CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Tragedi Cimol


__ADS_3

Sudah enam bulan usia kandungan Dara, makin bengek aja kelihatannya Dara tiap kali jalan. Bagas juga jadi esktra perhatian sama istrinya. Malam ini, Dara pengen jalan-jalan keliling Jakarta. Bagas turutin aja keinginan istrinya yang cuma itu-itu aja. Kalo gak cilok, ketoprak dan sederet makanan pinggir jalan lainnya permintaan Dara yang lain adalah minta diajak muter-muter sampe bosan.


"Yang, berhenti dulu." Dara yang suka banget bikin kejutan, sekarang bikin Bagas ngerem mendadak.


"Aduh, Yang. Ini aku bisa jantungan loh kalo kamu suka kejut-kejut kayak gini." omel Bagas pada Dara yang sama sekali gak ngerasa bersalah. Tatapannya malah fokus pada pedagang yang lagi jualan cimol.


"Cimol. Ayo beli cimol, Mas." Dara segera keluar dari mobil dengan Bagas yang masih mengatur nafas dan shock melihat Dara berlari kegirangan membawa perut besarnya menuju mas cimol yang memakai topi koboi.


Bagas menggeleng, besok nampaknya ia mesti pergi ke dokter spesialis jantung untuk memeriksa kesehatan jantungnya yang suka berdebar keras setiap kali Dara berulah.


"Mas, sini." Dara manggil-manggil, melambai-lambaikan tangan persis mbak kunti lagi nakut-nakutin pengendara motor yang lewat tengah malam.


"Iya bentar, Sayang." Bagas segera menepikan mobil sebelum dia jadi bulan-bulanan mobil di belakangnya yang udah bunyiin klakson bikin kuping Bagas pusing mau pecah.


"Nih sini, kamu tuh harus cobain cimol enak idola sejuta umat." Dara segera memberikan satu bungkus cimol, yang mirip kepala tuyul cuma ada warnanya karena udah dikasih bumbu balado sama mas bertopi koboi.


"Duduknya dimana, Yang?" tanya Bagas bingung.


"Sini-sini." Dara menepuk-nepuk pinggiran trotoar lalu mencoba duduk. Hampir aja Dara telentang karena gak kuat mendaratkan pantatnya ke pinggiran trotoar kalo gak ditahan Bagas.


"Ya ampun, kita makan di dalam mobil aja deh Yang." ajak Bagas yang masih berdiri.


"Di sini aja kenapa sih, Mas. Gak ada seninya makan cimol dalam mobil."


"Ya elah, Yang. Makan kepala tuyul begini aja kudu ada seni."


"Aduh, udah deh Mas. Jangan banyak protes. Cepetan sini."

__ADS_1


Dan demi menuruti keinginan emaknya duo gondrong yang belum pasti bakal gondrong atau enggak entar pas lahir, Bagas akhirnya ikut duduk bersila di pinggir trotoar.


Setelah beberapa cimol yang kata Bagas mirip kepala tuyul itu mendarat di mulutnya dan terasa enak ia jadi ketagihan. Malah minta mas koboi segera membuat lagi dengan rasa yang berbeda.


"Beneran kan enak. Kamu sih makanannya yang mahal mulu. Sekali-sekali gitu makan yang kayak gini, kan enak. Merakyat." kata Dara semangat. Bagas cuma ngangguk-ngangguk setuju sambil menghabiskan cimolnya.


"Lain kali kita coba bikin di rumah aja Yang. Kamu kan jago masak." usul Bagas yang nampaknya udah ketagihan makan kepala tuyul.


"Mas koboi bikin cimol resepnya apa?" tanya Dara tanpa malu-malu.


"Oh, mudah Mbaknya. Pake tepung tapioka campur gandum dikit aja terus tambahin penyedap garam dikit pakein jug lada bubuk. Bentuk-bentuk bulet gitu baru deh digoreng." jelas mas koboi santai.


Dara dan Bagas jadi semangat empat lima. Sambil menghabiskan makanan mereka, keduanya ngobrol sambil ketawa-ketawa.


"Habis ini kita ke supermarket ya Yang, beli bahan buat bikin cimol." ujar Bagas penuh semangat yang segera diangguki Dara cepat.


Ia antusias sekali memilih bahan sesuai resep dari mas koboi barusan. Dara juga membeli cemilan lain buat stok kulkas dia yang udah mau kosong.


Setelah sampai keduanya langsung ganti baju. Dara udah make dress rumahan kembang-kembang yang kalo ketiup angin bakal ngembang bikin Bagas jadi on seketika. Puyeng kepala Bagas kalo udah gitu. Bagas sendiri udah make kaus hitam ketat dan bawahannya kolor dengan warna senada, sedikit ketat dan membuat sesuatu nampak sedikit menonjol dari sana. Ehmmm, ada yang menonjol tapi bukan bakat.


Keduanya udah sibuk banget di dapur, Dara udah pake celemek yang gak muat nutupin perutnya, tapi tetap aja maksa make. Bagas udah bertabur tepung di wajah. Dara ngulen tepung sambil gerak-gerak bikin sesuatu yang lain jadi ikutan berayun-ayun. Udahlah Bagas gak fokus jadinya main tepung pengen main yang lain aja rasanya.


"Nah, dah jadi nih Mas. Bulet kan?" .


"Iya udah mirip kepala tuyul. Yuk kita masak. Aku tuangin minyaknya dulu ya."


Bagas ala-ala chef profesional udah nuangin minyak secukupnya.

__ADS_1


"Jangan dulu dimasukin cimolnya, kan belum panas Mas minyaknya." sergah Dara yang melihat Bagas udah mau nyemplungin cimol dengan tak sabar.


"Nah udah nih, Yang." Bagas langsung memasukkan cimol demi cimol.


udah setengah mateng, warna udah cantik banget. Cokelat keemasan kalo kata chef Juna, Bagas udah semangat banget namun pas mau ngangkat tiba-tiba aja cimol-cimolnya pada loncat dan meledak ke segala arah.


"Awas Yang! lari! ini cimolnya pada kenapa?! kok kesurupan semua!" Bagas segera membawa Dara yang kesusahan buat lari keluar dari dapur. Bunyi cimol-cimol menciptakan ledakan-ledakan yang membuat Dara dan Bagas jadi ketakutan setengah mati.


"Mas kenapa cimolnya pada ngamuk? kenapa pada meledak?" tanya Dara sambil berlindung di belakang pantatnya Bagas.


"Aku gak tahu Yang. Kenapa pada meledak begitu?" Bagas yang masih shock karena cimol meledak masih berusaha mengatur nafas.


Setelah suara cimol meledak berhenti. Bagas segera melongok ke pintu dapur. Ia terkejut setengah mati melihat dapurnya sudah seperti habis perang minyak goreng. Dengan hati-hati ia mematikan api kompor. Dara gak Bagas izinkan untuk mendekat takut istrinya terpeleset.


"Yang, gak usah makan cimol dulu ya. Mereka udah pada tewas. Bentuknya gak bulat lagi, gak mirip kepala tuyul lagi." Bagas menatap nanar pada cimol-cimol yang sudah bergeletakan di lantai. Ada pula yang sudah nangkring manja di atas kitchen set nya.


Bagas mengambil satu cimol yang tergeletak di atas tempat bumbu.


"Enak. Biarpun gak jelas lagi bentuknya." Ia segera memberikan setengah gigitannya pada Dara yang langsung menggigitnya.


"Enak ya Mas. Tapi kenapa cimolnya pada ngamuk?" keluh Dara sambil menatap cimol-cimol yang bergeletakan di lantai.


"Udah Sayang. Aku gak mau bikin cimol lagi. Kita beli aja nanti. Satu gerobak aku beliin nanti daripada bikin sendiri tapi meledak begini." gumam Bagas dengan mulut penuh cimol. Baru saja hendak berjalan lagi Bagas malah kepeleset bikin kolornya jadi robek parah.


Bagas memukul-mukul lantai dengan kesal. Menyesal dia sok-sokan bikin cimol. Dara memandang suaminya iba dengan mulut masih mengunyah cimol. Gara-gara cimol meledak dapur mereka udah penuh minyak goreng juga mengakibatkan Bagas harus terpeleset dan kolornya jadi robek. Mana pinggangnya terasa mau patah, encok semua rasa tubuhnya. Gagal deh ritual mulia malem nanti.


Jangan tanya si jordi, dia udah paduan suara dari tadi. Hahahahahaha.

__ADS_1


__ADS_2