
Lepas sholat subuh Fa'i harus segera ke Rumah sakit XY. Karena ada beberapa pasien darurat yang secepatnya memerlukan tindakan operasi. Panggilan tugas pun tak bisa diabaikan. Ini adalah tugas dan kewajiban seorang Dokter menyelamatkan nyawa seorang manusia, tentunya atas ijin Allah SWT.
" Semoga sesuai harapanku.. " ucap Arini yang memberanikan diri untuk melakukan tes kehamilan dengan tespack itu.
Sambil duduk dikloset kamar mandi Arini memejamkan matanya sambil menanti hasil tesnya muncul. Perlahan Arini membuka matanya dan melihat tes pack ditangan kirinya.
Kemudian matanya terbelalak melihat hasil ditespack yang dia pegang. Seketika matanya berbinar, senyumnya mengembang sempurna.
" Dua garis, positif.!"
" Alhamdulilah yaa, Rabb. Terima kasih atas anugerah terindahmu." Batin Arini saat keluar dari kamar mandi, lalu melaksanakan sholat Dhuha. Mengucap syukur atas segala nikmat dan anugerah dalam hidupnya.
Arini begitu bahagia, dan ingin segera memberitahu kabar bahagia ini pada suaminya. Namun, ponsel Fa'i tidak bisa dihubungi. Arini sedikit kecewa karenanya.
" Apa aku periksa kerumah sakit tempat mas Fa'i. Sekalian aku memberi kejutan padanya." kata Arini yang memang hari ini tidak mengajar karena merasa kurang enak badan dan sedikit pusing juga mual setelah sarapan tadi. Mungkin karena kehamilannya itu.
Di lobi rumah sakit, Arini bertemu dengan Imam yang berjalan menuju poliklinik spesialis anak.
" Rin, ada apa kesini.? Mau cari Fa'i yaa...?" Tanya Imam yang langsung menghampiri kakak iparnya itu. Arini pun tersenyum menyambutnya.
" Aku cuma mau cek kesehatan aja kok mas."
" Kamu sakit Rin, wajah kamu juga pucat gitu. kenapa gak sama Fa'i kalau mau cek kesehatan. "
" Tadi selepas Subuh mas Fa'i sudah berangkat, katanya ada pasien yang harus segera dioperasi."
__ADS_1
" Iya, tadi memang ada beberapa operasi cesar yang harus segera dilakukan."
Setelah berbincang cukup lama Imam pamit untuk melaksanakan tugasnya dipoliklinik Anak yang sudah lumayan banyak pasien yang mengantri, sementara Arini menuju poliklinik Obgyn yang berada paling ujung dari sederet poliklinik dirumah sakit itu.
Drett.... Drett....
Getaran ponsel Arini didalam tas slempangnya membuatnya tersadar dari lamunannya kala menunggu giliran untuk peneriksaan didepan poliklinik Obgyn yang lumanyan banyak pasien itu.
" Assalamualaikum, mas!"
" Walaikumsalam, kamu ngapain Rin harus kerumah sakit, apa kamu mau memastikan hubunganku dengan Diana.?" Ujar Fa'i yang meninggikan suaranya pada Arini yang sentak kaget dengan sikap dan nada bicara Fa'i yang sinis juga marah itu.
" Maksud kamu apa mas, mengapa kamu menuduhku seperti itu.?" Jawab Arini yang bingung dengan sikap suaminya itu. Bahkan Fa'i berbicara dengan menyebut aku pada Arini bukan Mas seperti biasanya
Seketika Arini menitikan air mata karena merasa sakit hati dengan ucapan suaminya.
" Yaa, aku memang cemburu mas. Aku cemburu buta sampai melakukan hal serendah ini dengan memastikan sendiri seperti apa kedekatanmu dengan mantan kamu itu. Yaa, aku ingin memastikan sendiri dengan mata kepalaku. Aku tidak percaya padamu." Kata Arini yang menekan setiap kata - katanya itu. Sambil menahan suara parau karena tangisannya itu meskipun air matanya mengalir tiada henti. Lalu mematikan panggilan itu duluan.
Arini benar - benar kecewa pada Fa'i karena menuduhnya sepicik itu. Sambil beristifar Arini berusaha menghentikan tangisanya. Karena sebentar lagi dirinya akan dipanggil sesuai nomor urut. Tidak mungkin kan dia masih menangis saat berada dihadapan dokter yang akan memeriksanya nanti.
Sementara Fa'i meraup wajahnya gusar karena merasa sangat kecewa pada Arini yang tidak mempercayai dirinya. Sebenarnya Fa'i tidak melihat sendiri Arini ada dirumah sakit ini. Dia hanya mengetahui dari Diana yang ternyata tadi melihat Arini dan Imam berbincang karena saat itu Diana dibawa oleh suster keruang radiologi untuk melakukan CT - SCAN.
Flasback on
" Mas tadi pas aku keruang Radiologi, aku melihat Arini ada disini dan berbincang dengan dokter Imam." kata Diana yang saat itu tengah diperiksa Fa'i.
__ADS_1
" Arini disini.?" tanya Fa'i kaget dan Diana hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Fa'i itu.
" Arini apa yang kamu lakukan disini sebegitu kah cemburunya kamu pada ku dan mengapa kamu tidak mempercayaiku Rin." Batin Fa'i yang langsung merasa kecewa pada Arini karena memang beberapa hari ini Arini selalu uring - uringan dan terlalu cemburu itu.
Flasback off
" Heee, Fa kok Kamu disini sih, kamu gak nemenin Arini cek kesehatan." Kata Imam sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
" Buat apa dia kesini bukan mau cek kesehatan. Dia kesini untuk memastikan hubungan dan kedekatanku dengan Diana. Dia cemburu dan tidak percaya padaku." jawaban Fa'i membuat Imam kaget dan mengerutkan keningnya. Juga heran mengapa Fa'i bisa berfikir sepicik itu pada Istrinya sendiri.
" Ngaco kamu Fa, Arini tuu kesini buat cek up kepoliklinik Obgyn, bukan mau ngegepin kedekatan kamu dan Diana. Tadi aja aku tawarin untuk manggilin kamu dia gak mau, katanya takut ganggu kamu."
" Ehhh, tunggu deh tadi kamu bilang Poliklinik Obgyn. Apa yang dia bilang sama kamu." sahut Fa'i yang langsung penasaran mengapa Arini kepoliklinik Obgyn.
" Dia gak bilang apa - apa. Awalnya aku pikir cuma cek kesehatan biasa. Tapi, pas aku lihat dia duduk didepan poliklinik Obgyn. Yaa, terus aku memastikan pada asisten dokter Rahma dan memang benar Arini periksa disana."
" Ehhh, tunggu deh. Kok malah kamu gak tahu sih Fa dan pasti kamu juga gak tahu kan kalau Arini positif hamil." Sambung Imam kemudian karena tadi Imam sudah mencari informasi sebelumnya.
" Arini, positif hamil." Ujar Fa'i yang kaget sekaligus bahagia. Seketika hatinya diliputi perasaan bersalah pada Arini karena telah menuduhnya seperti itu tadi. Fa'i mengacak rambutnya frustasi. Disaat yang harusnya menjadi hari yang membuatnya bahagia karena Arini hamil buah cintanya. Tapi, Fa'i malah menyakiti hati Arini.
Tanpa berfikir panjang Fa'i langsung berlari mencari Arini dipoliklinik Obgyn berharap dia masih disana. Tapi, Arini sudah pergi dari sana. Fa'i benar - benar menyesali sikap dan kata -katanya yang pasti sangat menyakiti hati Istrinya.
" Arini, Maafkan mas sayang. "
Terima kasih sudah mampir. jangan lupa like, comment dan Vote yaa.
__ADS_1