Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..

Caraku Mencintaimu Season 1 Dan 2..
50. Kesedihan yang terselip dalam kebahagiaan.


__ADS_3

Kebahagian begitu terlihat jelas dikedua wajah pasangan ini. Putra tercinta diberikan sebaris nama yang syarat dengan doa orang tuanya.


Al - Lukman Hashif Aqmar.


Bayi tampan itu akan dipanggail dengan sebutan baby Al.


Banyak dokter juga perawat yang penasaran ingin melihat baby Al yang kata beberapa parawat sangat tampan. Mewarisi wajah rupawan kedua orang tuanya.


Terlebih bayi itu adalah putra dari dokter bagian dari rumah sakit ini. Dokter idola pula.


Siang itu, beberapa perawat dan dokter perempuan mengunjungi kamar perawatan Arini. Sebenarnya bukan untuk menjenguknya, lebih tepatnya mereka penasaran dengan putra dokter idola mereka.


Ternyata foto baby AL sudah tersebar di mensos kalangan pekerja rumah sakit itu.


Salah satu bidan yang membantu persalinan kemarin, telah memfoto baby AL. Sehingga rumah sakit menjadi gempar akan hal itu.


" MasyaAllah, bayi yang sangat tampan." Ujar perawat senior yang menjadi asisten dokter Fa'i dipoliklinik bedah.


Arini dan Fa'i hanya membalas dengan sebuah senyuman. Rasa syukur akan kehadiran baby AL semakin berlipat, karena membawa kebahagiaan bagi orang lain juga.


" Baru juga berumur satu hari udah jadi idola aja. Bisa mengalahkan ketenaran bapaknya niih." Ujar Imam yang tiba - tiba masuk, setelah beberapa perawat yang menjenguk tadi keluar.


" Bisa aja kamu, Mam."


" Oyaa, mas Imam. Bagaimana keadaan Aisya? Udah seminggu tidak ketemu, kangen aku." Ujar Arini


" Aisya, Alhamdulilah baik. Kan sekarang udah ada AL, Rin. "


" Yaa, memang sudah ada AL. Tapi, rasa sayang aku pada Aisya tidak akan berubah. Aisyah juga putriku mas. Aku menyayangi Aisya seperti halnya aku menyanyangi AL."


Imam yang mendengar penuturan Arini, merasa terharu. Hampir saja air matanya meleleh.


Seketika ingatannya tentang Sabina kembali terlintas dimemorinya. Ingatan tentang ungkapan rasa sayang kepada buah hatinya sebelum melahirkan dan pergi selama - lamanya, pada waktu yang bersamaan.


" Apa pun yang terjadi, aku akan memperjuangkan anak kita agar lahir dengan selamat. Mas, jika nanti aku tak mampu bertahan, Mas tidak perlu bersedih. Karena ada Arini yang akan menyayangi putri kita. Seperti dia menyayangi anaknya sendiri."


Dan ternyata kata - kata itu benar adanya. Mungkin saat mengatakan itu Sabina sudah mempunyai firasat akan kematiannya.


" Mam, kamu kenapa? " tanya Fa'i yang melihat perubahan ekspresi wajah Imam. Ekspresi kesedihan seperti beberapa bulan lalu.


" Haah, tidak. Hanya ingat Sabina, mungkin aku terlalu merindukannya."

__ADS_1


Fa'i dan Arini pun menjadi ikut bersedih karenanya. Kenangan pahit akan kepergian Sabina yang begitu capat pun kembali mengusik kebahagian mereka.


" Ehhh, maaf - maaf. Aku malah membuat suasana jadi sedih gini. " ucap Imam dengan senyum manisnya untuk menyembunyikan kesedihannya.


Berharap bisa mengembalikan susana kebahagiaan tadi. Namun, ternyata tidak bisa sepenuhnya. Ada hati yang masih terluka, rasa bersalah itu kembali mengusik pikiran dan ketenangan hatinya.


Arini menyadari yang terjadi pada suaminya. Senyum kebahagiaan itu, telah hilang begitu saja. Berganti dengan, kesedihan yang sama seperti saat kematian Sabina.


Menyadari suasana yang tak lagi membuat semua orang merasa nyaman. Imampun pamit untuk pergi dari sana.


Apalagi air mata yang ditahan dipelupuk matanya, hampir luluh lantah tak tertahan.


" Mas, sekarang apa mas bisa menceritakan semuanya. Tentang meninggalnya Sabina. " ucap Arini mendekati suaminya.


Fa'i tengah berdiri didekat jendela yang menghadap keluar dilantai 7 rumah sakit itu. Luka dihatinya seolah kembali mengangah, Perasaan bersalahnya itu seakan mencabik - cabik hatinya.


Fa'i menghela nafas kasar, ditatapnya mata sang istri yang menyiratkan sebuah permohonan.


" Mungkin dengan mas menceritakan semuanya, akan mengurangi rasa bersalah yang mas rasakan. " tutur Arini mengusap lengan suaminya.


" Tapi, Rin _ "


" Mas, sekarang aku sudah melahirkan apalagi yang harus dirisaukan. Selama ini kamu menyembunyikan semuanya karena tidak ingin aku takut kan mas."


Flashback on


*Fa'i POV


Saat itu aku bergegas keruang operasi, kuayunkan langkah seribu. Agar secepatnya sampai disana.


Sabina, adikku harus sesegera mungkin menjalani Section Caesearea. Atau lebih terkenal dengan operasi cesar.


Karena air ketuban telah rembes beberapa hari ini , padahal Hari perkiraan kelahiran masih seminggu lagi. Meski bayi dalam kandungannya baik - baik saja, tapi keadaan Sabina yang mengkhawatirkan.


Tekanan darah serta HB dalam tubuhnya cukup rendah. Padahal bukankah itu adalah salah satu pemicu pendarahan saat persalinan normal maupun SC.


Saat memasuki bilik operasi, sebenarnya perasaanku sudah tidak enak. Aku merasa ragu untuk turun langsung menangani operasi bersama dokter Rahma. Sp. Obgyn.


Aku menyakinkan diri, semua akan baik - baik saja. Aku berdoa sejenak. Aku juga melihat Sabina tersenyum padaku, sementara Imam disampingnya menggenggam tangan istrinya.


Prosedur SC pun, sudah dimulai. Lagi - lagi aku ragu untuk melakukannya. Tak biasanya aku seperti ini. Namun, mengingat ada sebuah kehidupan didalam sana yang harus segera mungkin aku selamatkan.

__ADS_1


Aku dan dokter Rahma pun memulai tugas kami. Setelah melakukan proses pembedahan, dokter Rahma melanjutkan untuk mengelurkan sang bayi.


Tiiiiiiiiittttttttttt....


Suara minitor patient membuyarkan konsentarasiku. Itu suara yang menandakan ada yang tidak beres pada proses operasi ini.


" Dokter, detak jantung pasien berhenti. Begitu juga nafasnya. " Kata Anis dokter Anastesi yang juga memdampingi kami.


Seketika tubuhku lemas, alat medis ditanganku jatuh begitu saja dari tanganku. Mataku tertuju pada Imam yang panik, memanggil nama Sabina.


" Pasien mengalami Emboli air ketuban, Dok.!


Seketika kepanikan terjadi diruangan itu.


Dokter Rahma segera melakukan tindakan untuk mengembalikan detak jantung dan nafas pasien. Sementara Perawat laki - laki itu sibuk menutup bekas sayatan pisau bedah.


Sang bayi perempuan telah ditangani oleh bidan disana. Sementara aku turut membantu usaha Dokter Rahma berjuang mengembalikan detak jantung Sabina.


Namun, usaha itu gagal. Emboli telah merenggut nyawa Sabina. Emboli sebenarnya sangat jarang terjadi, tapi berdampak fatal juka komplikasi ini terjadi seperti yang dialami Sabina.


Embilo sendiri, rentan terjadi pada ibu hamil yang mengidap bebetapa gangguan saat kehamilannya. Salah satunya yang dialami Sabina.


Komplikasi Emboli air ketuban yang terjadi selama tindakan operasi, adalah masuknya cairan ketuban kedalam pembulu darah terbuka yang disebut sebagai Embolus.


Dan yang terjadi pada Sabina tidak disadari oleh tim dokter. Embolus yang terjadi langsung menuju pembulu darah pada jantung. Yang membuat jantung dan nafas berhenti secara tiba - tiba. Akibatnya adalah kematian mendadak pada sang ibu.


Aku benar - benar merasa manusia paling ceroboh sekarang. Mengapa aku tidak memeriksa dengan teliti keadaan Sabina yang sebenarnya.


Kenapa tanganku tak bisa menyelamatkan adikku, bahkan tangan inilah yang menjadi pengantar Sabina menemui ajalnya.


Aku benar - benar tersiksa dengan semua ini. rasa bersalah, trauma dan kesedihan. Membuatku seolah menjadi manusia paling bodoh dan cerobah.


Aku merutuki diriku sendiri. Sempat aku beranggapan Apa lagi yang bisa aku banggakan dengan Profesiku saat ini. Profesi seorang dokter bedah. Lulusan terbaik di Landon. Aku gagal, aku sudah gagal.


Tapi, justru Imam lah yang menyadarkan ku dari keterpurukan karena rasa bersalah ku. Mengapa harus Imam, Entahlah. Harusnya dia marah, membenciku atau bahkan menuntutku dengan tuduhan Mal paktek.. yang membuat nyawa istri tercintanya melayang.


***Flashback Off.


Terima kasih sudah mampir dan membaca.


Maaf yaa, jika authornya sok tahu mengenai urusan kedokteran.

__ADS_1


Namanya juga novel fiktif belakang. Mohon maaf.


sehat selalu semua***.


__ADS_2