
Setelah berbicara dengan Diana hampir 1 jam. Akhirnya Fa'i menuju mobilnya untuk pulang. Kasihan juga Arini menunggu terlalu lama.
" Yaa Allah, sungguh indah ciptaanmu ini. Terima kasih yaa Allah telah engkau kirimkan jodoh shalehah seperti dia. Ijinkan hambamu ini untuk mencintainya dan bantu hambamu yangg hina ini menjaganya." batin Fa'i ketika masuk mobil dan mendapati istrinya tertidur pulas begitu tenang dan damai.
" Rin, sayang bangun!" pelan Fa'i menyentuh lembut pipi Arini. Perlahan Arini membuka matanya dan melihat wajah Fa'i begitu dekat dengan senyuman yang sulit diartikan.
" Maaf mas aku ketiduran, gimana udah selesai dengan Diana?"
"Heemt, maaf yaa terlalu lama. sampai - sampai kamu ketiduran."
" G apa - apa mas, Ehmmt_" Belum sempat melanjutkan kata - katanya terdengar getaran dari ponsel Arini.
" Assalamualaikum, Bin ada apa?" Tanya Arini mengangkat telf dari Sabina
" Waalaikumsalam, Rin bisa kesini kerumah nggak? Aku lagi pingin banget makan sup seperti buatan Ibu dulu waktu masih kuliah Rin." Renggek Sabina dari sebrang sana.
" Bisa, Tapi agak sorean yaa."
" Iya, nggak apa - apa yang penting kamu kesini dan masakin aku sup ayam. Kamu nggak maukan punya ponakan ileran."
"Ehhh, tunggu deh ponakan ? Kamu hamil Bin?"
" Iya Rin, Alhamdulillah udah 6 minggu."
" Alhamdulillah, selamat yaa Bin"
Arini begitu bahagia mendenga berita itu. begitupun Fa'i.
" Ayukk pulang nanti keburu macet, g sabar pingin ketemu Sabina." Ucapnya semangat sedang Fa'i hanya tersenyum melihat istrinya begitu senang.
Setelah sampai diparkiran Apartemen. Fa'i langsung menuju masjid karena memang tepat Adzan Ashar berkumandang. Sementara Arini pun bergegas menuju apartemennya segera mandi dan sholat Ashar.
Arini sudah tak sabar bertemu Sabina, untuk mengucapkan selamat atas kehamilannya secara langsung pada sahabat, sekaligus adik iparnya.
" Masya Allah...."
__ADS_1
" Maka nikmat Tuhan - Mu yang manakah yang kamu dustakan !" batin Fa'i ketika melihat Arini begitu cantik dengan gamis warna abu muda dipadukan dengan pasmina warna krem itu.
" Mas, mandi gih ! Nanti takut kena macet inikan weekend." ucap Arini menyadarkan lamunan Fa'i mengagumi ciptaan Allah SWT.
" Haaah... Iya aku mandi dulu yaa" jawab Fa'i segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Senyumnya mengembang mengingat mengingat akhir - akhir ini dibuat tak karuan ketika melihat istrinya itu.
" Aaaaa.... " teriak Arini ketika melihat Fa'i keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada. Rambut yang masih basah, hanya handuk putih yang melilit bagian bawahnya.
" Ada apa Rin.? Mengapa berteriak gitu?" tanya Fa'i yang kaget dan melihat Arini langsung membalikan badannya membelakangi dirinya.
" Kamu kenapa seperti itu. ?"
" Haaa haaa, enggak apa kali Rin, aku kan suami kamu. Mengapa harus malu.? Kamu nggak mau liat." goda Fa'i yang mendekati Arini sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil itu.
Fa'i terkekeh ketika sampai didepan Arini yang menutup matanya frustasi, pipinya memerah gemes deh.
" Kamu yakin nggak mau liat aku? " Fa'i semakin senang menggoda Istrinya.
Arini yang menyadari keberadaan Fa'i didepanya menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya. Sambil menggeleng menjawab pertayaan Fa'i tadi.
" Bukannya nggak mau. Tapi, aku belum terbiasa melihatnya. " jawab Arini yang masih menutup matanya dan memalingkan wajahnya.
" Makanya biar terbiasa." Fa'i semakin gencar menggoda Arini, menuntun tangan Arini untuk menyentuh otot perutnya. Seketika tubuh Arini menegang, tangganya gemetar menyentuh perut kotak - kotak miliknya.
" Ayolah Rin buka matanya, " Ucap Fa'i dengan seringai jail yang semakin gemas, melihat wajah Arini merona dan menggigit bibir bawahnya.
Fa'i memegang dagu Arini supaya menghadap padanya. Walau sebenarnya jantung Fa'i berdebuk kencang. Tapi, tak membuatnya berhenti menggoda istrinya itu. Malah menikmati setiap detik perasaan itu.
Akhirnya Arini menyerah, dibukalah matanya perlahan. Seketika matanya membulat sempurna melihat itu. Apalagi kini tanganya menyentuh sesuatu yang baru petama kalinya bagi dirinya. Menyentuh tubuh seorang laki - laki kecuali ayahnya dulu. Terlihat oleh Fa'i kalau Arini menerbitkan senyuman dibibirnya, menyukai yang dia lihat dan sentuh saat ini.
" Kamu menyukainya Arini ?" mendengar pertanyaan Itu Arini mendongkan kepalanya menatap mata Fa'i yang sedari tadi intens menatapnya.
Melihat mata Arini sebenarnya membuat Fa'i seperti kehilangan kendali, mata indah itu begitu membius dirinya. Perlahan Fa'i menundukkan wajahnya. Semakin lama semakin dekat dan akhirnya.
Cup
__ADS_1
Fa'i mengecup kening Arini, dan membuat Arini memejamkan matanya kembali, merasakan kecupan pertama Fa'i pada dirinya. Sekaligus ini yang pertama kali bagi Arini diketcup oleh laki - laki selain ayahnya dulu yang melakukannya. Rasanya pun berbeda.
" Perasaan apa ini kenapa hatiku berdesir, rasanya ada setetes embun yang menyejukkan hati ini." batin Fa'i setelah selesai dan menatap Arini yang mulai membuka matanya.
Arini tersenyum menunduk malu, tak menatap Fa'i hingga membuat Fa'i semakin gemes, melihat tingkah malu - malu istrinya. Entah mengapa tangan Arini masih begitu betah menyantuh perut suaminya.
" Arini." lirih Fa'i. Perlahan menangkupkan kedua tanganya dipipi Arini, dituntunya wajah Arini menatapnya kembali. Tapi, Fa'i malah menatap intens bibir merah bak delima, yang begitu menggodanya. Sebuah senyum tipis membuat Fa'i semakin menundukan wajahnya perlahan- lahan. Semakin dekat dan
5 cm
4 cm
3 cm
2 cm
semakin dekat lagi, Namun ketika jarak tinggal 1 cm.
Suara getaran ponsel Fa'i diatas nakas dekat ranjang, membuyarkan semuanya.
Arini langsung menarik tangannya dan sedikit menjauh dari suaminya. Senyum malu - malu dan perasaan kikuk pun menyergap mereka.
" Astagfirullah, siapa sih yang mengganggu. "
batin Fa'i sedikit kesal, lalu bejalan untuk mengambil ponselnya. Ternyata pesan whatsapp dari Imam
" Kakak ipar nanti tolong sekalian mampir ketoko buah beli buah untuk bikin rujak"
Fa'i pun tersenyum membacanya. Imam sahabatnya itu, memanggil dirinya kakak Ipar.
Diliriknya Arini menyibukan diri mengambil pakaian ganti untuk dirinya. Fa'i pun tersenyum karena menyadari tingkahnya menggoda Arini seperti tad. Ehhh malah membangkitkan hasratnya sendiri.
Maaf yaa babnya baper - baperan dulu, soalnya siautornya juga lagi baper niih... hhhhhh
Terima kasih..
__ADS_1