
Tiga bulan kemudian.
"Arini." panggilan dari seseorang yang suaranya tidak asing ditelinga Arini. Yaa itu sahabat sekaligus adik iparnya Sabina.
"Sabina." pelan Arini membalikkan badannya, lalu berjalan mendekat pada Sabina yang berdiri didepan pagar sekolah.
" Ada apa Bin, tumben nyamperin aku kesekolah" sambung Arini.
" Jalan yuk Rin, kamu udah selesaikan ngajarnya? Udah lama kita tidak jalan bareng. "
"Oke, deh. kita berdua aja nieh kamu tidak mengajak Mas Imam."
" Nanti dia nyusul setelah menyelesaikan pekerjaannya dirumah sakit. Tenang aja aku dah suruh suamiku untuk ngajak mas Fa'i sekalian." kata Sabina yang agaknya tahu kalau Arini rada malas untuk melihat dirinya bermesraan dengan Imam suaminya.
" kok pake ngajak dokter Fa'i, kenapa tidak mengajsk Sarah atau mbak Amira, " batin Arini karena memang hubungannya dengan Fa'i belum ada kemajuan sama sekali atau bisa dibilang malah semakin jauh, dari hubungan layaknya hubungan suami istri pada umumnya.
Setelah membelah kemacetan hampir 30 menit, akhirnya sampai juga di Mall terbesar di ibukota.
Arini dan Sabina mampir kebeberapa toko hijab awalnya hanya sekedar melihat- lihat. tapi akhirnya Sabina membeli beberapa hijab yang dia sukai. Begitupun Arini membeli hijab pasmina instant warna Navy.
Drettt... drett...
Getaran ponsel di tas Sabina, membuat mereka berhenti sejenak untuk melihat - lihat gamis model terbaru.
__ADS_1
"Assalamualaikun, Sayang kamu dimana aku dan Fa'i sudah direstoran biasa." seperti itulah pesan dari Imam lewat whatsapp.
"Rin, mereka udah nunggu di restoran lantai 2, yuk kesana" Sabina menarik tangan Arini yang mulai cemas harus berhadapan, berinteraksi dengan Fa'i didepan Sabina dan Imam.
" Hai, sayang maaf yaa nunggu lama." Kata Sabina berhambur memeluk Imam dan cipika - cipiki. Arini pun terperajat melihat kelakuan Sabina, yang sengaja menunjukan kemesrahanya didepan dirinya dan Fa'i.
Lalu Arini, duduk disamping Fa'i yang asik melihat ponselnya kemudian mencium tangan suaminya dan tersenyum sambil melepas tas dipunggungnya.
" Mas Fa'i main hp muluk nii." gerutu Sabina memanyunkan bibirnya.
" Ehhh iya maaf. Balas pesan dari temen. Tumben Bin ngajak makan diluar ada apa?" tanya Fa'i mencubit pipi adiknya.
" Tidak sih mas, cuma pingin double date aja. Semenjak menikah kita belum pernah jalan berempat."
" Yaa maklumin aja Yank, mas Fa'i mu ini sibuk secara dokter bedah no 1 disini." timpal Imam sementara Arini hanya diam memperhatikan obrolan mereka.
Mereka pun menyantap makanan yang sudah terhidang di meja
" Yank ini enak, cobain deh" kata Imam sambil menyuapi makanan tadi pada Sabina, memang sengaja. Dan itu berhasil membuat Fa'i dan Arini kaget,kemudian saling menolah membuat tatapan mereka bertemu seper sekian detik.
Selesai makan sebenarnya Fa'i ingin pulang tapi Sabina merengek untuk nonton dulu dan jalan - jalan lagi. Akhirnya dengan terpaksa mengikuti keinginan Sabina yang memang sengaja pamer kemesrahaan didepan mereka.
Mulai dari pegangan tangan , saling peluk pas didalam bioskop tadi. Tangan mereka hampir tak lepas saling bertautan sejak tadi.
__ADS_1
Sedang Arini dan Fa'i berjalan dibelakang mereka tanpa berinteraksi apapun. Terlihat beberapa kali berbalas pesan dari seseorang dengan tersenyum tipis membaca pesan - pesan itu.
Jadi dia tidak terlalu kesel pada kelakuan adik dan sahabatnya alias adik iparnya. Sedang Arini berusaha keras menahan rasa bosan dan dongkol dihatinya.
" *Yaa Allah kenapa dengan hatiku, tiba - tiba iri melihat mereka bisa saling memiliki satu sama lain. Sedangkan hamba, harus berusaha menekan perasaan hamba pada suami hamba sendiri." Gumah Arini meratapi nasib cintanya pada suaminya sendiri.
Brukk..
Arini hampir terjatuh karena ditubruk olah anak kecil yang berlarian disana. Tapi diluar dugaan Fa'i memegangi pundak Arini dari belakang sepaya tidak terdungkur kelantai*.
Lalu Arini menolah pelan dan cesssss tatapan mereka bertemu wajah mereka sangat dekat baru kali ini mereka sedekat itu.
Mata indah Arini dengan bulu mata lentiknya seolah mampu menghipnotis Fa'i.
Begitupula mata coklat Fa'i yang tajam seolah menarik Arini dalam pusaran samudra luas. Sampai suara seseorang membuyarkan tatapan mereka.
Arini segera berdiri lagi dengan benar.
" Maaf kan anak saya_ " kata - katanya terhenti saat ayah dari anak tadi datang, matanya terbelalak melihat Fa'i.
" Dokter Fa'i, dokter Imam."
Entah siapa orang itu yang sepertinya cukup mengenal Fa'i dan Iman.
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih jangan lupa like and comment biar Autornya lebih semangat. Kritik dan saran juga ditunggu lhooo...