CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Selama meeting berlangsung, baik Bagas atau Dara tetap profesional melaksanakan dan mengikuti jalannya meeting seperti biasa. Cuma selama meeting entah mengapa Bagas jadi sering banget minum, entah karena haus atau karena rasa minuman yang disajikan siang ini lebih berkelas.


Minuman dari merk yang terkenal dengan cak lontong sebagai bintang iklannya. Yang bagi Bagas benar-benar nyegerin karena mampu meredam rasa hausnya sudah kronis siang ini.


Sebenarnya Bagas tidak terlalu fokus mengikuti jalannya meeting hari ini. Ia gugup, saat melihat Dara yang nampak tenang dan anggun sebab Dara kini sedang menuntut penjelasan mengenai Ratih hari ini juga entah kapan waktu tepatnya konferensi persnya yang hanya akan dihadiri oleh istri sendiri itu.


Jadilah Bagas yang gugup membuat otak kecilnya untuk memerintahkan minum sebanyak mungkin. Sampai izin ke toilet untuk beberapa kali pun tidak bisa dihindari karena banyak minum jadi memancing panggilan alam untuk pipis.


Setelah selesai meeting, Dara tidak membahas lagi masalah Ratih. Tapi, Bagas tahu dari tatapan matanya, Dara masih menunggu penjelasan suaminya itu.


"Kita omongin di rumah ya, Ra." Begitu kata Bagas saat melihat Dara sudah memasang mode diam. Dara tidak menjawab, tapi ia mengangguk sambil membereskan berkas lalu memasukkannya ke dalam laci meja kerja untuk nanti direkap di akhir bulan.


Saat telah sampai di apartement setelah membersihkan diri dan selesai makan dengan keheningan yang melingkupi, Dara menunggu Bagas di ruang tengah. Bukan di kamar sebab kalau di kamar ceritanya akan lain dan ia tidak akan mendapatkan penjelasan apapun juga dari suaminya.


"Jadi kamu mau mulai dari mana, Mas? Dari nyeritain sejak kapan kamu ketemu sama Ratih atau sejak kapan kalian udah saling mengisi?" Kata-kata Dara yang tenang tapi penuh sindiran itu membuat Bagas jadi pusing sendiri. Tapi mau tidak mau, ia harus meluruskan apa yang sebenarnya sudah terjadi dan apa alasan keterdiamannya selama ini.


"Oke, aku mulai dari kenapa Ratih bisa ada dalam hidup seorang Bagas, juga meluruskan bahwa apa yang kamu pikirkan tentang kami itu salah." Bagas menarik nafas panjang. Bisa dirasakan sekelilingnya kini terasa menegangkan.


"Aku akan dengar sampai ke cerita paling gak penting sekalipun tentang kalian."


"Semua bagian dalam cerita aku dan Ratih adalah penting, Ra." Bagas menunduk.


Dara sudah menyiapkan hati dengan segala kemungkinan yang akan ia dengarkan.

__ADS_1


"Cerita lah, Mas." Dara menghela nafas berat.


"Ra, aku udah bikin Ratih cacat. Gak bisa jalan, gak bisa lagi mengajar, dan dia harus putus sama pacarnya dulu karena kecacatannya itu, yang disebabkan oleh kecelakaan satu tahun yang lalu. Aku yang sudah menyebabkan itu semua." Bagas menunduk, Dara tersandar lemas pada sofa yang sedang ia duduki.


"Selama satu tahun ini, panti asuhan tempat mereka tinggal, adalah tempat yang sangat akrab untukku. Anak-anak panti yang membuat aku bahagia setiap tawa mereka, ayah dan ibuk yang sudah menganggapku anak mereka sendiri. Aku donatur di sana, Ra. Itu alasan aku mati-matian mempertahankan harta Papa. Bukan untuk kepentingan sendiri, tapi memang karena aku butuh demi banyaknya perut yang harus diisi nasi setiap hari, demi anak-anak panti yang juga perlu pendidikan sejak dini, juga demi Ratih agar dia cepat pulih kembali dengan menjalani terapi. Perasaan aku sama Ratih gak lebih dari sekedar seorang kakak sama adik dan sebagai orang yang bertanggung jawab atas semua kebebasan yang sudah hilang karena kecelakaan satu tahun lalu dengan aku sebagai orang dibalik kemudi." Bagas mendekati Dara, ia berlutut di depan Dara yang sedang duduk di sofa. Bagas meraih jemari itu lembut. lalu menggenggamnya.


"Mas, kamu mungkin hanya menganggapnya adik atau orang yang memang membutuhkan tanggungjawab kamu atas musibah yang tidak sengaja itu, tapi aku tahu dia memiliki sesuatu untukmu. Mas, lagi pula kenapa tidak memberi tahu ini pada Papa dan Mama? Bukankah semua akan lebih mudah kalau mereka juga tahu?" tanya Dara pelan.


Bagas menarik nafas panjang.


"Iya Ra, kalau semudah itu. Kamu tahu, kalau seandainya aku memberi tahu Papa tentang kecelakaan yang menimpa Ratih, seorang gadis yang kehilangan kebebasan juga cintanya karena kecelakaan kemarin, bukan gak mungkin Papa akan menikahi aku dengan Ratih. Jujur Ra, aku gak mau itu terjadi. Aku tahu bagaimana papa. Aku gak mau menikahi Ratih. Aku gak punya perasaan apapun selain karena memang aku sudah menganggapnya adik juga seseorang yang harus aku tanggung hidupnya karena kecelakaan kemarin. Dan, aku gak mau punya istri selain kamu, Ra. Lihat gimana aku setuju menikahi kamu kemarin? Jadi aku terpaksa menyembunyikan semua tentang Ratih juga keluarganya dari kalian."


"Termasuk Mas Doni dan Mas Kevin?" tanya Dara. Bagas mengangguk.


"Ra, aku bakal ajak kamu ke panti asuhan besok. Aku bakal buktiin ke kamu, aku gak punya perasaan apapun sama Ratih." ujar Bagas berusaha meyakinkan Dara akan keseriusannya.


"Tapi, gimana kalau apa yang aku takutkan benar-benar jadi kenyataan, Mas?"


"Enggak, percaya sama aku. Ratih juga gak menganggap aku lebih dari seorang kakak. Kamu mau kan besok ikut aku ke sana? sepulang kita dari kantor?"


Dara terdiam sesaat, ia balas menatap Bagas yang nampak harap-harap cemas. Tapi kemudian Dara tersenyum lalu mengangguk.


"Aku bakal ikut, Mas. Aku ingin bertemu dengannya." putus Dara akhirnya.

__ADS_1


Bagas segera memeluk Dara, mengecup keningnya lalu menatap istrinya itu penuh perasaan.


"Seumur hidup aku cuma pengen punya istri satu. Cuma kamu aja, Ra." ujar Bagas penuh keyakinan.


"Aku juga, Mas Bagas." Dara membalas Bagas dengan senyuman dan membiarkan suaminya itu membawanya masuk ke dalam kamar kemudian.


"Aku lagi subur, Mas." Dara memperingatkan.


"Gak papa, kita bikin kamu gak datang bulan lagi bulan depan." sahut Bagas sambil membuka semua yang ada pada tubuh mereka berdua.


Dara mengangguk patuh, mungkin inilah saatnya mereka semakin mengukuhkan ikatan pernikahan. Bagas juga rencananya akan mengumumkan pernikahan mereka secepatnya.


Ia tidak lagi ingin menunda kehadiran anak. Maka dengan semua niat juga harapan yang tinggi, Bagas melepas calon benih yang akan bersemayam itu ke rahim istrinya.


"Karyawan bakal lihat kamu buncit gak lama lagi." goda Bagas pada Dara yang sedang mengatur nafasnya yang ngos-ngosan setelah pertempuran sengit dengan suami gondrong.


"Kamu bakal bilang hubungan kita yang sebenarnya?" tanya Dara ragu.


"Kenapa enggak, Ra? mau sampai kapan kita main kucing-kucingan sama mereka. Kamu gak lihat sekarang mereka punya keahlian jadi detektif Conan setelah kemarin pada jadi paparazi dadakan?"


Dara manggut-manggut. Benar kata Bagas, tidak seharusnya mereka menyembunyikan status pernikahan mereka dari semua orang.


Tapi semua itu karena mereka terpaksa dulunya. Lain cerita dengan sekarang, cinta sudah ada dan menautkan hati keduanya. Tidak ada lagi alasan untuk sembunyi dari kenyataan. Bukankah begitu teman-teman?

__ADS_1


__ADS_2