CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Dipendam Sakit, Diungkapkan Salah!


__ADS_3

Kekekian Dara masih berlanjut hingga keesokan harinya. Dara dengan keengganannya bertanya, Bagas dengan keengganannya untuk jujur. Dua-duanya udah kayak pasien RSJ yang saling ngedumel kesal sendiri tanpa tahu bagaimana harus melampiaskan.


Sebenarnya masalahnya gak berat-berat amat, cuma si Dara sama Bagas ini emang punya jiwa lain daripada yang lain. Mereka hobby sekali merumetkan masalah yang tadinya kecil jadi besar kayak bola mata Jordi. Nah, Jordi lagi! Kalau yang jelek-jelek memang selalu Jordi, gak pernah si Kimung yang belum ketahuan aja liciknya gimana.


"Mas, hari ini ada meeting penting. Jangan berani keluar." Dara berkata sambil melahap keripik makaroni yang rasanya asin kayak keringat Bagas.


"Iya, aku tahu. Standby kok aku." sahut Bagas sambil menghisap es lilin yang manisnya sama kayak semangka punya Dara.


"Kenapa sih kamu gak peka juga?!" pekik Dara dengan mulut sudah penuh keripik makaroni.


"Apaan sih, Ra? aku udah berhenti tadi ke warung kaki lima. Kamu bilang mau beli kerupuk malah ngambik keripik, kok aku yang disalahin? gak peka apa coba aku?" sahut Bagas salah sangka sambil menyedot kesal es lilin yang sudah hampir habis.


Dara berdiri, sambil berdecak ia menggoyangkan rambutnya ke kanan ke kiri. Mirip sama instruktur senam yang lagi goyang dumang di bawah gedung sana.


"Aku udah mau stress tahu gak, ngadepin kamu yang gak peka bikin tensi aku naik ke puncak yang paling tinggi!" Dara berkacak pinggang lalu menghempaskan plastik bekas keripik ke dalam tong sampah dengan semua kekuatannya.


"Aku bukannya mau stress lagi, tapi udah mau masuk rumah sakit jiwa ngadepin kamu yang suka ngambek sampai tega biarin Jeki gak ketemu Nyai! Tensi aku bukan lagi udah di angka tertinggi, tapi udah keluar jalur!" balas Bagas sambil melemparkan plastik bekas es lilin ke dinding kaca ruangannya yang akhirnya membuat benda itu malah nemplok dengan gagah di sana.


"Karena kamu Nyai gak aku izinin ketemu Jeki! pokoknya kalau kamu gak juga peka dan jelasin semuanya sama aku, aku bakal terus-terusan begini!" ancam Dara dengan sebuah gunting di tangannya. Bikin Bagas langsung kalem sambil pura-pura lihat layar monitor komputer, takut Jeki dimutilasi oleh Dara yang masih emosi gak terkendali.


Dara beranjak, meninggalkan ruangan lalu meraih sebungkus keripik pisang dan membawanya keluar. Ia duduk di sebelah Tina sambil makan keripik pisang dengan cepat. Nampak sekali ia tengah kesal.


"Kenapa lo? eh, bagilah, beli cuma satu." Tina langsung merebut keripik pisang dari tangan Dara tanpa rasa bersalah.


"Kamu punya jurus gak biar laki-laki itu bisa jujur sama kita apalagi itu soal perempuan yang udah dia sembunyiin dari kita diam-diam?" tanya Dara meminta saran ketua ghibah di perusahaan itu.


Tina memutar tubuhnya jadi menghadap Dara.


"Emang lo punya cowok, Ra?" tanya Tina penuh selidik.


"Bukan cuma punya cowok, tapi punya laki!" sahut Dara kesal.


"Wah, lo jadi simpenan orang kaya nih pasti."


Ternyata selain punya bakat jadi paparazi, Tina juga punya bakat lain yaitu ngomong asal nyablak kayak congor sapi.


"Ih, kamu tuh asal nuduh aja! enak aja jadi simpenan!"

__ADS_1


"Ya abis gak ada yang bakal percaya Dara lo tuh udah punya laki!"


"Gak papa kamu gak percaya. Tapi gimana sama pertanyaanku tadi? aku mesti gimana?" desak Dara meminta petunjuk Dewi ghibah.


"Potong aja perkututnya!" Jawab Tina semangat. "Nih, gue punya gunting berbagai jenis dan ukuran, dari gunting kuku sampe gunting rumput." Tina segera mengeluarkan peralatannya. Dara hanya menatap gadis itu bergidik ngeri.


"Ih jangan sarannya begitu dong!" Dara berdecak kesal. Tina sudah nyengir, berhasil menggoda perempuan berkacamata itu.


"Ajak ngomong baik-baik lah, Ra. Ngobrolnya jangan langsung ngegas kayak mukanya pak Bagas. Kalo kebukti selingkuh baru deh lo ngegas, bila perlu langsung digantung aja perkututnya!" sahut Tina lagi, kembali dengan semangatnya yang membara setiap membahas masalah potong memotong.


"Gengsi aku! masa aku yang mesti mulai duluan!" Dara bersidekap.


"Ya udah kalo gitu gak bakal ketemu jawabannya. Ngambek aja lo sampe Jordi tumbuh gigi."


Lagi-lagi Jordi! gak heran kalo pagi ini Jordi udah keselek biji salak dua kali. Banyak orang yang sedang membicarakannya diam-diam ternyata.


Dara duduk masih dengan wajah nampak berpikir keras. Kalau pun ia nanti akan bertanya pada Bagas duluan, apa suaminya itu akan jujur?


Dara jadi sangsi, tapi memendam ini terlalu lama malah akan membuat hubungannya dengan Bagas makin tidak baik.


Gimana sih ini? dipendam sakit, Diungkapkan salah!


Dara kembali ke meja kerjanya. Tangannya bertopang dagu menatap layar ponsel. Iseng, ia buka lagi akun bermana Ratih itu. Ia membuka semua postingan yang memamerkan foto Bagas dengan berbagai caption di dalam sana.


Gatal sekali tangan Dara untuk mengiriminya direct massanger. Berapa kali mengetik dan menghapus akhirnya ia beranikan diri menyapa gadis itu.


Hai. Dara mengirim pesan pertama yang langsung mendapat balasan.


Maaf, siapa ya Mbak? Balasan itu membuat jari Dara serasa bergetar ketika hendak membalas pesan gadis itu.


Aku perempuan di balik stiker monokorobo. Dara membalas itu dengan sedikit emosi.


Lama tidak ada balasan, Dara mengetuk-ngetuk meja kerja. Satu notifikasi masuk, membuat Dara langsung membukanya.


Oh, kamu perempuan yang dekat sama Bang Bagas ya? aku udah tahu kok Bang Bagas banyak yang suka, dan aku gak masalah.


Balasan dari Ratih bikin Dara jadi memanas.

__ADS_1


Termasuk kamu ya? Balas Dara lagi, hatinya sudah mendidih.


Aku gak perlu jawab. Maaf ya. Balasan Ratih.


Kamu harus jawab, karena kamu perlu tahu satu hal. Kenalin, aku Dara, istri Mas Bagas.


Tidak ada lagi balasan dari akun Ratih itu. Hingga dua jam menunggu, tetap saja tidak ada balasan.


Dara menggigit bibir bawahnya, ia jadi berpikir, apa tindakannya tadi sudah benar?


Dara beranjak, menuju Bagas yang masih terpejam. Perlahan ia menjulurkan tangan mengusap wajah lelaki menyebalkan yang sudah mencuri hati juga Nyai.


"Duuuuh segitunya kamu pandangin aku." Suara Bagas dengan mata yang masih terpejam itu buat Dara langsung kaget. Ketahuan sedang mengagumi buaya gondrong yang memang sudah dilahirkan tampan.


"Bangun, udah mau meeting." ujar Dara dengan wajah bersemu merah.


Bagas menarik Dara, meminta istrinya itu duduk di pangkuannya. Lalu ia memagut bibir Dara lembut penuh rindu. Dengan sedikit manja ia juga membenamkan wajahnya diantara dua benda favoritnya.


Dara jadi mulai terhanyut suasana karena ulah suaminya.


"Baikan ya?" ujar Bagas sambil mendongak.


"Boleh, asal kamu mau jujur satu hal sama aku." sahut Dara.


"Apa?"


"Ratih."


Bagas diam, Dara turun dari pangkuan suaminya.


"Gak usah serius dulu, urusan Ratih belakangan, Mas. Ayo meeting dulu." Dara tersenyum lalu membereskan berkas yang akan dibawa untuk keperluan meeting siang ini.


Dara juga membetulkan kemejanya yang sudah terbuka beberapa kancing itu lalu merapikan kemeja Bagas yang masih terpaku.


Bener, ini bukan salah Jordi!


Bagas diliputi rasa bersalah karena telah menuduh Jordi sebagai dalang kemarahan Dara kemarin. Jordi sendiri sudah telentang kekenyangan karena habis makan pelet punya Kimung yang rasanya khas plus sedikit berbau, agak pesing tapi kata Jordi bikin nagih.

__ADS_1


Kimung sudah tertawa licik. Dia belum tahu kalau kucing Oren sudah beraksi!


__ADS_2