Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
73. Pesona hot papa


__ADS_3

Berhari - hari, Arini masih bimbang dengan keputusannya. Antara menerima atau menolak lamaran Firman padanya. Sholat Istikharoh pun belum mendapatkan jawaban.


Berhari - hari pula, Aisya belum bertemu Aisya lagi. Aisya masih didesa tempat kakek - neneknya. Sempat beberapa kali Arini menghubungi Aisya lewat Pak Dul. Sebenarnya bisa saja Arini menghubungi Imam.Tapi, pasti merasa canggung dan tak enak hati.


Sore itu seperti biasa Arini menghubungi Aisya. Kangen rasanya tak mendengar suara gadis kecil itu sehari saja.


" Asalamualaukum, bu Arini.!" sapa pak Dul dari sebrang sana.


" Walaikumsalam, Pak. Apa kabar pak Dul.?"


" Baik bu. Bu Arini mau bicara sama dek Aisya sekarang.?"


" Iya, pak."


" Sebentar yaa, bu."


Pak Dul langsung berlari kedapur rumah orang tua Imam yang nampak asri itu. Lalu memberikan ponselnya kepada Aisya setelah tadi mengubah panggilannya menjadi Vidio call.


" Assalamualikum, bunda." sapa Aisya semangat dengan senyum merekah dan mata berbinar. Sambil duduk dikabinet dapur yang terlihat moderen itu.


" Walaikumsalam, cantiknya bunda. Aisya lagi apa sayang.?"


" Lagi ngangguin papa masak pancake. Bunda lagi apa?"


" Lagi telfon kesayangannya bunda nii."


Aisya begitu bersemangat, berbicara dengan bunda Arini. Sampai - sampai gak sadar telah merubah posisi duduknya membelakangi papa Imam yang masih sibuk didepan kompor.


Kamera pun otomatis menampakkan kegiatan Imam didapur itu. Arini sempat terkesima melihat pesona seorang Imam. Berkutat didapur dengan apron warna merah maroon semakin menambah pesona hot papa satu ini.


Jangan ditanya bagaimana menawannya seorang dokter yang luwes menangani pasien - pasiennya, ternyata juga luwes berkutat didapur. Arini pun nampak menikmati pemandangan dibelakang Aisya. Pemandangan yang benar - benar membuatnya terpaku untuk beberapa saat.


Kini perhatian pada setiap cerita Aisya pun terbagi pada sosok tampan itu. Meski tak mengacuhkan Aisya yang terus bercerita, tapi


tanpa disadari diam - diam Arini lebih tertarik pada kegiatan yang dilakukan Imam.


Sampai suara Imam, memanggil Aisya membuyarkan segala hal yang tiba - tiba memenuhi kepala Arini.


" Aisya, " panggil Imam sambil memberi toping dipancake buatannya.

__ADS_1


" Aisya, " panggil Imam lagi karena tak mendapat tanggapan dari putri kecilnya itu. Lalu mendekati Aisya sambil membawa piring berisikan pancake yang terlihat lezat menggugah selera.


" Sayang, ini sudah jadi. Lagi bicara sama siapa sih anak papa ini."


Imam meletakan piring itu didepan Aisya,


deg, jantungnya serasa berhenti berdetak detik itu. Tanpa sengaja Imam melihat wajah Arini diponsel itu. Wajah wanita yang mati - matian ia hilangkan dari pikiran dan hatinya. Wajah cantik yang selalu menghantui tiap malam dan kesendiriannya.


" Arini, akhirnya aku bisa melihat mu lagi meski seperti ini." batin Imam.


Arini pun sempat terkesiap, melihat Imam yang turut bergabung bersama Aisya. Arini tak bisa berkata apa - apa saat tatapannya kini terpaku pada Imam yang tersenyum padanya.


" Bunda pancake buatan papa udah jadi, nii. Bunda sama papa ngobrol dulu yaa, Aisya mau makan dulu.!"


Seru Aisya memberikan ponsel pak Dul pada papa Imam. Arini yang tersadar dari lamunannya, berusaha mencegah Aisya. Tapi, dia sudah keburu berbalik dan tak nampak lagi dicamera.


Sempat beberapa detik, Arini dan Imam diam dalam pikiran masing - masing tanpa memperlihatkan diri didepan camera ponsel itu. Sampai pada akhirnya mereka malah secara bersamaan saling menyapa,


" Apa kabar,?" Kaku dan penuh kecanggungan.


Arini dan Imam lantas tersenyum tipis menepis rasa canggung yang luar biasa mendera. Bingung juga harus berbicara apa setelah sekian minggu, Imam memilih menghindari Arini seperti janjinya.


" Kenapa malah kaya gini sih, mam. Ini kesempatan bagus untuk memperbaiki semuanya. Setidaknya memperbaiki tali silaturahmi. Sukur - sukur bisa deket kan?" batin Imam yang merutuki kebodohannya itu.


" Oohh, jantung kenapa malah seperti ini.? Sudah yaa, deg - degannya. Ahh, kenapa juga malah jadi malu - malu gini.?" batin Arini mencoba mengendalikan detak jantungnya yang sudah tak terkendali.


Mereka masih sama - sama larut dalam batinnya sendiri. Hingga Aisya yang telah selesai makan kembali menghadap pada ponsel itu lagi.


" Bunda sama papa, kok diam - diaman dari tadi.?"


" Haah, gak kok sayang. Aisya udah selesai makannya.?" tanya Arini menepis kecanggungan dan beralih fokus pada Aisya.


" Sudah bunda. Pancake buatan papa enak banget. Bunda harus cobain nanti.!" kata Aisya penuh semangat memuji masakan papanya.


Tapi, lagi - lagi Arini terpaku pada tindakan Imam yang mengelap mulut Aisya yang belepotan saus bluebery dari pancakenya tadi.


Apalagi setelahnya, Imam mengecup kepala putri kecilnya, sayang. Sampai - sampai Arini tak menanggapai omongan Aisya sebelumnya.


" Aisya sayang, udahan dulu yaa. Sudah mau maghrib.!" kata Arini setelah kembali kepikiran sadarnya.

__ADS_1


" Iya, bunda. Daa - daa bunda.! Assamulaikum, bunda." kata Aisya sambil melambaikan tangannya.


" Walaikumsalam. Kesayangan bunda.!" jawab Arini tersenyum pada Aisya.


Namun, saat Arini akan mematikan panggilannya. Imam mencegahnya,


" tunggu, Rin.!"


" Ya." sahut Arini lembut menatap Imam sekilas.


" Ehmmt, besok - besok kalau mau VC sama Aisya langsung kenomor aku saja, yaa!" kata Imam sedikit terbata karena debaran jantung yang kian menggila. Juga rasa takut akan penolakan dari Arini.


" Ooo, baiklah. Itu saja.?"


" I_ iya. Itu saja." lagi - lagi terbata.


" Assalamualaikum.!" Arini mematikan panggilannya sebelum mendapat jawaban salam dari Imam. Lalu memengangi dadanya, jantungnya kian berdetak kencang tak terkendali.


Yaa, Allah. Apa yang sebenarnya terjadi padaku.? Perasaan apa ini.?


Arini masih tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Perasaan yang semula dingin pada Imam, mendadak berubah tak karuan seperti ini.


Ditempat lain, Imam pun tersenyum bahagia. Tak menyangka Arini mau berbicara dengannya lagi.


Debaran jantungnya masih kuat seperti dulu. Begitu pun hatinya masih berdesir setiap mendengar namanya. Cinta itu masih nyata dan semakin mengakar dihati Imam.


Apalagi, pesona seorang hot papa yang melekat di diri Imam, memang sulit terbantahkan.


" Yaa, Allah. Semoga Engkau ijinkan aku berjodoh dengan wanita solehah ini. Demi kebahagiaan Aisya hamba akan membuat Arini menerima hamba dihidupnya. Aamiin." gumam Imam. Sambil menenggam erat ponsel milik pak Dul yang belum sempat dikembalikan.


***


Waahhh, pada seneng nii yang ada di team Imam. Harapan memang selalu ada kok.


Akhirnya, muncul juga bab yang bikin senyum - senyum sendiri pas baca. Sebenarnya saya juga udah pingin Up bab baper - baper gimana gitu. Tapi, ikuti alurnya dulu yaa. Hhhh.


Eits, tunggu dulu. Masih banyak kok halangan yang akan terjadi, jika mereka Author jodohkan. hhhh.


Terima kasih sudah mampir. Semoga suka yaa.

__ADS_1


Sehat dan sukses selalu semua. Aamiin. Aamiin.


__ADS_2