
Sesampainya dilorong depan ruang operasi, Arini melihat seluruh anggota keluarganya, menanti kelahiran anggota baru kelurarga itu.
"Assalamualaikum."
" Walaikumsalam." jawab semua orang disana. Ada Umi, Abi, mbak Amira dan kedua mertua Sabina.
Arini lantas menyalami mereka satu persatu.
" Bagaimana pemeriksannya tadi, Sayang?" Tanya Umi yang menyuruh Arini duduk disampingnya, mengenggam tangan menantunya itu.
" Alhamdulilah, Umi. Semuanya baik." jawab Arini seraya membalas genggaman mertuanya itu.
Semenjak Umi dan Abi memutuskan tinggal di Bandung, beberpa bulan lalu. Ini kali pertamanya bertemu dengan kedua mertuanya itu.
Entah, apa yang terjadi sebenarnya. Arini enggan bertanya perihal keadaan Sabina dan bayinya.
Dilihatnya wajah kecemasan dari orang - orang disana. Membuatnya mulai berfikir yang tidak - tidak.
" Semoga kamu baik - baik saja Bin. Semoga Allah melindungi kamu dan bayimu.!" batin Arini.
Tak lama Fa'i keluar dari ruang operasi. Semua tatap mata mengarah padanya, namun perlahan Fa'i mendekati Umi yang masih duduk didampingi Arini.
Entah, bagaimana ekspresi Fa'i dari balik masker yang masih menutup sebagian wajahnya.
Arini yang melihat mata suaminya, merasa ada hal buruk yang terjadi pada Sabina.
Fa'i melepas maskernya, berlutut didepan Uminya. Menatap Umi dengan wajah datar yang sulit diartikan.
" Fa, bagaimana keadaan adik kamu.?" tanya Umi yang setenang mungkin mengendalikan emosinya.
" Maaf, Umi. " ucap Fa'i menggelengkan kepalanya dan matanya mulai basah.
Lalu memeluk Uminya dengan erat. Membuat suasana semakin diliputi kesedihan.
Abi, mbak Amira dan kedua mertua Sabina menahan nafas sejenak, memejamkan matanya. Seolah menyakinkan diri sendiri, ini bukan berita buruk.
Fa'i melepaskan pelukannya, menatap wajah sang ibunda yang telah siap mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Fa'i menarik nafas dalam. Mungkin menata hati dan kata - kata untuk disampaikan pada Umi dan yang lainnya.
" Umi, Sabina sudah pergi.!"
Berita itu seperti petir yang menyambar gendang telinga semua orang disana.
__ADS_1
Seketika Umi langsung tergolek tak berdaya, begitupun mbak Amira. Kepanikan pun terjadi disana. Tak lama beberapa perawat datang membawa brankar, setelah Fa'i berteriak memanggil mereka.
" Sayang.!" panggil Fa'i pelan, mendekati istrinya yang masih duduk termenung disana.
Sedang suaminya itu baru menghampirinya, setelah tadi memastikan keadaan Umi dan mbak Amira. Telah baik - baik saja.
Arini tak menoleh, tatapan matanya kosong. Namun, terlihat jelas pelupuk matanya digenangi air mata yang siap tumpah.
Mungkin, Arini berusaha menahannya. Walau sangat kehilangan. Tapi, Arini berusaha tak ingin menangisi kepergian sahabat baiknya.
Sabina pergi, kembali pada sang Pencipta dengan cara yang sangat indah. Perjuangan seorang wanita yang sungguh - sungguh mulia. Dan Allah telah menjanjikan surga untuk wanita - wanita seperti Sabina.
" Kita pulang yaa,." ajak Fa'i meraih jemari tangan Arini. Lalu digenggamnya erat.
Tanpa menjawab, Arini lantas bangkit dari duduknya. Diikuti sang suami yang menatapnya iba. Meski dirinya juga merasakan kehilangan yang mendalam. Tapi, Arini mungkin lebih kehilangan sosok sahabat baik yang tak melihat siapa dirinya.
Dengan cepat Arini berbalik menghadap suaminya lalu memeluknya. Tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah juga.
Arini tersedu dalam dekapan sang suami yang akhirnya juga ikut menangis disana.
Fa'i tak tahu bagaimana menenangkan istrinya. Karena sejujurnya, Fa'i begitu terpukul dan merasa bersalah. Dirinya merasa gagal menyelamatkan adiknya. Adik yang selalu memikirkan kebahagiaannya.
Hanya pelukan erat yang mampu mereka berikan. Sebagai ungkapan rasa saling menguatkan. Karena kata - kata tak mampu terucap oleh bibir keduanya.
Imam termenung disamping jasad sang istri tercinta, dari wajahnya terlukis jelas kesedihan itu. Matanya basah, namun tak dibiarkan air mata itu luluh lantah diwajahnya. Dia tak ingin menangis dihadapan jasad istrinya itu. Kepergian Sabina sungguh pukulan berat bagi seorang Imam.
Disaat kehadiran sang buah hati, Imam juga harus kehilangan istrinya, cinta pertama, sekaligus ibu dari putrinya.
Namun, Imam sadar akan kuasa Allah ta'alla.
Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati.
Semuanya berduka, kehilangan memang sangatlah menyakitkan. Namun, Iman dan taqwa dalam hati membuat mereka berpasrah pada Illahi.
Ikhlas mungkin mudah diucapkan. Tapi, hati manusia biasa terlalu rapuh. Sulit untuk melakukan. Bagi Imam dan yang lainnya, kini hanya berpasrah dan percaya akan segala ketetapan yang maha kuasa. Allah SWT pemilik segalanya.
Pemakaman pun telah selesai dilakukan. Kini sosok Sabina yang selalu ceria dan tersenyum bahagia, telah pergi selama - lamanya. Jasadnya tertimbun tanah dalam pusaran tanah merah, yang kini menjadi pembaringan terakhirnya.
Siapa yang tak ingin kembali pada sang pencipta dengan cara yang luar biasa indah. Seperti Sabina Elysia A'hariq binti Umar Hadi Assalam.
Ba'da Isya, selepas pemakaman itu, Fa'i dan Imam duduk termenung diteras samping. Suasana hening tak ada obrolan seperti biasanya. Padahal dua sahabat baik itu selalu saling berbagi cerita. Namun kali ini keduanya diam, entah kemana pikiran mereka berkelana.
__ADS_1
Fa'i menghembuskan nafas pelan. Lalu memulai memecah keheningan diantara mereka.
" Maaf aku.!"
" Semuanya bukan salah kamu Fa." sahut Imam setelah beberapa saat tak menyahut perkataan sahabatnya itu.
" Selama ini dengan ijin Allah, tanganku ini telah mampu menyelamatkan ratusan nyawa dimeja operasi. Tapi, hari ini Allah tidak mengijinkan aku menyelamatkan nyawa adikku sendiri." Ucap Fa'i dengan suara parau menahan tangis yang sedari tadi ditahan.
" Kita hanya menjalani hidup ini Fa, aku sangat kehilangan Sabina. Tapi, putri kami lebih kehilangan. Dia belum melihat sosok ibunya, belum merasakan sentuhan lembut tangannya. Juga belum memiliki kenangan indah bersamanya." Pelan Imam yang terlihat lebih iklas menghadapi cobaan berat ini.
" Allah mempunyai rencana yang lebih indah, dibalik cobaan ini. Manusia boleh berencana. Tapi, Allah yang menentukan." Ujar Abi umar yang datang menghampiri mereka berdua.
" Kita semua, sayang padanya. Sedih kehilangan Sabina. Tapi, Allah lebih menyanyangi Sabina. " sambung Abi.
Fa'i dan Imam hanya menunduk, sekarang yang bisa dilakukan hanyalah belajar ikhlas. Iklas menerima segala takdir Allah. Jodoh hingga maut telah ditulis di Lauh mahfudz sebelum manusia dilahirkan kedunia.
Klekk,
suara pintu kamar Fa'i terbuka dari luar. Lalu muncullah siempunya dari balik pintu itu.
" Belum, tidur sayang.?"
Fa'i menutup pintu itu, kemudian berjalan mendekati Arini yang tengah duduk bersandar sambil membaca Al- quran ditangannya.
Arini menutup Al- quran lalu menggelengkan kepalanya
" Nungguin mas." Arini tersenyum meski kesedihan masih menyelimuti hatinya.
Tapi, Arini tahu suaminya menanggung beben pikis yang lebih berat darinya. Kesedihan yang bercampur rasa bersalah dalam hatinya.
" Mas darimana.?"
Bukannya menjawab Fa'i malah berhambur memeluk Arini dengan erat. Seketika tangisannya pecah saat itu juga.
Rasa duka, kehilangan dan rasa bersalah karena kegagalannya bercampur jadi satu dalam benaknya. Arini sangat mengerti kondisi sang suami.
Siapa pun akan merasakan hal sama, ketika gagal menyelamatkan orang yang disayang. Tak dapat dibayangkan, bagaimana perasaannya. Melihat adik tersayangnya, harus meregang nyawa dihadapannya. Apalagi tanganya tak mampu menyelamatkan hidup saudarinya.
Hai, semua apa kabar semoga sehat selalu.
Mohon maaf yaa baru bisa up lagi. meski misi merevisi belum selesai, tapi tetap diusahakan bisa lanjut bab berikutnya.
__ADS_1
Jangan lupa like comment dan vote yaa. tangkiyu..