
Masih dengan keki dede Apem membuka celemek, dia kesal nasi gorengnya ternyata gak sesuai tampilan. Over garam bikin darahnya sendiri jadi naik.
Abang botak sekarang lagi di dapur, dia minta dede Apem duduk yang manis di dekat meja makan. Biar dia yang masak, karena masakan dia dibikin pake cinta level pujangga, yang artinya setelah suapan pertama dede Apem pasti akan semakin cinta.
"Udah Sayang, gak papa. Aku bisa bikin sarapan buat kita."
Dede Apem yang tadinya udah ngambek sama wajan, sekarang malah jadi menatap abang botak dengan bibir mulai tertarik senyum. Dia malu, tapi mau gimana lagi dia beneran gak bisa masak. Tapi dia udah bertekad akan belajar memasak sama yayang Tuti.
"Abang, maaf ya dede gak bisa masak." dede tertunduk lesu.
Abang botak buru-buru mendekati istrinya itu lalu memeluk dede Apem sambil menepuk-nepuk punggung dede Apem lembut.
"Gak papa, nanti belajar ya."
"Iya, dede janji deh bakal belajar masak biar abang botak gak makan di luar terus."
"Ya udah, jangan dipikirin ya. Duduk di sini, biar Abang yang masak."
Dede Apem mengangguk lalu membiarkan abang botak berkutat dengan peralatan tempur. Dede memperhatikan sambil bertopang dagu. Abang botak kok mempesona sekali pagi ini.
Dengan tubuh atasnya yang atletis, dengan santai dia mengolah masakannya. Tampak seperti sudah terbiasa, kerjanya juga bersih dan rapi.
Bau aroma nasi goreng sudah menggugah selera. Perut dede Apem jadi laper. Sesekali abang botak menoleh lalu memberi senyum maut untuk dede Apem. Bikin dede Apem jadi teriak dalam hati "Abang, matiin kompor, ayo olahraga ranjang!"
Tapi dede Apem segera menepis fantasi liarnya. Dia harus menghargai abang botak yang sudah bersedia memasak untuknya pagi ini.
"Taraaaaaaa, udah jadi."
Sepiring nasi goreng abang berikan buat dede. Dede menyendok nasi goreng lalu mulai memasukkan ke dalam mulutnya.
"Aaaaaah ini enak." dede Apem bertepuk tangan. Pada suapan pertama dia udah bucin dan di suap-suapan setelah itu dia jadi pengen nambah.
"Enak ya? makan yang banyak ya."
__ADS_1
Abang botak membelai kepala istrinya mesra. Terus dede Apem suapin abang botak. Mereka makan sepiring berdua. Romantis banget biarpun cuma makan nasi goreng doang.
"Makasih abang Sayang."
Cipika cipiki terus abis makan mereka ke kamar mandi. Harusnya tadi mandi dulu, tapi gak papa mereka mandi belakangan. Keduanya lagi sibuk sama air shower dan air lain yang bakal keluar. Makan nasi goreng ala pujangga udah, sekarang makanan penutupnya di selesaikan di dalam kamar mandi aja.
Lain abang botak lain abang Neon. Pagi ini dia udah dibuat sibuk sama Cheryl yang muntah-muntah di wastafel. Muka istrinya udah pucat kebanyakan ngeluarin isi perut.
"Kamu masuk angin kali ya Yang?"
"Enggak tahu Yang, tiba-tiba aja pusing terus mual." Cheryl duduk di atas closet yang tertutup.
"Ini masih mau muntah lagi?
"Enggak, ini udah enakan."
Bang Neon masuk lagi ke kamar dengan merangkul Cheryl. Dia sendiri cuma pakai handuk karena habis mandi, sedang Cheryl cuma memakai bra sama ****** ***** berwarna cokelat muda. Jeruk bali nya menyeruak di antara bra, bikin abang Neon udah On lagi. Tapi demi mengingat istrinya yang lagi lemas, dia jadi mengurungkan niat untuk menikmati sari murni jeruk bali pagi ini. Daripada dia kena tampol sama Cheryl yang lagi kecapean abis muntah.
Cheryl mengangguk, terus dia telentang lagi di atas ranjang. Pemandangan indah bikin abang Neon gak mau rugi. Dia deketin lah istrinya lagi.
"Coba aku pijat ya, biar enak."
Udah persis tukang pijat beneran abang Neon mijitin istrinya lembut. Makin lama pijatannya malah jadi semakin naik.
"Cobain dong." tawar Cheryl sambil mengeluarkan satu jeruk bali dari bungkus berenda cokelat. Wah lampu ijo nih.
Gak pake basa basi abang Neon langsung mendaratkan bibirnya di sana. Istrinya sudah mengerang keras sambil membenamkan kepala abang Neon yang lagi lupa dunia. Perkasa kali pak Pici ini bikin bidadari jadi lupa diri. Udah lupalah sama muntah-muntah barusan, karena sekarang giliran abang Neon yang pengen muntah lewat Jery yang udah keluar masuk maju mundur ganteng.
Di ruangannya di perusahaan, abang Ondrong sama Tiwi juga lagi berkelon-kelon. Mereka gak ada meeting, kegiatannya hanya memeriksa berkas dan Tiwi yang harus membuat beberapa laporan.
"Aku kerjain ini dulu Yang." Tiwi berusaha fokus dengan komputernya sementara bang Ondrong lagi asyik memainkan sesuatu di balik kemeja istrinya yang sudah terbuka setengah.
"Nanti aja bikin laporannya, aku udah libur satu minggu loh." kata bang Ondrong yang semakin aktif.
__ADS_1
Seminggu belakangan Tiwi memang kedatangan bulanan jadi bang Ondrong gak bisa ambil jatah. Nah sekalinya dia tahu istrinya udah gak haid lagi, dia semangat banget pagi ini.
"Sabar kenapa sih?!" dengus Tiwi tapi dia juga udah mulai terpancing gairah.
Abang Ondrong gak peduli, dia angkat tiba-tiba istrinya yang segera memekik terus bawa ke kamar mandi.
Udah gak tahan, bang Ondrong mulai asyik memulai penjelajahan pagi ini. Tiwi udah mendesah, meremas rambut suaminya, menaikkan satu kakinya ka atas closet.
"Pelan-pelan Sayang." desis Tiwi dengan nafas terputus-putus.
Udah asyik mereka di dalam kamar mandi. Kemeja Tiwi udah berantakan, roknya udah naik ke perut. Selesai ronde pertama, niat hati sama Jojo pengen nambah, tapi suara mami yang memanggil dari luar bikin mereka jadi gelagapan dan segera memakai kembali pakaian dengan rapi. Udah mirip sepasang muda mudi digrebek pak pol PP.
"Kamu keluar duluan Yang." ujar Tiwi.
Bang Ondrong keluar dari kamar mandi dengan wajah dibuat sesantai mungkin. Lagian kenapa pada deg-degan sih, kan udah sah juga.
"Sayang, ini nanti mami mau pulang bareng papi, kamu jangan kemana-mana ya."
"Iya Mi. Kok pulang sih Mi?"
"Iya, mau ke perusahaan temannya papi."
"Oh, ya udah hati-hati ya Mi."
"Oke Sayang."
Mami udah keluar, bang Ondrong segera mengunci pintu. Baru aja Tiwi mauk keluar kamar mandi, Aarash menahan langkahnya dan kembali mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Balik badan." perintahnya pada Tiwi yang sudah rapi lagi.
"Dasar kuda!" dengus Tiwi tapi tetap aja nurut apa kata kuda jantan yang lagi garang.
Bulan demi bulan berlalu para anak papi sangat menikmati kehidupan rumah tangga mereka masing-masing. Jodoh mereka sendiri gak disangka-sangka. Dede Apem dengan abang botak yang sudah jadi jodoh dari orok, abang Neon dengan Cheryl yang gak lain putri kesayangan sahabat karib papinya dan abang Aarash sama Tiwi sang Jawara kampung emak yang awalnya sering bikin dia keki dan yang awalnya hanyalah sekretaris di perusahaannya. Cinta memang sekonyong-konyong koder, datang dan muncul tiba-tiba begitu saja. Kalau cinta sudah melekat, tai kucing tetap tai kucing. Gak bakal berubah jadi cokelat. Tolong diingat terus itu teori sesat.
__ADS_1