
Waktu serasa berputar begitu cepatnya. Sampai akhirnya, sudah dua tahun berlalu begitu saja. Walau sebenarnya dua tahun ini adalah tahun yang cukup berat untuk dijalani.
Fa'i termenung dibangku taman depan rumah. Suasana hening malam itu, membuat pikirannya melayang entah kemana.?
Dua tahun telah mengubah segalanya. Abi dan Umi telah perpulang kerahmatullah. Begitu banyak cobaan yang tak terduga. Mbak Amira juga lebih memilih tinggal kota B sebulan lalu, setelah mas Haris pensiun dari profesinya sebagai pilot.
" Mas, !" Panggil Arini pelan, lantas membungkuk dan memeluk suaminya dari belakang. Menyandarkan dagunya dipundak laki - laki tercintanya.
" Hm, belum tidur.?" Jawab Fa'i tersenyum meraih tangan Arini dan membawanya duduk disamping kirinya.
Arini menggeleng, menampakan raut wajah cantiknya yang semakin mempesona saja. Fa'i menarik Arini, dalam rengkuhannya menyandarkan kepala Arini dipundak kirinya. Mengusap lembut kepala Arini yang masih tertutup hijab itu.
" Rumah ini semakin sepi yaa, Rin!"
" Banyak kenangan dirumah ini. Suka, duka. Tawa, canda mengiringi separuh hidupku dirumah ini. Sekarang tinggal aku sendiri." sambung Imam setelah mengecup puncak kepala perempuan tercintanya.
" Terus, maksud mas? Aku sama AL bukan siapa - siapa gitu.?" Arini merengut kesal.
Fa'i terkekeh, gemes melihat Arini merajuk manja.
" Bukan begitu sayang, maksud mas orang tua dan saudara - saudara Mas. Sekarang mas hanya punya kamu dan AL. Mbak Amira, sudah tanggung jawab mas Haris. Tidak bisa, seperti dulu lagi. Apalagi mas Haris sudah memilih pensiun dan memilih usaha sendiri." ucap Fa'i panjang lebar, memeluk erat tubuh Arini karena angin yang bertiup cukup kencang.
Arini diam, mendongakkan wajahnya menatap wajah suaminya. Fa'i tersenyum, mengecup kening istrinya.
" Jangan, menatap mas seperti itu sayang! Mas baik - baik saja, tenang yaa.!"
" Terus, harus seperti apa aku menatap kamu mas.?" Arini mengerlingkan matanya.
" Kamu, juga jangan ngode gitu donk.!"
__ADS_1
" Iihhh, mas ini pikirannya mesum gitu.!" sungut Arini sambil mencubit gemes hidung suaminya. Fa'i terkekeh, menghembuskan nafas pelan. Diam beberapa saat.
" Aisya, pasti sudah besar yaa. Rin!"
Ucapan Fa'i membuat jantung Arini serasa berhenti berdetak sekian detik. Kenyataan yang disampaikan mbak Amira pun, terlintas dipikirannya.
Padahal sudah lama ia ingin melupakan semua itu. Menerima dengan ikhlas jika memang dirinya tak bisa bertemu dengan putri kecilnya.
Arini berusaha keras mengeyahkan rasa rindunya, melupakan keinginannya memeluk Aisya. Namun, kadang kala bayang - bayang bayi mungil tanpa cinta kasih seorang ibu masih saja menghantui.
Apa daya, Arini harus memilih keluarga kecilnya. Mengubur keinginan serta rindunya demi keutuhan cintanya bersama suami tercintanya.
Meski letak permasalahan besar itu bukan pada Aisya. Tapi, gadis kecil itu adalah sebagian dari hidup Imam. Lelaki yang kini menjadi bayangan antara cinta Arini dan Rifa'i.
" Mam, pergi kemana kamu? Kami disini merindukanmu dan Aisya.!" tutur Fa'i, memandang langit, seolah ingin alam menyampaikan kerinduannya pada sahabat baiknya itu.
Sementara Arini tak bergeming. Rasa bersalah karena menutupi kebenaran itu, seketika menyeruak dari dalam lubuk hatinya. Matanya mulai memanas karena rasa itu.
" Rin, tahu gak? Dulu waktu SMA aku dan Imam sempat berebut seorang gadis. Cinta monyet gitu.!" Cerita Fa'i mengenang persahabatan mereka. Sementara Arini malah mempererat remasan tangannya diujung bajunya.
" Tapi, sayangnya gadis itu tidak memilih antara kami berdua. Dan kamu tahu Rin, gadis itu malah milih Andi. Konyol banget waktu itu. Sampai akhirnya, malah Si Imam suka sama Sabina. Dan aku naksir Diana waktu itu.!"
" Ooyaa, terus!" lirih Arini mencoba bersikap biasa. Menghalau rasa bersalah dengan menjadi pendengar yang baik untuk cerita suaminya.
" Sayangnya, waktu itu Sabina masih bocah. Baru juga masuk SMP, jadinya aku larang Imam deketin dulu. Emang dasarnya dia dah jadi bucinnya Sabina atau memang beneran setia. Sampai - sampai rela nunggu selama itu. Kadang aku juga iri sama Imam, bisa punya hati sesetia itu. Ketulusannya mencintai seorang wanita tak perlu diragukan lagi.! Sebagai sahabat dia tipikal orang yang terbilang bijaksana. Sikapnya yang tenang dan berwibawa, selalu bisa membuat tenang saat aku lagi emosi ataupun pas lagi galau.!" Seutas senyum terbit dibibir Fa'i.
"Sedekat itukah persahabatan, kamu dan mas Imam.?"
" Heemt, sebenarnya bukan hanya Imam. Ada Andi dan Firman. Tapi, Andi menjauh dari kami karena merasa menghianati aku dan Imam. Setelah lulus S1 Andi menikah dengan gadis itu. Padahal aku dan Imam gak masalah dengan hal itu.!"
__ADS_1
" Tunggu deh, dari tadi mas nyebutnya gadis itu muluk. Siapa namanya.?"
" Arini.!" jawab Fa'i menoleh pada istrinya yang mengreyitkan dahinya. Masih gak ngerti maksud suaminya menyebut nama ARINI.
" Hhh, iya nama gadis itu memang bernama Arini juga, sama sepertimu. Makanya, dulu mas rada gak suka kamu ngobrol sama Andi. Karena si Andi diam - diam juga jatuh hati sama kamu.Takutnya terulang lagi kisah cinta monyet itu. Untung saja Imam gak naksir kamu. Bakalan benar terulang kisah kami bertiga.!"
Mendengar penuturan suaminya. Arini menjadi semakin takut dengan rahasia itu. Dulu gara - gara seorang wanita bernama Arini juga. Membuat persahabatan mereka dengan Andi merenggang. Begitupun dengan Imam sekarang juga sama. Menjauh.
Lalu, apakah Arini tega melihat persahabatan suaminya dan Imam hancur juga.
Tak terbayang, jika kisah cinta monyet waktu SMA dengan gadis bernama Arini saja. Bisa membuat salah satu sahabat itu menjauh. Apalagi, jika Fa'i mengetahui perasaan Imam sebenarnya. Bisa - bisa hancur sudah persahabatan itu.
ARINI, mungkin akan jadi nama keramat dalam sejarah sebuah persahabatan antara Rifa'i, Imam, Andi dan Firman. Meski berbeda orang tapi, kenyataannya nama ARINI kembali membuat satu lagi sahabatnya menjauh.
" Lalu, siapa Firman.?" tanya Arini mengalihkan pembicaraan dari masalah cinta segitiga itu.
" Firman, yaa. Sekarang dia melanglang buana kepenjuru dunia. Tepatnya sih, setelah berhijrah dia memilih menghabiskan waktunya di negara - negara jazirah Arab. Menimba ilmu agama Allah disana. Katanya akan pulang setelah ilmunya cukup untuk berjihad di tanah kelahirannya. Sudah sepuluh tahun aku tak berjumpa. Entah bagaimana dia sekarang.!" Fa'i mendesah pelan. Merasakan sesak karena sahabat - sahabatnya menjauh.
Fa'i rindu kebersamaan waktu dulu. Kebersamaan mereka dulu udah kaya F4 difilm drakor saja. Mereka memang siswa yang teladan saat sekolah. Sama - sama pintar dan jago dibidang olahraga. Persahabatan yang tulus dan indah.
" Sayangnya, hidup terus berlanjut. Jalan yang kami dipilih berbeda - beda. Semoga suatu saat nanti bisa berkumpul kembali mengenang masa lalu. Yaa, seandainya tidak terjadi didunia pasti kami bertemu di Akhirat kan. Semoga sama - sama masuk dalam jannahnya Allah." Ucap Fa'i tulus mendoakan semua sahabatnya itu.
Arini hanya mengamini. Terbesit sebuah doa dalam hati Arini. Untuk kebaikan cinta dan rumah tangganya yang ternyata dibayangi masa lalu yang koyol memang. Tapi, sarat akan ketakutan hancurnya sebuah persahabatan.
Semoga kepergian mas Imam memang sebuah jalan terbaik untuk kami semua. Kebaikan untuk persahabatan mereka dan tentunya untuk kebaikan rumah tanggaku dengan mas Fa'i. Lindungi kami dan jaga kamu agar selalu dijalan yang Engkau ridhoi yaa Rabb.
Malam semakin larut, hingga terdengar tangis AL yang mungkin terbangun karena haus. Arini dan Fa'i bergegas masuk kedalam rumah. Walau hati masih ingin berbagi cerita. Tapi, apa daya sijagoan kecil itu lebih membutuhkan bundanya sekarang.
Terima kasih,
__ADS_1
Sehat selalu semua.