
Masih dengan suasana romantis, Bagas mengajak Dara ke kamar mereka. Dara sendiri tidak menyangka sama sekali bahwa Bagas akan membelikan kedua orangtuanya mobil. Niatnya memang tidak ingin merepotkan Bagas, apalagi keinginan untuk membeli mobil buat bapak memang sudah lama ia niatkan bahkan jauh sebelum ia bertemu dengan Bagas.
"Mas Bagas, sekali lagi makasih banyak ya." ujar Dara malu-malu meong. Sambil membetulkan gaun tidurnya yang sedikit berantakan.
"Stok makasih kamu tuh kayaknya banyak banget loh, Yang. Aku dengar itu terus dari tadi." sahut Bagas sambil terkekeh.
"Abis aku masih gak nyangka aja kamu sampe beliin Bapak mobil beneran. Terus aku juga bingung mau bilang apa lagi selain itu." Dara menggaruk kepalanya.
"Bilang yang lain kek gitu." ujar Bagas dengan bibir mengerucut.
"Bilang apa emangnya selain makasih?" Dara yang kebingungan balik tanya.
"Ya bilang aku cinta kamu kek, aku sayang kamu kek, aku mau kek, aku pengen gituan kek." balas Bagas asal.
Dara terkekeh geli, yang terakhir itu kedengaran sedikit merinding untuknya.
"Mas gondrong ini pikirannya selalu aja ke sana." Dara mencengkram Jeki kuat membuat buaya gondrong meraung.
"Ini kalau tegak berdiri aku gak nanggung ya Yang kamu bakal capek sampe pagi nanti." ancam Bagas yang segera membuat Dara menelungkup di bawah selimut.
"Gak usah sumpah pocong." ujar Bagas keki.
Ia sudah ngeri sendiri melihat selimut dengan beberapa tonjolan tercetak. Penampakannya mengingatkan Bagas sama film jadul yang dibintangi ratu horor Suzanna judulnya beranak dalam kubur.
Bagas segera masuk ke selimut yang sama. Dara sudah meringkuk di bawah selimut itu. Matanya sudah terpejam. Bagas mengusap lembut pipi halus tanpa kacamata bertengger.
Semakin hari semakin lekat diamati, Dara punya wajah yang memang enak dipandang. Wajahnya cantik dan menarik. Bibirnya mungil, hidungnya pun bangir. Matanya sendu, apalagi waktu lagi nganu. Kata Bagas, tatap matamu membunuh aku di saat dingin malam itu. Salah, itu lirik lagu judulnya kesaktianmu dari grup band Winner. Pasti kalian langsung cari di google kan abis ini.
__ADS_1
"Mas Gondrongku." desis Dara dalam igauannya.
Bagas yang belum tidur merasa tersipu malu. Ah, sejak kapan Bagas yang seorang player ini bisa ngerasa tersipu malu-malu meong begini cuma dengar Dara ngomong begitu. Dalam keadaan tidur dan mengigau pula.
Bagas segera membuka selimut yang menutup dirinya dan Dara. Dia sudah mau bengek. Bagas sendiri heran melihat Dara begitu nyaman tidur dalam keadaan seperti mau sumpah pocong. Apa gak sesak nafas itu perempuan?
"Yang, kamu jangan tidur begini lagi lah. Nanti duo gondrong di dalam sana bisa bengek gak senapas." ujar Bagas pada Dara yang jelas gak bisa dengar karena udah sibuk berkelana dalam mimpi.
Ia segera membetulkan posisi tidur Dara. Ia juga mencium perut Dara. Saat sedang mengusap perut besar mirip balon udara itu, Bagas masih bisa merasa ada gerakan menendang sesekali dari anak-anaknya.
"Udah, tidur aja kalian, masih aja mau berantem udah malem juga." omel Bagas di depan perut istrinya.
Bagas sendiri setelah itu segera menyusul Dara ke alam mimpi. Ia memeluk Dara dari belakang. Sesekali tangannya mengusap perut istrinya agar yang di dalam tenang.
Cerita hari ini cukup indah, ditutup dengan manis ungkapan cinta berkali-kali dari Bagas untuk Dara.
"Mbak, gak ada gitu yang motifnya monokorobo?" tanya Bagas pada mbak penjaga toko.
"Wah udah lewat musim, Mas. Tapi kita masih punya banyak motif lain yang gak kalah lucu loh." Mbak pramuniaga segera menawarkan baju-baju dengan motif lucu.
"Motif yang lain aja lah Mas. Aku ngeri nanti mimpi duo gondrong berubah jadi monokorobo kayak kamu dulu." Dara bergidik ngeri.
"Wah bayinya kembar ya Mbak?" tanya mbak pramuniaga sumringah. Dara juga jadi tak kalah antusias membahas si kembar yang nampaknya lagi anteng dalam perut.
Saat tengah asyik melihat dan memilih pakaian bayi seorang perempuan menghampiri Bagas. Mengejutkan Dara karena yang datang menghampiri suaminya adalah seorang wanita cantik dengan baju kemben kekurangan bahan.
"Bagas! ya ampun gak nyangka ketemu di sini! aduh kamu ya sekian lama kita gak ketemu jadi makin ganteng, macho, oh berotot juga." Mbak kecentilan yang Dara gak tahu namanya menoel-noel lengan suaminya genit. Bagas udah megap-megap mau ngomong tapi selalu terhalang mbak kecentilan yang nyerocos terus kayak cerobong asap.
__ADS_1
"Aku kangen deh ... " Setelah bilang kangen mbak kecentilan langsung mau meluk Bagas bikin Dara yang udah panas langsung pasang gerakan kuda-kuda. Siap main jambak-jambakan lagi kayak dulu waktu Angel datang ke kantor yang akhirnya mengakibatkan Dara mesti pake daster bau bawang setelah itu.
"No! gak ada pelukan ya, Nes." Bagas segera menahan gerakan Agnes, mantannya yang entah ke berapa ( kalian bisa cek di episode gara-gara Jordi urutan ke berapa si Agnes ini ).
"Lho kenapa? biasanya kamu suka aku peluk dulu." sahut Agnes yang tak terima karena gerakannya terhenti di udara. Dia gak sadar sedari tadi Dara udah menatapnya dengan pandangan berapi-api.
"Gue udah punya bini. Tuh." Bagas menunjuk Dara yang lagi pegang hanger baju bayi, bikin Agnes bergidik ngeri dan gak jadi nerusin niat dan aksinya mengulang kenangan bersama sang mantan.
"Maaf ya Mbak, aku kirain Bagas belum nikah." ujar Agnes tau diri meskipun ia sendiri keki karena bertemu Bagas dalam kondisi sudah menjadi suami orang.
"Iya gak papa, jadiin pelajaran aja Mbak, gak boleh asal peluk ya. Kan bukan muhrimnya." Dara jadi ceramah, bikin Agnes tambah gak enak.
Bagas hanya tersenyum mendengar istrinya itu. Untung kejadian kayak dia sama Angel gak terulang. Masalahnya kalo kejadian, nanti Dara gimana bisa ngelawan. Jalan aja dia udah ngos-ngosan karena beban berat di perutnya dengan dua dede gondrong yang juga kayaknya bakal suka berantem.
Agnes jadi terpaksa undur diri. Untung mantan Bagas yang ini tahu diri, gak kayak Angel yang ngotot mau Bagas jadiin istri.
Bagas segera menghampiri Dara yang masih manyun. Duh, urusannya bakalan panjang kalau Nyai masih mingkem gak mau ngomong begitu. Bagas segera merangkul Dara yang masih kesal.
"Jangan ngambek ya. Kan aku gak tahu tadi Agnes yang nyamperin. Bukan aku yang manggil." Bagas segera membuat pernyataan yang harus menyelamatkan dia dari istrinya agar tak salah paham.
"Aku kesel deh, punya suami kayak kamu banyak banget saingannya." keluh Dara sambil memasukkan baju-baju bayi ke dalam kantung belanja yang sedang dipegang oleh pelayan.
"Ya tapi kan Mas gondrong ini tetap milik kamu, Sayang." ujar Bagas so sweet bikin mbak pelayan yang kebetulan jomblo jadi mupeng.
"Bener ya, gak nakal kalo di luar dan lagi gak ada aku." sahut Dara akhirnya. Bagas mengangguk cepat sambil mengecup pipi istrinya.
Duh, mbak pelayan cuma bisa ngehalu. Dia jadi pengen punya suami gondrong kayak Bagas juga. Bersamaan dengan itu, mas cleaning servis yang rambutnya gondrong juga, lewat sambil tersenyum tebar pesona. Gak sadar celananya yang ketat sobek di bagian belakang bikin kolor warna merah jambunya menyembul kemana-mana.
__ADS_1
Gak jadilah mbak pramuniaga naksir sama cowok gondrong. Yang stoknya kayak Bagas kayaknya udah langka.