
Datang ke rumah oma sama opa, abang gondrong dan dede neon senang banget. Mereka suka ke rumah oma dan opa karena di sana ada kolam ikan besar. Isinya ikan koi yang harganya selangit. Perlu diketahui ya pemirsah, opa Benjamin ini memang penggila ikan Koi sedari dulu. Koleksinya udah banyak, dari yang coraknya cantik banget, merata warnanya sampai ke yang gak jelas alias cemong-cemong coraknya.
Ada juga yang minim warna, cuma di dominasi warna putih dan setitik corak hitam. Kasusnya mungkin sama kayak neon, waktu pembagian corak kulit, itu Koi gak kebagian jatah. Gondrong udah asyik aja ngasih makan ikan-ikan koi sama opanya. Kalau neon lain lagi, dia lagi sibuk ngintilin omanya ke sana kemari, sebab rambut oma udah pendek banget. Dia penasaran, apa oma sama kayak dia, gak dapet jatah rambut juga waktu lagi pembagian.
"Oma, rambut Oma pendek. Gak kayak Mami, apa Oma gak kebagian juga waktu lagi ada pembagian rambut gratis?" Neon yang udah didoktrin maminya langsung aja nanya begitu sama oma, bikin oma gemas banget sama neon.
"Ah enggak kok, Oma suka pusing kalau punya rambut panjang, jadi Oma potong terus."
"Jadi cuma Neon yang gak dapat pembagian rambut?" Neon meletakkan satu jarinya di dagu, tanda ia sedang berpikir.
"Neon, nanti rambut Neon tumbuh banyak kok. Tapi mesti sabar ya, prosesnya agak lama, Nak." Dara berusaha memberi pengertian.
Jadi malam ini mereka akan makan bersama. Dara udah siapin nasi kuning beserta lauk pauknya lengkap dengan perkedel bulat bulat kesukaan kiddos. Bagas juga suka yang bulat-bulat, tapi bukan perkedel bulat, tahu bulat ataupun kue donat, bulat yang dia suka tuh tersembunyi di balik kaus hitam Dara. Bagas ngefans banget tuh, sampai kebawa mimpi basah. Dasar Bagas, otaknya tetap didominasi semongkonya mami.
Dara sama omanya kiddos lagi asyik nata makanan di atas meja. Di rumah mereka sendiri Tuti sama Keke udah pada rebutan nasi kuning. Tuti paling suka masakannya Dara, kata Tuti enak banget tapi sayangnya Dara gak bisa bikin cilok, cimol sama ketoprak seenak buatan Tuti. Jadilah mereka majikan dan pelayan yang saling melengkapi.
Tuti sama Keke dan para satpam udah makan bersama sebab Dara udah pesan mereka mesti makan bareng nasi kuning buatan Dara. Keke udah nambah dua kali. Kenyang banget dia udah mau ngalahin Kimung yang perutnya gede banget kayak lagi hamil padahal dia kucing jantan. Kimung buncit banget, dia sering jadi sasaran bahan ledekannya Jordi.
Balik ke rumahnya oma, saat ini mereka udah makan bareng. Makanan mami Dara tetap jadi idola. Bagas emang gak salah pilih istri, udah cantik, serba gede atas bawah, pinter di dapur pinter di kasur pinter segalanya.
"Ma, besok aku sama Dara mau ke bandung. Mau visit perusahaan di sana. Gondrong sama Neon titip di sini dulu ya." kata Bagas pada oma dan opa yang dengan senang hati setuju.
__ADS_1
Mereka senang banget dong cucu-cucunya yang lucu itu bakal nginap di rumah mereka. Kalau bisa juga gak usah pulang. Tapi kalau itu Bagas gak setuju, dia suka uring-uringan kalau gak lihat kedua anaknya dalam waktu cukup lama. Udah sayang istri sayang anak-anak juga, keren banget gak sih buaya gondrong ini. Bikin geng emak-emak berdaster pada baper.
"Mami, nanti pulang bawa banyak mainan ya." Pesanan gondrong selalu itu setiap Dara dan Bagas pergi ke luar kota buat perjalanan bisnis.
"Neon mau minta apa?" tanya Bagas pada Neon yang lagi asyik makan paha ayam goreng, sekilas dia jadi mirip upin dan ipin yang suka banget makan ayam goreng tapi khusus bagian paha doang. Dada tetap jatah papi, catet!
"Mau mau beliin Neon rambut aja yang panjang kayak Ondrong." kata neon dengan santainya. Dengar itu, Dara kok jadi sedih ya. Apa benar gara-gara dia kebanyakan makan cilok sama cimol jadinya neon rambutnya susah banget tumbuh.
"Neon ganteng gini aja, beda dari Ondrong. Tapi sama-sama ganteng." sahut Bagas mencoba menghibur anaknya.
"Tapi, Neon jadi mirip permen lolipop yang di tivi." Neon udah bertopang dagu. Duh, Dara jadi merasa bersalah aja nih sama neon.
"Neon, kan ada oma. Nih lihat rambut oma juga pendek banget sekarang kan, oma tetap keren kan?"
"Oma pake sendal salah. Gak keren deh." Oma lantas menunduk dan benar saja, ia memang salah memakai sendal rumahan, satu berwarna kuning satu lagi hijau.
Perkara rambut buat neon udah terlupakan. Setidaknya begitu bagi neon, tapi bagi Dara malah menggangu sekali pikirannya. Dara nyamperin kedua anaknya yang udah tidur di kamar sebelah, bersebelahan dengan kamar Bagas.
"Neon, maafin Mami ya, kayaknya Mami emang kebanyakan ngidam yang bulat-bulat, makanya kamu begini." Mami mengusap kepala neon yang udah tidur.
Lalu ia mencium pipi dan kening neon kemudian bergantian mencium ondrong yang juga sudah tertidur.
__ADS_1
Bagas masuk ke dalam kamar dengan Dara yang masih termenung menatap kedua anaknya.
"Sayang, aku cariin ternyata kamu di sini." Bagas merangkul Dara yang tampak murung. "Kenapa?" tanya Bagas yang menangkap aura tak biasa dari wajah istrinya. Bukan aura tegang, aura horor apalagi Aura Kasih. Tapi ini aura lebih ke sedih begitu.
"Mas, kasihan deh Neon, dia jadi gak pede karena beda sendiri sama kamu dan Aarash." keluh Dara.
"Eh, gak boleh ngomong gitu, Sayang. Apa yang udah dikasih Tuhan mesti disyukuri dong. Biar ada ciri khasnya. Kamu lihat, neon biar gini tapi ganteng sama kayak ondrong juga. Tentu aja bakat ganteng itu menurun dari Papi mereka." Bagas menunjuk bangga dirinya.
"Tapi, apa karena cilok sama cimol sama lampu neon ya Mas?" tanya Dara.
"Enggak, emang karena udah dibikin begitu sama Tuhan. Percaya deh, neon itu masih polos-polosnya dia cuma pengen tahu aja kenapa dia beda rambut sama Ondrong. Bukan karena dia gak percaya diri."
Dara akhirnya mengangguk dan setuju sama teori Bagas. Keduanya menutup pintu kamar. Rumah oma dan opa besar banget, kamarnya juga banyak.
"Ayo bobo, kamu belum ngantuk?" tanya Bagas. "Apa mau bikin dede baru lagi?" Bagas udah naikin satu alisnya dan naikin ampere yang bawah juga, tinggal mami Dara mau ikutan naik atau enggak.
Dara cuma mau peluk Bagas aja, dia lagi lesu malam ini. Bukannya gak sayang atau gak cinta atau gak mau goyang, tapi memang karena perkara rambutnya neon bikin dia jadi kepikiran.
"Udah, jangan dipikirin. Namanya juga anak-anak loh Sayang. Rasa pengin tahunya gede."
Dara mengangguk tapi tetap aja dia sedih. Cilok dan cimol jadi terduga kasus malam ini. Eh, Dara malah jadi kangen cimol kang koboi. Ya elah baru juga nyesel, sekarang malah pengen makan cimol lagi.
__ADS_1
"Besok aja kalo mau cilok, cimol atau apapun lah itu, sekarang udah malem aku mau tidur sambil meluk kamu." Bagas langsung wanti-wanti daripada nanti Dara rusuh pengen beli cimol. Jam segini gak ada lagi cimol, Mi. Adanya kepala tuyul beneran yang lagi cari uang buat majikan.