Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
79. Memantapkan hati.


__ADS_3

Arini telah menerima lamaran Imam saat dirumah sakit beberapa hari yang lalu. Buncahan bahagia masih saja bergelora dihatinya. Namun, Arini masih menyembunyikan semuanya dari siapapun.


Dirinya masih ingin menikmati perasaannya itu hanya untuk dirinya sendiri. Begitu juga dengan Imam yang mau menuruti keinginan Arini agar lamaran resminya setelah Arini memberikan jawaban untuk Andi dan Firman. Lebih tepatnya penolakan untuk mereka.


Bukan hal mudah menata kata - kata penolakan, agar Firman dan Andi tidak merasa tersakiti dan tersinggung oleh ucapannya.


Assalamualaikum.


sebuah pesan masuk dinotifikasi ponsel Arini yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Arini yang baru saja keluar dari kamar mandi, lantas mengambil ponselnya.


Seutas senyum mengembang dibibirnya. Pesan dari laki - laki dengan nama kontak


' Calon Iman masa depan '


Walaikumsalam.


Balas Arini dengan senyum yang masih tak menghilang dari bibir tipisnya. Bahagia rasanya hanya dengan sebuah pesan singkat itu.


Cukup lama Imam tak membalas lagi pesannya itu. Entah kemana, hingga membuat sang pujaan hati menunggu.


Arini menyisir rambut panjangnya didepan cermin. Dirinya kembali tersenyum mengingat lamaran konyol dirumah sakit waktu itu.


Flash back on.


" Jadi mau gak, nikah sama aku.?" sambung Imam.


Arini yang masih tersipu hanya mengangguk pelan, tanpa menoleh pada laki - laki disampingnya.


" Jawab donk, Rin. Masa cuma ngangguk gitu aja sih.!"


" Iiss, mas Imam mah. Sebenarnya serius gak sih ngajak nikahnya, bercanda terus dari tadi. Aku tolak juga niih.!" sunggut Arini.


" Yakin, mau nolak.? Nyesel lho.!" goda Imam menyeringai jail, menikmati raut wajah Arini yang sayang jika tak ditatapnya. Baginya wajah Arini terlalu menggemaskan saat kesal begini. Apalagi saat malu - malu.


" Gak_" sahut Arini namun, tak mampu melanjutkan kata - katanya. Lantaran Imam telah menyodorkan sebuah foto diponselnya.


Arini mengrenyitkan alisnya, binggung dengan maksud Imam memperlihatkan foto sepasang cincin pernikahan yang sederhana tapi sangat cantik.


" Mas ngalamar aku pakai foto cincin kaya gini. Ehmm, gak usah bercanda lagi mas.!"


" Hhhh, yaa gimana lagi. Aku belum sempat cari cincin untuk melamar kamu. Jadi karena digaleri ponsel ku ada foto cincin ini. Yaa, udah pakai gambarnya aja dulu, cincin benerannya nyusul kan bisa.! "


Arini terkekeh, mendengar penjelasan Imam.


" Inikah mendadak Rin. Aku aja masih gak nyangka kita bisa sedekat ini. Jadi maaf yaa.!"


Imam lantas mendehem, mencoba untuk serius dan seromantis mungkin.


" Arini maukah kamu menjalani sisa hidupmu bersamaku. Membangun rumah tangga yang diridhoi Allah. Bersama - sama meraih surgaNya. Aku tak bisa menjajikan apapun sama kamu, aku hanya bisa menjanjikan hatiku sepenuhnya untukmu."

__ADS_1


" Will you merry me Arini.?"


Arini membeku, tak mampu berkata apapun saat ini. Hatinya terlampau bahagia hingga air matanya luruh begitu saja. Kemudian Arini menganggu pelan,


" Yes, I do.!"


Imam sangat bahagia mendengarnya. Ingin rasanya dia langsung memeluk Arini saking bahagianya. Tapi, dia sadar belum saatnya melakukan itu.


Flash back Off.


Arini kembali menoleh pada ponselnya, berkedip beberapa kali. Menandakan ada sebuah pesan masuk dinotifikasinya.


Namun, wajahnya yang semula ceria berubah muram seketika. Bukan sebuah pesan dari sang pujaan ternyata.


Rin, sudahkah kamu memikirkan kembali.? Aku menunggu jawaban dari mu, secepatnya.


begitulah pesan yang membuat hatinya semakin resah juga bingung. Sebuah pesan dari Andi.


Arini menghela nafas panjang, hatinya telah mantap untuk menolak lamaran - lamaran itu. Terlebih, dirinya telah menerima Imam sebagai Calon Imamnya di masa depan.


Arini mengeser layar ponselnya mencari sebuah nama disana. Lalu mengeser logo sebuah telepon.


" Assalamualaikum, calon istriku.!" sapa Imam disebrang sana dengan suara bahagia.


" Walaikum salam, Mas!" jawab Arini dengan suara malasnya.


" Ada apa, kok kedengarannya lagi gak semangat gitu.? Ada masalah.?" tanya Imam yang tumben tak menggoda Arini


Sementara Imam terkekeh mendengarnya. Gemes ingin melihat wajah Arini, sebenarnya.


" Mas,!" panggil Arini pelan.


" Hm."


" Pak Andi baru saja mengirim pesan, menanyakan jawabanku." adu Arini.


" Lalu, ?"


" Yaa, belum aku balas. Gak enak juga jawabnya lewat pesan gini.!"


Imam masih mendengarkan dan tak menanggapi dulu, karena dia tahu Arini masih ingin melanjutkan kata - katanya.


" Ehmmt, boleh aku ketemu mereka mas.?" ijin Arini.


" Gak, mas gak ijinkan kamu!" sahut Imam.


" Ehhmt, kok gitu.?" tanya Arini kecewa.


" Gimana mau selesai masalahnya, kalau mas gak ijinin aku. Kapan kita nikahanya kalau mas melarang aku ketemu mereka. Iss, mas Imam mah.!" gerutu Arini kesal dengan sikap posesif Imam.

__ADS_1


Disebrang sana Imam tersenyum, menahan tawanya pecah mendengarkan omelan Arini.


" Udah gak sabar yaa, nikah sama mas.?" goda Imam, dengan nada yang dibuat - buat itu.


" Mas Imam." sentak Arini memperingatkan.


" Apa sayang, calon istriku.!"


" Aku gak manggil, tapi_" belum Arini melanjukan kata - katanya. Imam sudah tahu dan menyela.


" Tapi, menegurkan.?" Imam terkekeh membayangkan ekspresi wajah kesal Arini.


Arini memdengus kesal, meskipun tidak benar -benar. Dan tak bersuara lagi.


" Kapan mau ketemunya, nanti mas akan temenin kamu?"


Seketika Arini tersenyum, meskipun tak bisa dilihat oleh Imam juga.


" Besok pas makan siang bagaimana?" jawab Arini cepat.


" Baiklah, setuju. !"


" Yaa, udah. Mas istitahat gih, udah malam.!" titah Arini.


" Heemt, mas sayang kamu Rin.!" ujar Imam yang membuat Arini tak karuan. Jantungnya serasa berdesir hebat. Senyumnya merekah sempurna.


" Aku tahu, makanya aku memantapkan hatiku untukmu.!"


" Udah cinta yaa, sama Mas?" tanya Imam.


Arini tersipu, tak tahu harus menjawab apa.


" Asalamualaikum,." kata Arini cepat lalu mematikan panggilannya." Klik."


" Walaikumsalam, "


Imam tersenyum disebrang sana. Entah mengapa Imam lebih senang menggoda Arini ketimbang berbicara manis itu. Baginya Arini sangat berbeda dengan Sabina, makanya Imam bersikap sedikit berbeda. Imam tahu Arini agak pendiam. Jadi dengan Imam yang lebih banyak menggodanya , membuat Arini selalu bisa mengutarakan isi hatinya.


Arini tersenyum sambil mendekap ponsel didadanya. Hatinya benar - benar telah mantap menerima cinta Imam. Meskipin dia belum nyakin, sudahkah dirinya benar jatuh cinta pada laki - laki itu. Namun, satu hal Arini merasa nyaman dan bahagia dicintai dengan cara seperti itu.


" Begini rasanya dicintai duluan. Gak menyangka kalau mas Imam begitu tulus padaku. Semoga langkahku kali ini benar.!"


Mas Imam, Aku memantapkan hatiku padamu. Terima kasih untuk cintamu yang tulus padaku.


Pesan Arini yang dikirim untuk Imam, agar dirinya benar - benar yakin. Semuanya benar adanya.


*Terima kasih sudah mampir, semoga suka yaa.


Maaf karena kemarin gak up bab baru. Karena Authornya lagi sok sibuk nii. Semoga Hari ini bisa Up lebih banyak dari yang biasanya.

__ADS_1


Sehat selalu semua*


__ADS_2