
"Kapan aku dikenalin sama mami papi kamu?" tanya gadis cantik berambut pirang yang lagi duduk di atas pangkuan Aarash. Sembari duduk dia memainkan rambut gondrong abang Aarash yang udah berantakan.
"Loh, lo kan udah lihat di foto waktu itu. Ngapain kenalan lagi?" Abang Aarash malah balik tanya.
"Ya bedalah Rash! aku pengen kenal lebih dekat lagi loh. Kalo lewat foto bukan kenalan namanya." sergah gadis itu lalu turun dari pangkuan abang Ondrong.
"Gak. Gue gak pernah bilang sama mami sama papi kalo udah punya pacar." Abang Ondrong memakai kembali arloji mahalnya.
Gadis itu berdecak kesal lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Meski sudah berulang kali mereka bertemu, Aarash sama sekali tidak pernah mau menyentuhnya lebih dari sekedar ciuman dan sedikit bermain di area lain kecuali bagian bawah.
Cessie, gadis berparas cantik itu seorang model yang kerap keluar negeri untuk pemotretan. Hubungannya dengan Aarash baru berjalan beberapa bulan, namun Aarash tidak pernah menyentuh area kewa*itaannya sama sekali.
"Terus kamu anggap aku apa?"
"Cewek gue sih."
"Kok pake sih?"
"Yaaaaaaaaaa, apa ya? gue belum bisa janjiin lo apapun. Kita kenal baru beberapa bulan. Jadi gue belum berani ngomong sama papi atau mami kalo gue udah punya cewek."
"Aku gak mau digantung kelamaan!"
"Gue belum mau kawin. Jalanin aja dulu."
Abang Aarash merapikan bajunya yang sedikit berantakan, Ia juga mengikat rambutnya menjadi rapi. Dering ponselnya berbunyi, kontak papi tertera di layar.
"Iya Pi, bentar lagi Ondrong balik."
Mendengar cara Aarash ngomong sama ayahnya, Cessie jadi mengangkat satu alis. Nampaknya, Aarash ini anak mami papi meski di luar dia bisa jadi sosok yang berbeda dan lebih berani.
"Gue balik ya."
"Malem ke sini gak?" tanya Cessie cepat.
"Lihat entar deh."
Aarash kembali melajukan diri, meninggalkan Cessie di apartemennya sendiri. Sembari memakai kembali branya yang sempat melorot, ia menelepon seseorang. Senyum menghiasi wajah cantiknya saat panggilannya tersambung. Ia segera meraih tas tangannya lalu pergi keluar.
Aarash sendiri belum pergi dari sekitaran apartement, ia masih menunggu tak jauh dari apartement dekat ujung jalan. Tidak lama kemudian terlihat sebuah mobil sport menjemput Cessie. Seorang lelaki keluar dari sana lalu mencium pipi Cessie dengan mesra.
Aarash tertawa sinis dari balik setir kemudi. Dia cuma menggeleng dengan tawa kecil masih menghiasi bibirnya.
"Yang model begituan mau dikenalin sama mami papi?"
Aarash melaju santai lalu mengirim pesan kepada Cessie beserta foto yang sempat ambil tadi.
Kita putus. Pesan itu terkirim.
Aarash kembali melaju dengan kecepatan sedang. Dia melihat beberapa pesan para perempuan yang menggilainya sejak kuliah kemarin.
"Neon kayak gue gak ya?" tanya Aarash pada dirinya sendiri.
Ia sampai di perusahaan dan masuk ke dalam lift. Di sana ia bersebelahan dengan seorang perempuan dengan rambut dicepol. Aarash memperhatikannya, membuat gadis itu menoleh.
"Ngapain lihat-lihat?" tegur gadis itu galak.
"Siapa yang lihat elo?"
"Itu kamu matanya jelalatan!"
__ADS_1
"Ge er lo. Ngapain lo ke sini? perasaan lo bukan karyawan di sini." sahut Aarash dingin.
"Aku mau interview. Kamu sendiri ngapain disini? Mau interview juga?"
Aarash diam, bikin gadis bercepol itu kesal karena dikacangin.
"Aku sumpahin kamu gak lolos interview, huh gondrong menyebalkan!" dengusnya kesal.
Keluar dari lift dengan terburu-buru gadis bercepol itu sedikit berlari menuju ruangan yang akan ia datangi. Dia gak sadar berkas lamarannya ada yang jatuh. Sebuah kartu identitas. Aarash tertawa pelan. Pratiwi. Ia tersenyum lalu mengantongi benda itu.
"Bang, langsung ke ruang meeting ya." Suara mami mengagetkannya. Ia segera merangkul maminya lalu bersama masuk ke dalam ruang meeting dimana papi udah menunggu.
Sedang Neon di kantor kepolisian sedang sibuk juga dengan beberapa laporan yang masuk hari ini.
"Riz, lo bisa tolongin gue gak?"
"Apa sih kerjaan gue banyak nih."
"Tolong deh, lo ahlinya nih ngatasin cewek cerewet kayak gini.
"Masalah apa emangnya?"
"Itu cewek, dia salah jalur tadi kena tilang eh malah marah-marah sama gue. Mobilnya masih di luar dia masih mencak-mencak, mana gue kena cakar lagi tadi."
"Wah itu kucing garong." Neon ketawa ngakak.
"Sialan lo, sana urusin tuh bagian elo kan bisa jinakin kucing garong begitu."
Neon keluar dari ruangannya, cuaca panas dia lihat ada yang seger di depan. Seorang cewek memaki rok mini yang lagi sibuk menendang mobilnya sendiri. Salah! bukan itu yang seger, tapi es cendol dawat yang lagi mangkal di depan.
"Pak es cendol satu." seru Neon. Terus dia mengalihkan pandangannya pada sosok segar berikutnya, tapi waktu dia lihat itu tampang perempuan yang nampak garang, segernya jadi ilang.
"Lah, namanya salah tetap salah dong."
"Terus maunya apa?" tanya gadis itu kesal.
"Nih Mas Neon cendol dawetnya." Bapak yang jualan memberi dua bungkus cendol dawat, Neon segera membayar itu dengan uang besar yang kembaliannya gak pernah mau dia ambil.
"Nih, mbaknya minum dulu biar sweger."
Kebetulan cuaca lagi panas, itu perempuan juga udah capek mencak-mencak. Ia menerima cendol dawat dari tangan Neon. Keduanya malah jadi sibuk menyeruput es cendol yang bikin seger.
"Makasih ya. Aduh aku beneran lagi haus." Kucing garong udah jadi kucing kalem. Lihatlah kekuatan es cendol bekerja!
" Jadi setuju ya mobilnya ditilang dulu. Nanti ambil setelah sidang." Neon segera mengeluarkan kertas tilang yang seketika membuat gadis itu jadi melotot lagi.
"Boleh aja kamu tilang mobil aku, tapi pulangnya anterin!" kesal Gadis itu.
"Yeee taksi banyak kok, kenapa mesti saya yang nganter?"
"Gak mau pokoknya anterin!"
"Saya pulang masih lama loh Mbak!"
"Aku tungguin!"
"Wah udah gila ni perempuan."
Sambil berdecak kesal, Neon masuk ke dalam ruangannya lagi. Dia yakin itu perempuan pasti balik juga nantinya karena gak tahan menunggu.
__ADS_1
"Wah tu cewek masih ada di luar." Teman-teman Neon pada ketawa.
Neon keluar lagi dari ruangan terus menghampiri gadis itu. Dia salah kira, itu cewek beneran mental baja.
"Cepetan saya anterin."
"Nah gitu dong, udah nilang itu mesti tanggungjawab Bang."
"Kok saya yang mesti tanggungjawab?"
"Pokoknya tanggungjawab!"
Atasan Neon lewat terus dia geleng-geleng.
"Riz, tanggungjawab lo."
"Lihat tuh atasan saya jadi salah paham!"
Si gadis cuma mesem-mesem doang gak peduli. Dia ikutan masuk ke dalam mobil. Sampai di depan rumah yang enggak asing bagi Neon dia jadi menatap kucing garong dengan pandangan bertanya.
"Ini bukannya rumah Oom Kevin ya?" tanya Neon ragu.
"Iya, aku anaknya kok." sahut gadis itu.
Neon membulatkan matanya, menatap gadis yang semasa kecil pernah bermain bersamanya jika ada acara kumpul keluarga.
"Cheryl?" tanya Neon hati-hati.
"Loh kok tahu?"
"Gue Neon! masa lo lupa?"
Cheryl tampak mengingat lalu membulatkan matanya lagi.
"Ya ampun, Neon anak Oom Bagas ya? Aku gak tahu beneran gak tahu. Ya ampun kamu udah berubah gak kayak dulu lagi."
Cheryl refleks memeluk Neon yang cuma bisa mematung tapi terus dia membalas pelukan itu. Enak sih.
"Eh, maaf-maaf ya." Cheryl langsung melepaskan diri dengan wajah sudah bersemu merah. "Hmmmmm aku turun ya, salam buat Papi sama Mami kamu." ujar Cheryl malu-malu.
Neon jadi lupa tadi Cheryl malu-maluin sekarang malah malu-malu meong.
"Gue juga ya, salam buat Bunda sama Ayah lo."
Cheryl mengangguk lalu menoleh lagi.
"Ehmmmmm, dah Neon. Aku gak papa kok ditilang." Terus dia keluar dari mobil sambil terus noleh gak sadar di depannya ada pagar dan jadi deh, dia kejedot pagar rumah.
"Nyantai dong Cheryl." Neon ketawa
"Iya nih, lagian siapa yang masang pagar di sini?" sahut Cheryl oon sambil mengusap jidatnya. Lah itu pagar kan emang dari jaman elo belum lahir udah di situ. Kesemsemnya bikin Cheryl jadi oon dan linglung sesaat.
Di perjalanan Neon masih memikirkan Cheryl, dia sampai tersenyum sendiri terus menurunkan kaca mobil ngerasa ganteng.
Pas senyum dia malah lihat ada cabe nangkring di gigi putihnya. Baru inget dia abis makan mie instan pake cabe-cabean.
"Ya ampun, dede Cheryl liat gak ya ini cabe-cabean tadi? mana gue senyum mulu." Neon memukul setir dengan kesal. Ini nih yang namanya gagal ganteng.
Tenang abang Neon, Cheryl-nya gak liat kok tadi, dia lagi mesem-mesem sendiri keinget elo, sampe gak lihat juga pembantunya lagi ngepel lantai main lewat aja, kepeleset dah tuh jadinya.
__ADS_1
"Ya ampun Non Cheryl, masih suka main seluncur air kayak dulu ternyata." Bibi cuma bisa geleng-geleng, sedang kucing kalem udah berubah lagi jadi kucing garong karena kebanyak sialnya hari ini.