
Deg,
hati Arini seakan meloncat keluar dari rongga dadanya. Matanya terbelalak, melihat sosok laki - laki yang tak asing baginya. Meski penampilan sedikit berubah, tapi Arini masih bisa mengenali laki - laki itu.
Laki - laki dengan kemeja biru muda dan celana bahan warna hitam, masih sama menawan seperti beberapa tahun yang lalu. Meski kini sebuah kaca mata berfrem hitam bertengger diwajahnya.
Berjalan memutari mobilnya, lantas membuka pintu sebelah kiri dan keluarlah seorang gadis kecil yang sangat cantik dan menggemaskan. Keduanya melangkahkan kaki memasuki pemakaman sambil membawa sekeranjang bunga tabur untuk berziarah.
Arini yang masih mematung disana, menatap gadis kecil itu dalam diam. Matanya berkaca - kaca melihat Aisyah, yaah gadis kecil itu adalah Aisyah putri kecilnya yang selalu dirindukan Arini.
Sementara laki - laki itu adalah Dokter Imam. Laki - laki yang sangat dihindari Arini.
Ingin rasanya Arini berlari menghampiri Aisyah saat itu juga. Mencium pipi tembemnya dan memeluknya penuh kasih sayang.
" Aisyah, ini bunda sayang. Kamu sudah besar sekarang. Kamu tahu, bunda sangat - sangat merindukan kamu sayang. Tapi, maaf bunda belum bisa menemui kamu sekarang."
Arini masih terus memperhatikan langkah kaki Aisyah, tak peduli Imam yang disamping gadis kecil itu.
" Arini, kamu gak boleh lemah. Kalau lebih lama aku disini, pasti mereka akan menyadari keberadaan ku.! Aku harus cepat pergi.!"
Arini lalu berjalan sambil menundukkan pandangannya. Kemungkinan kecil Imam akan mengenali dirinya karena memakai masker dan kaca mata hitam yang menutupi wajahnya. Arini terus berjalan sampai pada akhirnya dirinya berada dilangkah yang tepat bersimpangan dengan Imam dan Aisyah.
Waktu seakan berjalan melambat ketika Arini tepat disebelah mereka. Ingin rasanya Arini menoleh, menatap Aisyah. Lalu tanpa sengaja, Arini sedikit menyenggol tangan Aisyah. Pelan. Hingga membuat tasbih ditangannya jatuh disana.
Menyadari itu, Arini buru - buru mempercepat langkahnya. Namun, panggilan Aisya terdengar ditelinganya. Entah mengapa langkahnya terhenti begitu saja.
" Tante, tunggu.!" Aisya melepaskan genggaman tangan papanya kemudian berlari mengejar Arini.
" Aisya, kenapa kamu harus memanggil sayang.? Haruskah aku berbalik. Apa yang harus aku lakukan yaa Allah.?" batin Arini mematung ditempat.
" Tante, ini jatuh.!" ucap Aisya yang sudah berdiri didekatnya. Arini menoleh dan menundukkan pandangannya pada gadis kecil itu.
Arini lalu berlutut, mensejajarkan tinggi badannya dengan Aisya agar lebih lelusa menatap putri kecilnya.
__ADS_1
" Ooiyaa, terima kasih yaa, sayang.!" pelannya mengusap rambut Aisya.
" Cantik namanya siapa, sayang ?"
" Aisya, tante.!"
" Aisya cantik boleh, tante peluk kamu.?"
Aisya pun mengangguk, Arini memeluk penuh kasih. Mengusap rambut panjangnya lembut. Mencurahkan segenap rindu yang mengakar dihati. Ingin rasanya Arini melepas masker dan kacamatanya, agar dapat menciumi wajah putri kecilnya itu.
" Ehemm," suara deheman Imam mengagetkan Arini, seketika langsung melepaskan pelukannya pada Aisya.
" Terima kasih Aisya cantik, tante pergi dulu yaa!" bisik Arini tepat ditelinga Aisya, sehingga Imam tak dapat mendengar ucapannya. Bisa - bisa Imam mengenali suaranya.
Gadis kecil itu mengangguk senang, sedang Arini berdiri berhadapan dengan Imam. Segera Arini mengangguk segan, dan pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
" Sayang, kamu kenal tante itu.?" tanya Imam yang sedikit curiga karena sikapnya yang aneh.
" Tidak, pa. Tapi, Aisya seneng banget dipeluk tante itu."
Sampai disana Imam sengaja membuat janji dengan mbak Amira untuk berziarah bersama hari itu. Setelah bertegur sapa, Imam lantas berjongkok di dekat makam sahabat karibnya, menabur bunga dan mengirim untaian doa tulus dari hatinya itu.
" Maafin aku, Fa. Aku belum bisa memenuhi janjiku padamu. Aku belum menemukan Arini dan memohon maaf padanya. Tapi, aku akan tetap berusaha mencarinya.!"
Batin Imam, sebelum melangkah pergi dari sana beserta yang lainnya. Mungkin semua orang tak mengerti betapa kecewanya Imam pada dirinya sendiri atas peristiwa kecelakaan maut itu.
Sungguh hatinya hancur mendengar cerita dari mbak Amira dulu. Imam menghukum dirinya sendiri saat itu. Rasa bersalah karena kebodohannya membaut dirinya hampir menggila.
" Sudahlah, Mam. Tidak baik selalu menyalahkan diri kamu. Semua sudah takdir Allah. Ada atau tidaknya masalah itu, Fa'i akan tetap pergi jika itu memang ketetapan Allah SWT." Tutur mas Haris saat mereka semua mampir kekedai es krim yang tak jauh dari sana , atas permintaan Sarah yang kini sudah beranjak remaja.
" Aku tahu mas, tapi sampai sekarang kita tidak tahu keberadaan Arini dan bagaimana keadaannya.?"
" Tenanglah, Arini baik - baik saja. " sahut mbak Amira yang baru bergabung setelah tadi memesan es krim dimeja kasir itu.
__ADS_1
" Dari mana mbak tahu, apa mbak sebenarnya tahu keberadaan Arini sekarang.?" Sembur Imam tak sabaran.
" Huuft, tenanglah Mam. Tadi pas mbak sampai duluan dimakam Fa'i dan AL, ternyata sudah ada bunga segar bertabur disana. Dan siapa lagi kalau bukan Arini kan.? Sayangnya kami tidak bertemu dengannya, mungkin sudah pergi."
Imam terdiam sejenak, pikirannya menerawang entah kemana.? Setidaknya hatinya cukup tenang bahwa Arini dalam keadaan yang baik saat ini.
Deg, ingatan Imam kemudian mengarah pada kejadian waktu di pemakaman tadi. Seorang wanita yang memeluk Aisya dengan begitu eratnya, mengusap dan membelai rambut serta wajah Aisya begitu lembut penuh kasih sayang.
" Mungkin kah, wanita yang memeluk Aisya tadi adalah Arini. Haah, kenapa aku tadi tidak berbicara sedikitpun padanya.?"
Imam meraup wajahnya gusar. Ingatan akan hal itu dan kata hatinya saat itu, membautnya merutuki kebodaohanya sekali lagi.
" Sepertinya tadi kami bertemu dengan Arini saat masuk kepemakaman, mbak.!"
" Maksud kamu, Mam?" tanya mbak Amira kaget dan penasaran.
" Iyaa, tadi saat baru memasuki area pemakaman, tidak sengaja ada wanita yang menjatuhkan tasbihnya didekat Aisya. Lalu Aisya mengejar untuk mengembalikannya. Memang dia menutup wajahnya dengan masker dan kacamata hitam. Tetapi, saat dia memeluk Aisya aku jadi yakin kalau dia benar adalah Aisya.!"
**
Ditempat lain, Arini merutuki kebodohannya karena tak bisa menahan untuk tak memeluk Aisya, tadi.
" Bagaimana kalau, mas Imam menyadarinya. Yaa Allah. Aku harus lari lagi, pergi semakin jauh supaya tidak bertemu lagi dengan mereka. Tapi, kemana.? Apa aku kembali kekampung saja. Mereka pasti tidak akan menyangka aku disana. Karena mereka telah beberapa kali mencariku kesana.!"
Akhirnya Arini memutuskan pulang kekota kelahirannya, kareana pepatah mengatakan tempat paling aman untuk bersembunyi adalah tempat yang sering didatangi musuh itu sendiri.
Meski pelarian Arini bukan karena musuh, tapi anggaplah itu benar. Karena sesungguhnya Arini lari dari kenyataan yang menggores luka yang begitu dalam dihatinya.
Terima kasih sudah mampir dan membaca.
Maaf jika ceritanya tak sesuai harapan. Author yang banyak kesalahan, tapi konflik yang ingin diangkat Author bukan hanya mengenai percintaan rumah tangga tapi juga ketetapan dari sang pencipta jika dalam hidup, semua butuh perjuangan dan teka - teki hidup yang tak kita ketahui, contoh seperti kematian dan jodoh.
Yaa, tapi ini cerita menurut versi saya saja. Boleh kok kasih saran, siapa tahu nanti bisa saya pertimbangkan. Hhhhh.
__ADS_1
Sehat selalu semua.