CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Go Home!


__ADS_3

Jadi buaya gondrong beserta istri juga anak-anak akhirnya bisa pulang hari ini. Setelah dokter mengatakan bahwa kedua jagoan udah gak sakit lagi mereka pun dinyatakan bisa pulang hari ini juga. Kalau melihat dari nafsu makannya anak-anak yang udah balik dan lahap banget, jadi Bagas setuju untuk pulang.


"Makasih ya kalian udah mau main ke Malang. Bikin Bapak sama Ibuk kangennya terobati." kata ibuk lalu mencium kedua jagoan kiri dan kanan.


"Nenek sama Kakek ayo ikut pulang aja." Abang Aarash udah gandeng tangan kakek sama neneknya. Dede Aariz cuma bisa pandang abang ondrong dengan bingung.


"Ondrong, kalo nenek sama kakek ikut, siapa yang jaga ikan di empang?" tanya Dede Aariz bingung. Kayaknya dia udah didoktrin sama bapak tentang alasan mereka gak bisa ikut pulang ke Jakarta Lah wong rumah kakek dan nenek memang di Malang kok. Mereka sampai tua pengennya di situ aja. Banyak kenangan indah di rumah sederhana itu. Biarpun Dara dan Bagas seringkali menawari keduanya untuk pindah ke Jakarta.


"Nanti, Kakek sama Nenek bakal main ke Jakarta, gantian begitu ya." ujar Bapak menenangkan ondrong yang udah sedih banget karena kakek dan neneknya gak bisa ikut.


Akhirnya dua jagoan itu mengerti. Bapak dan ibuk nganterin mereka ke bandara juga. Sesaat sebelum keberangkatan mereka, Dara memeluk erat ibuk dan bapaknya.


"Dara pasti bakal kangen lagi sama bapak sama ibuk."


"Bapak sama ibuk juga. Ndak papa, nanti Bapak sama Ibuk main ke Jakarta ya."


Dara mengangguk cepat.


Dara udah jalan duluan di depan sama anak-anaknya. Giliran Bagas pamitan sama ibuk dan bapak.


"Jangan bosan main ke Malang ya Nak Bagas."


"Iya Buk, nanti pasti Bagas main lagi bareng anak-anak dan maminya. Bapak sama ibuk sehat-sehat ya."


"Oh iya, semalem Dara itu curhat kepengen banget makan kue lupis. Tapi ibuk cari gak ada yang jual. Nanti, tolong Nak Bagas carikan ya dia kue lupis. Kasihan, kepengen banget kayaknya."


Bagas mengernyitkan dahi. Tumben istrinya kepengen makan yang manis-manis. Dara juga tidak mengatakan apapun juga pada Bagas tentang keinginannya itu. Gak kayak biasanya.


"Makasih ya Buk, udah ngasih tahu. Nanti Bagas carikan."


Ibuk dan bapak mengangguk.


"Kami pamit ya Buk, Pak." ujar Bagas setelah itu ia mencium takzim punggung tangan ibuk dan bapak bergantian.


Mereka melambai dan masuk ke dalam pesawat. Bapak dan ibuk melepas mereka dengan senyum. Rindu mereka terobati, mereka juga sangat bersyukur bisa memiliki menantu sebaik Bagas.

__ADS_1


Putri mereka mendapatkan lelaki baik dalam pandangan mereka. Ya, sekarang Bagas memang suami idaman banget ya bu ibu. Papinya anak-anak memang idola di kalangan wanita dari berbagai usia juga berbagai rupa.


"Aku lemas banget Mas." desis Dara sambil bersandar di bahu Bagas.


"Kamu sarapan kan tadi?" tanya Bagas sambil mengelus pipi istrinya.


"Udah ... tapi gak habis. Aku gak selera makan."


"Kamu pengen makan apa? nanti sampe di Jakarta aku beliin."


Dara cuma menggeleng lemah. Kedua anak mereka sedang bermain di kursi depan.


"Kamu istirahat ya. Pucat loh kamu." kata Bagas.


Memang berapa hari belakangan ini, ia melihat Dara memang lebih pucat dari biasanya. Tubuhnya juga lemas, jadi sering tiduran gak seaktif biasanya. Bagas aktif ya bund, kalo itu gak usah diragukan.


Dara hanya mengangguk lemah. Hari ini Dara tampak cantik dengan dress selutut motif kupu-kupu berwarna biru. Rambutnya dibiarkan tergerai indah. Dara tampak feminim sekali.


Setelah menempuh satu jam lebih perjalanan dari Malang ke Jakarta, mereka semua sampai. Bagas segera pergi ke mobilnya yang menginap di Bandara selama ia pulang kemarin.


Kiddos udah asyik banget di depan mereka, gak sabar pengen cepat pulang dan ketemu Keke sama Tuti.


"Udah enakan kok Sayang." sahut Dara pelan.


Bagas mengemudikan mobil dengan pelan dan hati-hati sebab Dara nampaknya masih pusing aja. Bagas menyetir dengan mata juga fokus menatap sekitar jalan.


Matanya membulat saat ia menemukan apa yang ia cari. Bagas segera berhenti diikuti tatapan heran dari Dara juga anak-anaknya.


"Nih. Makan ya." Bagas menyerahkan sebungkus kue lupis yang berada di dalam cup lengkap dengan gula merahnya.


Mata Dara seketika membulat sempurna. Ia menatap kue itu berbinar-binar. Lalu tanpa basa basi langsung cium pipi Bags kiri kanan depan belakang atas bawah kena tampol pake bibir semua pokoknya.


Hilang sudah Dara yang lemas berganti dia yang semangat makan kue lupis pake gula merah. Bagas lewat depan mas jual cimol Dara gak peduli, dia lagi asyik nyeruput gula merahnya kue lupis.


"Enak?" tanya Bagas sambil tertawa melihat Dara yang begitu lahap makan kue lupis. Kue lupis doang pemirsah, Mami udah segitu bahagianya.

__ADS_1


"Enak Pi ya ampun." sahut Dara sumringah. Bagas lihat Dara bahagia begitu jadi ikut bahagia juga. Alamat Jeki bakal dimanja. Jeki lagi Jeki lagi.


Sampai di rumah mereka udah disambut para pekerja di sana. Keke dan Tuti udah kangen berat sama dua majikan kecil yang lagi asyik main tembak-tembakan.


Belum juga lama mereka sampe Tuti dan Keke udah sibuk perang sama duo jagoan pake pistol air. Rumah udah heboh banget karena Kimung dan Jordi juga udah pada paduan suara menyambut kedatangan ratu dan raja.


"Mas, makasih ya, padahal aku sengaja gak mau nyusahin kamu buat nyari lupis." Dara memeluk Bagas setibanya mereka di ruang tengah. Bagas membalas pelukan itu dengan hangat juga penuh cinta.


"Apa sih yang enggak buat kamu." Biar kata kedengaran gombal, tapi percaya deh kalo bu ibu yang digituin pak suami pasti mesem-mesem juga ya kan?


Dara melepas pelukannya terus berjalan ke arah kolam renang dimana Tuti, Keke sama dua jagoannya lagi perang tembak-tembakan pake pistol air.


"Ti, itu klepon siapa?" tanya Dara ketika ia melihat benda bulat bertabur kelapa parut itu tak jauh dari meja santai dekat kolam renang.


"Punya Tuti, Nyah. Makan aja Nya."


Dara langsung mendekat dan memakan benda bulat itu. Dara tersenyum senang, rasanya enak tapi tumben kok mami suka makan manis-manis akhir-akhir ini ya?


"Nya, gak lagi kesambet setan pohon tebu kan?" tanya Tuti mendekat.


"Enggak lah, ada-ada aja kamu tuh." sahut Dara dengan mulut penuh.


"Gak biasanya aja Nyonya suka makan manis. Biasanya Tuti tawarin ini gak mau." kata Tuti sambil berkerut kening. Dara jadi menghentikan aktivitas mengunyahnya sesaat. Ia tampak berpikir dan seketika membenarkan apa yang dikatakan Tuti barusan. Makanannya selama ini tidak jauh dari makanan asin.


Dara memandang Tuti yang udah tersenyum.


"Test aja Nyah, Tuti yakin udah ada sesuatu di perut Nyonya."


Dara jadi tertegun, beneran gak yah? dia takut benda itu nanti PHP lagi. Dara keluar dari rumah dengan buru-buru, bikin Bagas kaget setengah mati lihat Dara nyetir motor matic kayak orang kesetanan.


"Ti, kenapa Nyonya?" tanya Bagas cemas.


"Gak papa Tuan. Nanti Tuan tahulah jawabannya."


Sok misterius sekali Tuti ini. Gak tahu dia Bagas trauma tiap kali Dara pergi begitu. Ngingetin dia sama kejadian kemarin saat Dara tinggal pergi dirinya sendiri. Gak lah yayang, mami cuma lagi mastiin kok, dia lagi ngidam apa doyan aja makan yang manis-manis sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2