CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Kiddos Demam


__ADS_3

Mungkin karena sudah keasyikan main selama pulang kampung, akhirnya Kiddos pada jatuh sakit. Padahal besok mereka harusnya udah mesti pulang ke Jakarta. Namun, lihat kedua jagoan lesu banget kayak Kimung sama Jordi kalo lagi laper, akhirnya kepulangan mereka ditunda lagi.


"Badannya panas banget." desis Dara cemas, di tangannya tergenggam termometer.


"Dua-duanya, Yang?" tanya Bagas yang baru aja selesai dari kamar mandi.


Dara mengangguk. Bagas mendekat, terus ngecek suhu badan kedua anaknya yang emang udah panas banget. Keduanya kompak, sampe sakit pun barengan.


"Bawa ke rumah sakit aja deh, aku gak mau nanti ada apa-apa sama mereka." putus Bagas akhirnya.


Dara segera mengangguk dan mencari kunci mobil bapak. Bapak sama ibuk kebetulan lagi ke pasar beli sayur buat dimasak lauk siang pagi ini. Mereka pergi naik motor matic Dara.


"Kita berangkat sekarang ya, nanti aku kabarin bapak sama ibuk."


Dara gak punya jawaban lain selain iya. Kedua anaknya udah lemas, badan mereka panas. Dara udah khawatir. Bagas tetap mencoba tenang walaupun dia juga diliputi perasaan khawatir yang luar biasa saat ini.


Lihat kedua anaknya gak ceria lagi, bikin Bagas jadi terenyuh. Begini ternyata setelah punya anak. Inilah perasaan yang kerap dialami orang tua saat anaknya sakit. Khawatir, takut, sedih, pokoknya semua bercampur menjadi satu.


"Tenang ya Yang, kita bakal sampe." ujar Bagas yang sedang fokus menyetir. Bersyukur banget Malang gak semacet Jakarta. Dia bisa dengan mudah mengakses jalan di tengah situasi genting seperti ini.


Sampai di UGD perawat langsung sigap melakukan pemeriksaan terhadap dua jagoan yang lagi lemah. Tapi, satu perawat kayaknya inget sama Bagas yang pernah masuk rumah sakit karena tragedi ranjang patah jadi dua dengan kolor doraemon pula.


"Udah punya anak aja Mas gondrong." bisik salah satu perawat sambil curi-curi pandang ke arah Bagas yang lagi sibuk peluk Dara buat tenangin maminya anak-anak. Mupeng deh para wanita di sana, menyaksikan pemandangan indah antara suami istri yang lagi saling menenangkan.


"Anak-anaknya dirawat inap ya Pak, Bu." ujar dokter UGD di sana.


"Apa aja Dok, yang penting mereka cepat sehat." jawab Bagas cepat.


Gak papa pulangnya diundur lagi. Sampai kiddos benar-benar pulih baru mereka bakal pulang. Bagas dan Dara ikut para perawat yang lagi dorong dua brankar di mana anak-anaknya lagi berbaring lemah.

__ADS_1


Diagnosa sementara, kiddos Hipertermia dengan suhu tubuh di atas tiga puluh delapan derajat Celcius. Memang panas sekali. Mungkin karena cuaca yang berubah-ubah membuat mekanisme pertahanan tubuh mereka sedikit terganggu saat ini.


"Nyak, tangan Neon sakit." Aariz menunjuk tangannya yang sudah diinfus. Dara jadi gak kuat lihat anaknya begitu. Dia jadi nangis diem-diem. Sama kayak dede Aariz, abang ondrong juga nampak meringis menahan ngilu tangannya bekas jarum infus.


"Gak papa, anak Papi kan kuat semuanya. Kalau gak begini, nanti sembuhnya lama loh." Bagas berkata sambil tersenyum lalu mengelus puncak kepala anak-anaknya satu persatu.


"Tapi sakit, Pi. Kakek Nenek Ondrong mana?" tanya abang Aarash lemah.


Baru aja mau jawab, pintu kamar inap terbuka. Bapak dan ibuk tergopoh-gopoh mendekati kedua cucu mereka yang sedang terbaring lemah.


"Apa kata dokternya Nak Bagas?" tanya bapak penuh kekhawatiran.


"Gak papa kok Pak, Buk. Mereka cuma demam, karena kelelahan dan kurang cairan. Jadi badannya panas. Tapi sekarang udah mulai turun." sahut Bagas.


Dara sendiri sedang duduk gak jauh dari anak-anaknya. Sebenarnya dia juga lemas saat ini. Badannya gak enak juga, tapi demi anak-anak dan suaminya biar gak khawatir, Dara tetap berusaha terlihat segar.


"Kamu istirahat aja nanti ya Yang. Biar aku yang jagain anak-anak di sini." ujar Bagas penuh perhatian. Niatnya mau minta Dara pulang bareng bapak sama ibuk nanti. Tapi Dara menggeleng.


"Ya udah, gak papa. Nanti kita jagain mereka bareng ya."


Dara mengangguk. Jadilah Bapak dan ibuk pulang duluan. Mereka juga menasehati cucu-cucunya yang pada susah minum obat.


"Kalau mau cepat sembuh harus rajin minum obatnya ya." kata ibuk pada cucu-cucunya.


Setelah mereka pulang, Dara sama Bagas tetap di rumah sakit. Tapi Bagas keluar juga beberapa jam kemudian buat ngambil baju mami sama anak-anak. Tadi lupa minta ibuk sama bapak bawain.


Bagas juga membeli makanan untuk mereka karena istrinya itu sekarang jadi gak nafsu makan. Dari pagi tadi Dara belum ngisi perutnya sama sekali dengan makanan.


"Makan dulu ya." ajak Bagas pada Dara yang cuma bisa mengangguk pasrah.

__ADS_1


"Aku gak bisa lihat anak-anak begini." ujar Dara sedih, airmata sudah mengalir bersamaan dengan makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


"Udah gak papa, Sayang. Nanti anak-anak bakal sembuh. Kamu gak boleh sedih terus, kalau anak-anak lihat kamu nangis, mereka malah bisa salah paham. Nanti takutnya mereka drop lagi karena kepikiran kamu." Bagas berusaha menenangkan istrinya.


Dara memandang suaminya lalu menghapus air mata dan tersenyum.


"Maaf ya Mas Bagas." desah Dara pelan.


"Gak papa, lanjutin makannya ya. Nanti kamu tidur aja duluan, aku jagain mereka dulu baru ikut tidur juga."


Dara mengangguk dan tersenyum. Saat ini, ia sudah mulai tenang. Ia juga sering tersenyum setiap melihat betapa telaten dan sabarnya papi menghadapi anak-anak yang kadang rewel dan menangis.


Sudah malam, Dara tidur meringkuk di sofa empuk ruangan VIP itu. Bagas ambil selimut nyelimutin Dara, terus ia ikut memejamkan mata setelah memastikan kedua anaknya sudah tidur tenang juga.


"Anak-anak lagi sakit, kamu harus tetap sehat ya. Karena kalo kamu sakit, aku nanti sedih." bisik Bagas sembari menyibak rambut Dara yang jatuh di pipi.


"Iya, Sayang." Suara Dara terdengar.


"Kirain udah tidur." Bagas menyentil hidung Dara gemas.


"Ayo tidur, Mas." ajak Dara.


Bagas merebahkan diri di samping istrinya. Sofa itu lumayan besar untuk mereka. Meski tetap saja mereka berdempetan akhirnya.


Bagas memeluk Dara yang sudah meringkuk dengan posisi kaki setengah menggantung. Terasa hembusan nafas hangat Dara di dada bidangnya.


Perlahan, matanya juga mulai terpejam. Melewati semua hal berdua terasa begitu menyenangkan bagi Dara dan Bagas. Tidak salah ia memutuskan untuk menyusul Dara ke Malang.


Kalau tidak, Dara bisa kerepotan mengurus kedua anaknya yang sedang sakit seperti sekarang ini. Naluri suami sayang istri memang kuat. Dara jadi bersyukur punya suami sepeka dan sepengertian Bagas Gumilang ini, CEO gondrong yang awalnya adalah atasan menyebalkan dan suka main wanita.

__ADS_1


Kalau udah ketemu wanita yang tepat ya bund, buaya gondrong tobat juga akhirnya. Jadi baper deh pengen cilok. Eh, pengen punya yang pengertian juga maksudnya kayak papi gondrong.


__ADS_2