CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Ratih


__ADS_3

Jadi sore hari di saat Bagas dan Dara sudah selesai dari bertugas, mereka bergegas menuju panti asuhan. Bagas tidak lagi deg-degan kayak kemarin, hatinya sudah jauh lebih tenang karena nasihat Kevin dan Doni pagi tadi, bikin Bagas gak jadi nyesel punya teman bentukannya kayak mereka berdua. Juga bikin Bagas bisa maafin kelakuan mereka berdua yang sering ngajarin Jordi ngomong gak benar.


Alasan lainnya karena Dara sudah bisa memahami mengapa sosok Ratih tiba-tiba ada dalam hidup seorang Bagas. Dara gak lagi uring-uringan dan gak pernah lagi sumpah pocong kalau lagi ngambek. Bikin Bagas jadi makin kasmaran tiap lihat itu titisan Betty Lapea.


Tapi sebenarnya, Dara deg-degan juga sih. Gimana enggak, dia bakal berhadapan dengan saingan yang menurut dia berat. Kenapa berat? karena Ratih berbeda dengan para wanita yang selama ini dekat dengan Bagas. Ini Ratih, sosok yang cidera dan sekarang tidak punya daya upaya untuk bergerak tanpa bantuan orang lain karena kecelakaan yang diakibatkan Bagas. Tentu, dia punya alasan yang kuat jika memang benar perempuan bernama Ratih itu sudah menaruh hati juga harapan tinggi tentang Bagas.


Tapi, Dara sudah bertekad akan tetap bersikukuh mempertahankan rumah tangganya dengan Bagas. Lagipula biarpun menyebalkan dan sering bikin Dara keki, lelaki gondrong itu sudah mendapatkan tempat di hatinya. Tidak mudah bagi Dara untuk melepaskan Bagas. Tidak akan pernah Dara lakukan tepatnya.


Saat sudah memasuki pekarangan panti asuhan yang cukup luas, Dara jadi semakin deg-degan kayak waktu pertama kali jatuh cinta sama Bagas. Bagas apalagi, kalau biasanya ia datang sendiri setiap kali ke panti asuhan, sekarang ia datang bawa istri, seseorang yang akan mematahkan semua angan dan harapan Ratih.


Bagas gak deg-degan kayak Dara, tapi keringat dingin justru sedang mengalir dari setiap cela pori-pori tubuhnya, rasanya sama seperti tiap kali Bagas nahan BAB. Cukup lama Bagas dan Dara terdiam masih dengan tubuh terpaku di dalam mobil, keduanya kemudian saling berpandangan.


"Kenapa aku jadi deg-degan ya, Mas?"


"Udah turun aja yuk, aku kenalin sama pemilik panti asuhan ini, juga Ratih." Bagas berkata sambil menyeka keringatnya sendiri. Baru kali ini ia nervous parah.


Dara turun mengikuti langkah Bagas yang mirip keong emas. Lama sekali jalannya seperti lagi dalam adegan slow motion salah satu aplikasi terkenal masa kini. Dara jadi gemas, ingin rasanya ia gendong Bagas di pundaknya agar lelaki itu mempercepat langkah. Tapi melihat badan Bagas yang atletis dan pastinya berat, Dara jadi mengurungkan niatnya.


"Mas kenapa kamu jalannya lama banget? cepatlah napa?" Dara menyenggol siku Bagas agar suaminya itu segera mempercepat gerakannya.


Bagas yang tersadar dari posisi berjalan sambil ngelamun, langsung ambil langkah seribu. Bikin Dara jadi lebih keki karena sudah ketinggalan jauh.

__ADS_1


Keduanya disambut hangat Ibu dan Ayah pemilik panti asuhan. Pak Sukardi menatap penuh tanda tanya pada Dara yang terlihat menunduk sopan dan memberi senyum hangat.


"Masuk, Nak." Bapak mempersilahkan keduanya, sementara ibu segera ke dapur untuk membuat minuman bagi tamu istimewa yang datang sore ini.


"Wah Nak Bagas, jarang-jarang bawa perempuan ke sini." goda Ibu sambil tersenyum menatap Dara.


"Iya Bu, mumpung masih ada waktu." Dara mengernyitkan dahi. Perkataan Bagas bagai ia mau meninggal saja.


"Siapa namanya Cah ayu?" tanya Ibu ramah, membuat Dara yang tadinya canggung sekarang jadi lebih tenang.


"Miya Andara, Bu, panggil saja Dara." Dara berkata sambil tersenyum.


"Dara ini siapanya Nak Bagas ya?" tanya ayah ramah.


Sesaat kedua orangtua itu saling pandang lalu tersenyum.


"Nak Bagas, sudah ada istri malah ke sini sendiri terus. Kenapa dari dulu gak dibawa Neng Dara nya, biar Ratih ada teman gitu."


Diluar dugaan, kedua orangtua Ratih malah sumringah mendengar pengakuan ini. Bagas dan Dara jadi saling berpandangan, apa memang mereka yang sudah terlalu berprasangka selama ini?


Tapi bagaimana dengan Ratih? apa gadis itu bisa menerima kenyataan ini, kalau memang ia menyimpan perasaan pada Bagas.

__ADS_1


"Iya, maaf Bu. Baru sempat ajak Dara ke sini. Selama ini Dara kalau pulang dari perusahaan langsung aku antar pulang. Tapi lain kali, aku pasti sering ajak Dara ke sini juga. Kasihan Yah, Bu, selama nikah seputaran hidup Dara cuma antara apartemen dan perusahaan aja. Temannya cuma Jordi sama anak kucing. Sesekali saya harus bawa dia keluar biar bisa main sama yang satu jenis."


Jawaban Bagas itu sontak membuat Pak Sukardi dan istrinya jadi tertawa terbahak-bahak. Dara sendiri sudah mencubit perut Bagas dengan kesal karena sukses membuatnya jadi tersipu malu.


Saat mereka sedang larut dalam suasana gembira itu, Bagas jadi ingat mereka belum melihat satu sosok yang paling penting untuk mereka temui sore ini.


"Ratih, dimana Yah?" tanya Bagas di sela tawa mereka.


"Tadi sama anak-anak di taman belakang. Sebentar Ibu panggilkan Ya, Ratih pasti senang kamu datang bawa istri ke sini." Ibu segera mencari putri semata wayangnya itu ke luar rumah menuju sebuah bangunan sebelah dimana anak-anak tinggal.


"Ratih gak ada, kemana ya anak itu?" Ibu kembali lagi tidak dengan sosok yang ingin Bagas dan Dara temui.


"Sudah nanti Ratih ke sini, tunggu sebentar lagi ya. Biasanya kalau sore begini dia sering di dorong sama anak panti buat keluar. Mereka jalan santai nanti balik lagi." timpal Pak Sukardi yang sudah hafal dengan kebiasaan putrinya itu.


Jadi Dara dan Bagas kembali terlibat perbincangan hangat lagi. Sesekali Dara bercerita dengan antusias mengenai keluarganya yang kocak yang berada di Malang. Saat bercerita Dara jadi banyak gerak, bikin yang lagi tenang menggantung jadi gerak-gerak gemas, Bagas menggelengkan kepala, gak boleh berpikiran nakal karena sekarang masih dalam sesi deg-degan yang belum kelar.


"Wah senang sekali mendengar Nak Dara bercerita. Ibu jadi gak berhenti ketawa. Ratih pasti senang punya teman lucu kayak Nak Dara, Nak Dara mau kan temenin Ratih kalau Bagas lagi gak sempat ke sini?" tanya Ibu sambil tersenyum.


"Aku gak perlu ditemenin oranglain. Mas Bagas udah cukup temenin aku. Selama ini juga gitu kan?" Suara seseorang terdengar membuat Dara yang baru saja mau menjawab menutup mulutnya seketika.


Ratih muncul dengan Mendorong kursi rodanya dari luar masuk ke dalam. Ia menatap Bagas dan Dara bergantian. Ibu segera menenangkan Ratih, mencoba memberi pengertian pada putri semata wayangnya. Sementara Pak Sukardi sudah menatap Bagas mencoba meminta maaf lewat sorot matanya.

__ADS_1


"Ratih, bisa kita bicara?" Dara berdiri. Bagas menatap Dara lalu mengangguk, ia tahu Dara pasti bisa memberi pengertian pada Ratih.


__ADS_2