
Setelah kejadian tadi pagi. Terjebak didalam lift bersama Danies. Kantor menjadi riuh, banyak karyawan yang membicarakan Aisya. Bahkan diseluruh penjuru gedung ' Angkasa Groub '. Membicarakan Aisya yang tidak - tidak.
Mulai dari Aisya yang dituduh cari kesempatan dalam kesempitan. Sampai Aisya yang dibicarakan mereka, kalau Aisya sengaja mendekati pak Boss. Untuk memuluskan semua novelnya dengan mudah dirilis.
" Gak nyangka yaa, gadis yang kelihatannya polos itu. Berniat juga deketin pak Danies." kata Gia. Salah satu staf devisi marketing itu.
" Yaa, siapa sih yang gak tertarik sama pak Danies. Udah ganteng tajir melintir pula. Tuu, anak pasti juga naksir sama pak Danies.!" Timpal Nana yang juga teman Gia.
Aisya yang saat itu tiba cafetaria pun terkejut mendengar perkataan mereka. Apalagi tatapan mata mereka terlihat tak senang dengan kedatangannya.
" Ra, aku kembali kekantor aja yaa.!" ucap Aisya cepat. Lalu bergegas meninggalkan Dara.
Dara pun melirik tajam pada kedua perempuan itu. Marah karena membicarakan Aisya yang tidak - tidak. Padahal mereka tak mengenal baik Aisya. Mereka tak tau bagaimana sejatinya sosok Aisya.
Akhirnya Dara meminta pada pelayan untuk membungkus dua porsi makanan untuk dirinya sendiri dan Aisya.
" Kasihan banget kamu, sih Sya. Karena terjebak dalam lift sama Pak Danies kamu jadi bahan omongan dan difitnah gini. Padahalkan sudah jelas diliat dari CCTV. Kamu dan Pak Danies gak berbuat apa - apa disana. Duduk pun berjauhan. Dasar perempuan ganjen, bisanya cuma nyinyir.!" gumah Dara sambil melangkah menuju meja kerjanya dilantai 3.
Aisya yang merasa risih, juga tak terima langsung menuju toilet. Meski tadi sudah sholat Dzhur, tak ada salahnya berwudhu kembali. Sekedar meredam rasa panas dalam dada.
Astagfirullah, 3X.
Berulang kali, Aisya beristigfar agar kekesalannya tak membutakan mata hati dan pikirannya. Hingga berubah memjadi dendam yang merusak iman juga hatinya.
Aisya kembali dari toilet bertepatan dengan Dara yang juga sampai di kubikel meja kerja mereka.
" Udah, gak usah di pikirkan omongan mereka Sya. Aku percaya kok, semua itu gak bener." kata Dara sambil memberikan sebungkus makanan pada Aisya.
" Gimana gak mikirin, Ra. Gimana kalau mereka sampai tahu, pak Danies udah_"
Aisya langsung menutup mulutnya rapat. Karena hampir keceplosan pada Dara.
" Pak Danies sudah apa Sya?"
Aisya nampak bingung. Dia memang tak pandai berbohong. Tapi, juga tak tahu harus mulai dari mana. Menceritkan semuanya pada Dara.
" Jangan - jangan kamu beneran ngerayu pak Danies yaa?" Tanya Dara yang mulai curiga pada Aisya.
__ADS_1
" Sembarangan kamu Ra."
" Terus apa donk, Sya? Jangan bikin penasaran."
Aisya menarik nafas dalam. Lalu menceritakan semuanya pada Dara. Dara mengagah lebar tak percaya pada apa yang baru saja dia dengar.
" Wah, gak nyangka ternyata pak Danies idaman banget.!" gumamnya terkagum.
" Gak usah lebay deh, Ra.!"
" Ternyata bener filing aku. Kalian emang berjodoh, Sya.!"
Tak henti - hentinya Dara, memuji keberanian pak Danies. Yang berencana langsung mengkhitbah Aisya, tanpa ingin mengenal lebih dekat terlebih dahulu.
Dara aja, sampai kek gini. Apalagi nanti kalau aku bilang sama ayah dan Bunda. Ah, iya gimana kalau ayah gak setuju. Secara kan Pak Danies anak dari om Andi yang dulu sudah memculikku. Tapi, ayah bukan orang yang pendendam. Pasti ayah setuju. Ehh, kenapa jadi berharap lebih kayak gini.
Aisya pun memulai makan siangnya. Tak ingin memperdulikan ocehan Dara lagi. Kalau sampai Aisya nikah secepatnya, bisa galau level 1000 tuu anak.
****
Malam itu selepas sholat Isya. Aisya akan memberitahu orang tuanya perihal niat Danies padanya. Ada rasa cemas dan takut yang tiba - tiba bergejolak didadanya.
Perlahan Aisya menuruni tangga, lalu langkahnya terhenti karena ponsel disaku celananya bergetar. Cepat Aisya membuka ponselnya. Matanya terbelalak, melihat sebuah pesan dari Danies.
Assalamualaikum,
Cepat bilang pada orang tua kamu, Sya. Biar secepatnya aku bisa datang bersilaturahmi kerumah.
Hati Aisya semakin berdebar tak karuahan karena pesan singkat itu. Belum sempat membalas pesan itu, satu pesan dari Danies
kembali masuk.
Aku tak ingin menambah dosa lagi, karena memandangmu yang belum sah menjadi milikku. Jangan lama - lama yaa, Sya!
Bingung harus membalas bagaimana. Akhirnya cuma ' Walaikum salam. Iya, pak. Berdoa saja agar semua lancar.!'
Cepat Aisya menuju meja makan. Meskipun alasan utamanya bukan karena tertarik pada Pak Danies. Tapi, Aisya ingin menunjukan kalau dirinya juga menginginkan hubungan itu.
__ADS_1
" Bunda.!" panggil Aisya yang langsung memeluk bunda Arini yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.
"Apa Kak? Kebiasaan anak perawan teriak - teriak gitu. Gak baik, sayang."
" Kak Aisya lagi seneng tuu, Bun. Jatuh cinta yaa kak?" celetuk Bilal yang duduk dimeja makan.
" Sok tahu." santak Aisya memukul lengan Bilal yang tengah asik menikmati tempe goreng diatas meja.
Sementara laki - laki tampan berusia 18 tahun itu hanya terkekeh. Melihat saudari perempuannya mendelik. Mereka memang sering kali berantem. Tapi, tetap saling menyayangi.
" Bener kakak lagi jatuh cinta?"
" Belum kok, Bun. Cuma ada yang mau datang kerumah, mau bersilaturahim katanya.!" jawab Aisya ragu. Menahan malu, apalagi ada Bilal yang pasti bakalan godain terus setelah ini.
" Pacar kamu? Kakak kan udah dibilangin gak boleh pacaran do_"
" Eitss, bunda. Orang tadi kan aku bilang belum jatuh cinta. Itukan artinya bukan pacar aku. Dia pimpinan baru ditempat kerja. Namanya Pak Danies. Anaknya om Andi yang dulu pernah menculik Aisya." terang Aisya.
Arini yang mendengarnya, tanpa sadar menjatuhkan pisau yang semula ditangannya.
" Astagfirullah," kata Arini. Lalu mencoba menenagkan dirinya.
Yaa Allah, mengapa mereka harus hadir didalam hidup kami kembali.?
Hati Arini mendadak kacau, mengingat bagaimana dulu Andi begitu menginginkan dirinya. Ada rasa khawatir juga cemas. Seakan tak percaya jika nantinya Aisya berjodoh dengan Danies.
" Apakah Danies beneran bisa tulus pada Aisya. Bagaimana jika semua ini hanya untuk membalas dendam.? Yaa, Allah lindungi putri hamba dari niat buruk orang membenci aku dan mas Imam." batin Arini menatap wajah Aisya yang nampak bahagia itu.
" Bunda kok malah bengong gitu sih. Jadi gimana boleh gak, pak Danies datang?"
" Nanti tanya dulu sama ayah, yaa.!" jawab Arini gelagapan karena bingung harus bagaimana.
Apa bunda masih marah sama om Andi.? Lalu bagaimana kalau ayah juga masih marah dan gak setuju. Bagaimana dengan pak Danies?
Lha kenapa jadi mikirin pak Danies sih. Kalau ayah gak setuju pasti, memang aku dan pak Danies gak berjodoh.
Walaupun memeng belum ada cinta dihatinya. Tapi, harus diakui Aisya memang berharap pak Danies menjadi jodohnya. Soal cinta pasti akan datang saat sah saling memiliki.
__ADS_1
Terima kasih.