CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Mantu Idaman


__ADS_3

Jadi ceritanya hari itu juga Mas Patricia langsung menghubungi cabang showroom mereka yang ada di Malang buat nganterin mobil pesanan buaya gondrong. Ibu sama Bapak jelas kaget banget dong waktu orang showroom berpakaian rapi datang ke rumah.


Bapak yang bukain pintu langsung bengek, karena udah ketar ketir ngerasa gak pernah kredit kendaraan apalagi yang mahal kayak yang sekarang udah nangkring gagah di halaman rumahnya.


Mobil beserta orang showroom masuk lewat jalan lain karena kalau jalur satunya gak bisa dilewati mobil. Tapi dari jalur satunya lagi kebetulan bisa. Nah, penghuni gang huru hara langsung pada heboh lihat mobil berhenti di depan rumah bapak dan ibuknya Dara.


Mereka kira kedua pasangan suami istri yang gak pernah berantem itu, Eh pernah sih berantem tapi palingan seputaran bapak salah beli bumbu dapur, kayak waktu bapak disuruh beli lada dia beli ketumbar, begitu doang berantemnya gak pernah hal lain apalagi soal pelakor, jauh banget, Nah balik lagi ke tetangga yang pada kepo, mereka kira bapak sama ibuk menang undian.


Jadi deh mereka mulai sok-sokan sibuk di depan rumah. Ada yang sok nyapu halaman padahal gak ada sampah sama sekali di depan rumahnya. Yang sok-sokan jemur baju padahal bentar lagi mau hujan. Kupingnya pada standby ngedengerin apa yang lagi diomongin sama orang showroom dan bapak sama ibuk.


"Maaf Mas, perasaan saya gak ngambil kredit mobil itu. Mungkin Masnya salah alamat begitu?" Bapak berkata sambil memandang mobil yang berkilauan diterpa sinar senja. Sementara ibuk juga sama bingungnya.


"Oh enggak, Pak. Ini benar kan rumah kedua orangtuanya Mbak Dara?" tanya Mas Showroom yang ganteng banget mirip Ariel Noah.


"Lha, itu anak saya. Benar Miya Andara bukan, Mas?" tanya Bapak meminta kepastian dari Mas Showroom terkait nama pengirim mobil itu.


Mas Showroom mengangguk-angguk.


"Benar Pak. Ini mobil anak Bapak dan Ibu yang membelikan. Hari ini siang tadi, belinya cash Pak gak kredit." sahut Mas Showroom.


Bapak dan Ibuk jadi berpandangan sesaat. Mereka sama-sama bingung tapi kemudian sama-sama tersentak.


"Oalah ini jadi betulan Mas?"


"Betul Ibu dan Bapak. Sekarang kami boleh minta tanda tangan sebagai bukti bahwa mobilnya sudah sampai di sini ya Pak, Bu."


Bapak menandatangani dengan ragu. Tapi kemudian akhirnya dibubuhkan juga tanda tangan bapak yang gak jelas banget bentuknya yang penting ada lingkaran segi panjang sama garis tengah begitu aja udah artistik banget kelihatannya menurut bapak.

__ADS_1


"Nah ini kunci mobil beserta surat menyuratnya ya, Pak. Semoga suka dengan mobil dari toko kami, Pak. Semoga nanti beli lagi." ujar Mas Showroom sebelum meninggalkan rumah Bapak. Bapak sendiri udah shock mendengar kata beli lagi dari mas showroom barusan.


"Ya kali pak beli mobil kayak beli kacang goreng. Abis beli lagi gitu." Ibuk terkikik geli menirukan kata-kata mas showroom tadi.


"Tapi, kenapa toh, Buk. Dara pakek acara beli mobil segala. Bapak ndak enak sama Nak Bagas gitu loh. Ya ampun ... " Bapak jadi gak enak hati sendiri sementara ibuk hanya mengangguk tanda menyetujui. Meski dengan adanya mobil ini, kegiatan bapak dan ibuk yang suka banget berkunjung ke rumah saudara jadi lebih mudah, mereka tetap saja tidak enak pada menantu.


"Coba ditelepon aja, Pak. Kita mau bilang makasih sama Dara sama Nak Bagas juga." usul ibuk yang langsung disetujui bapak.


Sementara di rumah saat Dara baru saja selesai menghabiskan satu mangkuk sup sayur, ada satu panggilan telepon dari bapak. Dara buru-buru mengangkat panggilan itu. Dari arah balkon Bagas lagi sibuk ngelatih Jordi ngomong karena udah berapa hari ini Jordi sakit dan gak mau ngomong.


"Waalaikumsalam, Bapak. Dara kangen loh." pekik Dara heboh saat mengangkat telepon.


"Ini Nak, makasih banyak loh kamu udah kirimin mobil ke sini buat Bapak sama Ibuk. Tapi, uang tabunganmu habis jadinya nak?" ujar Bapak pelan di ujung telepon.


"Oohh itu Pak, gak masalah pak, Dara memang pengen beliin Bapak sama Ibuk mobil. Tapi Bapak sama ibuk sabar dulu gitu ya, Dara lagi kumpulin uangnya." sahut Dara gak nyambung. Dia ngiranya bapak sama ibuk tahu rencana dia untuk membeli mobil untuk mereka kelak.


"Loh gimana kamu ini, ini loh mobilnya udah datang. Bagus banget Nak, harganya pasti mahal ya. Gak ada yang pake mobil ini di sini. Bapak sama Ibuk jadi gak enak sama suami kamu. Pasti kamu minta dibelikan sama Nak Bagas ya?"


"Bapak, itu pasti dari Mas Bagas. Dara memang pengen belikan Bapak sama Ibuk mobil, tapi uangnya belum cukup itu juga yang paling murah yang ada di showroom itu yang mau Dara beli. Tapi sepertinya Mas Bagas yang udah belikan buat Bapak sama Ibuk." sahut Dara lirih namun ia tersenyum sambil terus melirik suaminya yang lagi serius banget ngajak Jordi ngomong.


"Oalah menantu kita itu, Pak. Dara, kasih tahu Nak Bagas makasih banyak. Bapak sama Ibuk gak enak tapi sekarang udah enakkan. Semoga rejekinya semakin lancar."


Dara tersenyum mendengar Ibuk yang sekarang bicara di telepon. Setelah puas berbincang di telepon Dara segera membersihkan piring dan meja makan. Lalu mencuci mulut dan menggosok giginya.


Dara mendekati Bagas, memeluk suaminya itu dari belakang. Bagas yang mendapat sentuhan kenyal dari belakang langsung merem melek, jarang-jarang bisa di kasih enak begini sama Dara semenjak dia hamil.


"Mas Bagas ... " panggil Dara uwwuuu

__ADS_1


"Iya ... kenapa sih kamu? tiba-tiba nempel kayak lem begini." sahut Bagas sambil mengusap lengan Dara yang melingkar di sepanjang perut dan pinggangnya.


"Makasih ... kamu bandel banget."


"Bandel kenapa, Yang?" Bagas berkerut kening..


"Kamu beliin Bapak sama Ibuk mobil diam-diam."


"Oh itu, kamu juga diam-diam gak kasih tahu mau beliin Bapak sama Ibuk mobil."


"Ya kan tapi ... "


Bagas membalikkan tubuh. Gantian ia memeluk istrinya.


"Sayang, kenapa harus ngumpet-ngumpet. Kamu kan punya aku, Bapak sama Ibuk kan mertua aku. Ya aku juga harus bisa nyenengin mereka juga." ujar Bagas sambil membelai rambut panjang Dara.


Dara jadi terharu, airmatanya nampak menetes, membasahi kaus putih yang sedang Bagas kenakan.


"Dih... kok nangis sih? gak suka ya aku beliin Bapak sama Ibuk mobil?" tanya Bagas sambil mengusap airmata Dara.


"Aku gak mau ngerepotin kamu, Mas. Makanya aku nabung buat bisa beliin Bapak mobil." Dara menunduk.


"Orangtua kamu, berarti orangtua aku juga. Sama kayak mama papa aku, mereka orangtua kamu juga. Gimana Bapak dan Ibuk suka kan?"


Dara mengangguk lalu mengecup bibir suaminya.


"Makasih ya Mas Bagas."

__ADS_1


Bagas mengangguk.


"Kurang lama ciumnya. Sini aku yang cium." Gantian Bagas yang menyatukan bibir mereka. Uh, Jordi udah batuk-batuk. Bagas memang tidak berperasaan, dia lagi sakit disajikan pula pemandangan romantis begitu. Majikan gak ada akhlak.


__ADS_2