
" Assalamualaikum, Di."
" Walaikumsalam, mas. Beberapa hari kok tidak bisa dihubungi?." tanya Diana disebrang sana.
" Maaf, beberapa hari ini banyak masalah yang terjadi, aku menenangkan diri. Ada apa?"
" Ahh, tidak kapan bisa jalan?"
" Nanti aku hubungi kamu jika aku ada waktu. Tapi, untuk sekarang aku belum bisa." kata Fa'i menoleh pada Arini yang mengambil kue itu. Lalu memberi kode pada Arini untuk menyuapinya.
" Aaaaa..."
Arini pun mengreyitkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.Tapi, Fa'i tak kehabisan akal. Ditariknya tangan Arini yang telah memegang sepotong brownies, lantas dimasukkan kedalam mulutnya.
Sontak Arini terbelalak melihat hal yang dilakukan Fa'i, apalagi dia sengaja mengulum jemari Arini yang terkena remahan kue itu.
"Auuuuuu...." pekik Fa'i karena lengannya dicubit Arini.. Padahal disebrang sana Diana masih saja berbicara padanya.
" Kenapa kamu mas.?" tanya Diana
" Haaa, tidak kok. Ini dicakar anak kucing. " kata Fa'i sambil melirik Arini yang menahan tawanya.
" Di, udah dulu yaaa mau maghrib aku ke masjid dulu."
__ADS_1
"Ehmmt, yaa udah. Bye.. mas I love U"
"Iya, bye..." Fa'i menutup telpnya tanpa membalas ungkapan cinta dari Diana.
" Mau donk disuapin lagi, ." Fa'i mencoba untuk menggoda Arini lagi, Arini pun menoleh dengan senyum yang tak mudah diartikan.
" Aaaaaaaa...." kata Arini memajukan tanganya untuk menyuapai Fa'i. Tapi, begitu sampai didepan mulut Fa'i tangannya , ditarik kembali lalu memasukkan ke mulutnya sendiri. Fa'i yang melihatnya tersenyum.
" Awas kamu yaa!." kata Fa'i seringai jail menyungging dibibirnya.
" Udah adzan kamu tidak kemasjid, tadi katanya pamit sama pacar, kamu mau kemasjid. "
" Kamu cemburu yaa?"
Malam semakin larut, Arini merebahkan badanya ditempat tidur, menyusul Fa'i yang terlebih dahulu naik kesana. Tapi, masih sibuk dengan ponsel ditangannya.
" Ternyata benar kata Sabina mas Fa'i sangat tampan, tidak apa - apakan kalau aku mencintainya." batin Arini sambil tersenyum melihat Fa'i yang tak menyadari keberadaannya. Pikir Arini.
" Kenapa senyum - senyum gitu?" tanya Fa'i pas menoleh dan melihat Arini yang senyum - senyum sendiri.
" Haaah... tidak kok."
" Kenapa apa kamu baru sadar suamimu ini sangat tampan " Arini mengreyitkan dahinya dengan senyum tipis yang manis itu.
__ADS_1
Fa'i pun sejenak menatap Arini lekat - lekat. Wajah cantik tanpa polesan sedikitpun itu benar - benar membiusnya. Lalu disentuhnya pipi Arini dengan lembut, perlahan mendekat dan semakin dekat.
Tapi, wajah Diana terlintas dipikirannya. Fa'i pun segera menjauhkan wajahnya. Seolah mengerti apa yang terjadi, Arini pun menahan dirinya untuk tidak berharap lebih.
" Pelan - pelan saja , kita memperbaiki semuanya. Aku tahu perasaan cinta mu pada Diana masih begitu dalam. Jadi tidak usah terburu - buru." Ucap Arini dengan lembut dan tersenyum manis sekali.
" Maafkan aku Arini, karena aku belum bisa mencintaimu. Tapi, aku akan membuka hatiku untukmu. Jadi tolong ajari aku mencintaimu dengan caramu mencintaiku."
" Yaa, mulai sekarang kita belajar untuk saling mengerti, saling percaya dan saling mencintai."
" Terima kasih Arini, untuk semuanya."
" Ehmmt, boleh aku tanya 1 hal ?" tanya Arini sedikit ragu, Fa'i pun mengangguk
" Mengapa kamu tidak mau menikahi Diana."
" Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi, aku yakin kamulah jodoh yang dikirim Allah untukku. Sudah malam sebaiknya kita tidur. " Kata Fa'i mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membahas tentang Diana.
" Ehmm, selamat malam." kata Arini merebahkan tubuhnya, diikuti Fa'i yang menarik selimut warna putih untuk menutupi dan menghangatkan tubuh mereka.
" Arini, Terima kasih untuk setiap kesabaranmu, Cintamu dan segala yang kamu korbankan demi keluargaku. Maafkan aku."
Batin Fa'i yang menatap wajah cantik Arini yang telah terlelap begitu tenang. Lalu digenggamnya jemari Arini, perlahanya rasa kantuk menghampiri. Membuat Fa'i mulai memejamkan matanya dengan tangan yang terus menggenggan tangan Arini.
__ADS_1