas. Tiba - tiba aku merasa aku akan berpisah dengan Aisya. Seakan ini pertemuan terakhirku dengannya."

__ADS_1


" Sayang, mungkin kamu masih kangen sama Aisya. Jangan dipikirkan lagi. Kalau ada waktu kita bisa kesana lagi. Atau mungkin kita ajak jalan - jalan." ujar Fa'i menenagkan hati istrinya. Lalu digenggamnya tangan Arini, setelah tadi menciumnya.


Arini pun sedikit tenang karena suaminya. Sebenarnya Fa'i juga merasa ada sesuatu yang bakal terjadi. Tetapi, dia tak ingin menambah kekhawatiran istrinya. Biarlah besok dia akan mencari tahu sendiri dan bertanya pada Imam.


Keesokan harinya, Fa'i berusaha menemui Imam dirumah sakit. Tapi, Imam tak masuk kaya asistennya dipoliklinik. Ponselnya pun tak dapat dihubungi.


Fa'i masih berusaha memghubungi sahabatnya itu, disela - sela istirahat saat menjalani beberapa operasi hari ini.


Sebenarnya perhari ini sudah resmi keluar dari pekerjaannya dirumah sakit itu juga rumah sakit satunya. Namun, tak ada yang mengetahui kecuali direktur rumah sakit.


Mungkin sedikit keterlaluan, Imam dokter yang selalu ramah itu tega pergi tanpa pamit pada rekan - rekan kerjanya dirumah sakit sejak 5 tahun yang lalu.


" Sebenarnya ada apa dengan kamu, Mam. kenapa akhir - akhir ini kamu seolah menghindari ku." batin Fa'i yang hampir putus asa untuk menghubungi Imam.


Sebagai sahabat yang sudah puluhan tahun mengenal Imam. Fa'i tahu benar sosok Imam tak mungkin bersikap seperti ini.


Sejak awal persahabatan mereka, baik Fa'i atau pun Imam tak akan bisa menyembunyikan apapun dari sahabatnya. Walau hal sekecil apapun mereka pasti berbagi dalam susah dan senang bersama.


Begitu pun dengan Imam, yang sejak pagi sibuk dengan persiapannya pergi ke Jerman. Nanti malam adalah penerbangannya. Rencana awal Imam akan memboyong Aisya dan ibu.


Tapi, ayahnya melarang dan memberi saran agar ibu dan Aisyah pindah saja ke kampung halaman beliau. Tentu saja disana lebih aman. Tak ada yang tahu kampung halaman mereka.


Dengan berat hati Imam harus rela terpisah dari putri kecilnya. Putri semata wayangnya yang menjadi kekuatan terbesarnya saat ini.


Imam pun sudah mewanti - wanti siapapun yang tahu mengenai kepergiannya., untuk tidak memberi tahu siapapun lagi. Terutama Fa'i dan Arini.


Waktu dua sampai tiga tahun harus dimanfaatkan sepenuhnya untuk melupakan Arini dan meraih gelar impianmya. Mengubah hidupnya menjadi lebih baik dan lebih sabar menghadapi kerasnya dunia.


Terima kasih, Author gak maksa untuk Like, comment ataupun Vote dari kalian semua.


Author juga sadar masih banyak kekurangan.


Jadi bagi yang suka membaca, semoga bermanfaat.

__ADS_1


Semoga kalian semua selalu sehat dan dilindungi Allah SWT. Aamiin.


__ADS_2