
Sampai dirumah Arini yang tak bersemangat langsung masuk kedalam kamarnya. Padahal di taman belakang rumah mewah itu, sudah mulai disibukkan dengan persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan lusa.
Arini masih tak habis pikir, mengapa dengan mudahnya Imam membatalkan pernikahan yang sudah didepan mata. Dan hal yang paling tidak masuk akal, Imam menyuruhnya menikah dengan Firman. Laki - laki yang ternyata belum mencintainya.
Seharusnya aku tak percaya padamu, mas! Mengapa kamu melepaskan ku semudah itu. pikir Arini.
Sore itu Imam dan Firman, melajukan mobil mereka kesebuah rumah yang berada dipinggir kota. Tempat yang sudah diberi tahu Andi tadi pagi untuk menjemput Aisya.
Sebenarnya Imam didesak oleh ayah dan ibunya untuk melaporkan penculikan ini pada pihak yang berwajib. Tapi, Imam tak ingin membahayakan Aisya. Walau sebenarnya hati kecilnya mengatakan, Andi tak mungkin tega melukai putrinya itu.
Begitu masuk kepelataran rumah yang cukup mewah, Imam dan Firman sudah disambut oleh dua orang laki - laki berbadan besar dan sangat. Mungkin mereka orang suruhan atau bodyguard Andi.
Mereka lantas membawa Imam dan Firman masuk kedalam rumah itu. Harus diakui Andi adalah salah satu pengusaha muda yang terbilang sukses dalam setiap usahanya. Rumah ini bukanlah tempat tinggal dia yang sebenarnya.
" Selamat datang sahabatku," sapa Andi yang duduk bersandar dengan santai diruang keluarga yang cukup besar itu.
" Andi, mana putriku?" sentak Imam yang tak mampu menahan amarahnya.
" Aisya, tenang saja aku memperlakukan dia dengan baik. Aku akan melepaskan dia sebentar lagi. Tapi, apa kamu sudah membatalkan pernikahanmu dengan Arini?"
" Seperti yang aku bilang kemarin, sekalipun aku melepaskan Arini. Aku tidak akan ikhlas Arini bersamamu!" sentak Imam mengepalkan tangannya.
Andi pun tersenyum sinis menatap kedua sahabatnya itu bergantian.
" Andi, bukankah lebih baik kita bicara baik - baik. Kita sudah sangat lama bersahabat. Tidak baik jika persahabatn kita hancur karena seorang perempuan.!" selak Firman mencoba menengahi perseteruan Andi dan Imam.
" Persahabatan ku dan Imam sudah lama hancur. Selama ini aku tak pernah menganggapnya sahabat. Aku hanya berpura - pura baik padanya didepan kamu dan Alm. Fai.!"
Imam dan Firman pun dibuat tercengang dengan penuturan Andi yang tak mengada - ada.
" Apa maksud kamu, Ndi?" sahut Imam.
Lagi - lagi Andi tersenyum sinis, meremehkan sikap Imam yang baginya hanya kemunafikan Imam saja.
" Jangan berpura - pura kamu lupa, Mam!"
__ADS_1
Imam berfikir apa yang sebenarnya dibicarakan Andi. Imam tak pernah merasa berbuat kesalahan padanya
" Masih ingatkah kamu dengan Alm. istriku yang juga bernama Arini.?"
Deg,
hati Imam, mencolas seketika. Mengingat Cinta monyet semasa putih abu - abu. Yang juga menjadi incaran Imam, Fa'i dan Andi tentunya.
" Kamu tahu, selama hidupnya Arini ku hanya mencintaimu.!"
Firman dan Imam pun kembali dibuat tercengang, karena kenyataan itu.
" Aku memang yang berhasil mendapatkannya. Tapi, dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya mencintaimu semenjak SMA! Kalian tahu, aku sangat terobsesi padanya waktu itu. Sebenarnya aku sudah tahu jika dia sudah mencintaimu terlebih dulu, sebelum Aku, Fa'i dan kamu Mam, suka padanya.!"
" Lalu apa masalahnya, lagi pula meski dia mencintaiku. Bukankah dia memilih bersamamu.!" Tanya Imam yang mulai mengerti situasinya.
" Heeh, aku merampas kesuciannya agar dia bersamaku.!"
" Apa,?" sentak Imam dan Firman bersamaan.
" Karena Ariniku tidak pernah bisa menerimaku dan melupakanmu, kamu tahu itu?" lanjut Andi yang langsung mencengkeram kerah kemeja Imam.
Kilatan amarah jelas terlihat dari sorot mata tajamnya. Namun, ada luka dan kekecewaan didalamnya.
" Lalu dimana salahku,? Aku tak pernah tahu kalau alm. istrimu mencintaiku. Sekalipun aku tahu, aku masih waras untuk tidak merebutnya darimu. Lagi pula aku tak pernah benar - benar mencintainya waktu SMA. Aku hanya mengaguminya seperti alm Fa'i.!" sentak Imam sambil menghempaskan tangan Andi dari kerah kemejanya.
Bugg,
Sebuah bogem mentah dilayangkan Andi dijawab Imam. Hingga membuat sudut bibirnya memar dan berdarah.
" Lalu kenapa kamu sekarang juga menginginkan Arini yang sekarang, menjadi milikmu.?"
" An, tenanglah. Semua bisa dibicarakan baik - baik. Kenapa kamu menyimpan dendam pada Imam? Padahal sudah jelaskan waktu SMA dulu, kamu yang mendapatkan Arini meski dengan cara kotor. Lagi pula Imam tak pernah tau kalau alm. Arini istri kamu mencintainya. Itu hanya masa lalu, An.!"
Andi pun mulai, tenang mendengar penuturan Firman. Semoga dengan berbicara baik - baik. Masalah dendam masa lalu itu, bisa terselesaikan.
__ADS_1
Imam dan Andi lalu duduk disofa ruangan itu. Firman menasehati keduanya. Meski disini Andilah yang telah berbuat nekad, tapi Imam adalah alasan utama Andi berbuat seperi itu.
" An, kita sudah sama - sama dewasa, tidak baik menyimpan dendam hanya karena seorang perempuan. Mungkin nama Arini sangatlah mendalam dihatimu. Tapi, ingat Arini istri kamu sudah tiada. Dan Arini yang sekarang bukanlah untukmu. Mereka berbeda, An. Jadi ikhlaskan Arini yang sekarang untuk Imam.!" Kata Firman mengingatkan Andi.
Semua nampak hening, sesaat. Lalu terdengar suara Aisya yang berlari menuruni tangga sambil memanggil papa Imam.
" Papa!"
Imam pun berlari menyongsong putri kecilnya. Memeluknya erat sambil menciumi kepalanya, sayang.
" Papa kok lama jemputnya? Aisya kangen tau?" rengek Aisya sambil mencium pipi papa Imam.
" Maaf, yaa sayang. Papa lupa soalnya!" dusta Imam. Melihat putrinya baik - baik saja, Imam pun bersyukur. Dan nyakin, Andi tak sejahat itu, buktinya Aisya diperlakukan dengan baik.
" Pergilah kalian, sebelum aku berubah pikiran!" kata Andi sambil melangkah menaiki tangga itu.
" Terima kasih, Om Andi!" teriak Aisya. Sedang Andi menoleh lalu melambaikan tangannya.
Imam, Aisya dan Firman pun melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Bersyukur atas semua kemudahan yang diberikan olah Allah SWT.
Hingga satu rencana yang diusulkan Firman pun urung dilakukan. Berbohong pada Andi, jika Imam akan melepaskan Arini untuk Firman serta pernikahan itu akan tetap dilaksanakan.
Allah masih melindungi Imam dan Firman untuk tak berbuat dusta yang dibenciNya.
Akhirnya, Imam bisa bernafas lega. Aisya telah kembali. Dan pernikahan itu akan tetap terlaksana sesuai rencana.
" Sekarang tugas berat menyakinkan Arini kembali Mam.!" kata Firman setelah mereka meninggalkan rumah itu.
" Aku rasa tidak perlu, Man. Biarkan dia berfikir kamu yang akan menikahi dia besok.!" Jawab Imam yang sudah mempunyai satu kejutan untuk Arini besok saat pernikahan.
Hayooo, siap - siap kondangan yaa! hhhhh
Terima kasih sudah mampir. Semoga suka.!
Sehat selalu semua.
__ADS_1