CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Positif Junior Gondrong


__ADS_3

Malam harinya tepat pukul tujuh lewat semenit, Bagas dan Dara tiba di rumah sakit. Bagas udah semangat banget menuju ruangannya dokter kandungan sambil sesekali balas sapaan para suster cantik yang menyapanya. Nyapa Bagas doang seakan perempuan berkacamata yang sedang menggamit lengannya tidak dianggap. Bikin Dara jadi pengen tempelin stiker yang ada tulisan "Sudah Punya Istri" di jidatnya Bagas.


"Genit banget ya kamu." ujar Dara ketus. Bagas sudah pasang tampang siaga, takut Dara mau ngajak perang dunia ke dua belas malam ini.


"Ya elah, Yang. Aku cuma balas mereka nyapa doang. Kan gak enak kalo gak di balas."


"Ya tapi gak usah kegenitan gitu dong." protes Dara lagi.


"Genit darimana sih, ya ampun kamu tuh." Bagas melingkarkan lengannya di pinggang ramping Dara yang terasa lebih memadat. Perasaan, minggu kemarin belum sepadat ini. Bagas curiga ini karena Dara udah kebanyakan makan cilok kang gondrong.


"Kamu kok lebih berisi ya, Yang." tukas Bagas lagi sambil menekan-nekan pinggang istrinya.


"Kamu mau bilang aku gendut?!" tanya Dara dengan mode galak. Ia memang sedikit sensitif jika ada yang mengomentari tubuhnya.


"Enggak, cuma emang lebih padat nih pinggang kamu. Aku kan ahlinya kalau urusan bentuk tubuh perempuan." sahut Bagas yang langsung disambut cubitan gemas dari Dara


"Udah deh! aku gak gendut, tau!" Dara masih tidak terima Bagas menyebutnya berisi. Padahal berisi bukan gendut tapi Dara tetap menterjemahkan nya dengan kata yang satu itu.


"Iya deh terserah kamu! susah memang ngomong sama kamus berjalan!" ujar Bagas sambil ngedumel tapi setelah melihat Dara udah melotot menatap dirinya ia jadi masang muka melas minta ampun yang syukurnya langsung diampuni oleh si Nyai.


Selamat deh si Jeki!


Keduanya kemudian masuk ke dalam ruangan dokter kandungan yang segera menyapa mereka hangat. Wajah Bagas yang sudah familiar dikalangan mana saja, dari kalangan dunia nyata, dunia maya sampai dunia gaib, dengan mudah dikenali oleh dokter perempuan seumuran mamanya itu.


"Waduh pak Bagaskara, gak ada kabar menikah langsung bawa bumil nih." goda bu dokter seolah sudah tahu Dara sudah hamil, mana nyebut namanya Bagas salah lagi. Itu padahal Bagaskara pebisnis satu lagi yang umurnya udah tuir sepantaran aki-aki.

__ADS_1


"Bagas Gumilang loh Bu Dok." kata Bagas membenarkan. Ibu dokter langsung make kacamata lalu tersipu malu ternyata ia salah lihat. Tapi beneran, Bagas Gumilang juga dia tahu karena wajahnya Bagas yang cocok jadi supermodel pria itu sering nangkring di majalah bisnis.


"Oh iya, maaf ya Pak Bagas. Saya salah sebut, saya kira Pak Bagaskara yang istrinya banyak kayak lagu balon ku ada lima, macam-macam rupanya."


Dara sempat bengek sebentar mendengar informasi itu. Ia jadi masang alarm waspada karena ngeri nanti Bagas Gumilang ini bakal ngikutin jejaknya Bagaskara yang punya Istri banyak. Karena di kampungnya Dara, di gang huru hara, yang namanya Bagas Bagasan juga istrinya banyak.


"Kalo suami saya mau punya istri lebih dari satu, saya pastikan besok dia udah di sunat dua kali Bu Dok." ujar Dara kalem, sedang Bagas sudah masang muka damai biar Dara segera mencabut niatnya itu sebelum terealisasi beneran yang akan mengakibatkan hilangnya masa depan.


Setelah bercanda ringan tapi sempat buat Dara kepikiran, Dara diminta berbaring di atas ranjang pemeriksaan. Bagas udah semangat banget, ia yakin jagoannya sudah ada di dalam sana, siang tadi hanya tersesat saja jadi bikin tespack punya garis gak jelas alias cuma bayang-bayang.


Dara sendiri sama deg-degan. Harapannya sama seperti Bagas, pengen punya baby secepatnya agar kedua orang tua mereka segera bisa menimang cucu.


"Waahh ...." Suara bu dok bikin Dara dan Bagas udah melambungkan harapan setinggi angkasa. "Belum kelihatan." sambung bu dok membuat mereka kembali terhempas.


Bagas udah lesu aja, sedang Dara udah kehilangan semangatnya.


"Bu Dok, tolong yang jelas, sebelum saya bengek duluan." ujar Bagas yang segera disambut tawa oleh dokter ramah itu.


"Selamat ya Ibu Dara dan Pak Bagas, jangan lupa minum vitamin, makan dan istirahat juga yang teratur ya buat mamanya."


Bagas memekik senang mendengar apa yang barusan dokter katakan. Dara masih dengan mode terkejut tapi setelah Bagas menariknya ke dalam pelukan ia jadi memekik senang juga.


"Akhirnya anak gondrong gue jadi juga." ujar Bagas senang sambil memeluk Dara erat bikin Dara jadi sesak nafas. Tapi Dara juga senang sekali mendengar berita ini.


Tadinya kalau gak jadi ia dan Bagas rencananya mau demo ke apotik tempat mereka beli tespack siang tadi karena udah ngasih harapan palsu. Tapi karena hasilnya ternyata beneran positif, hal itu urung dilakukan.

__ADS_1


Keduanya kini sudah keluar dari ruangan dokter kandungan setelah mengucapkan terima kasih banyak sudah memeriksa Dara dan mengatakan hal yang sangat mereka harapkan.


Sangking bahagianya dan gak berhenti lihat istri, Bagas gak peduli lagi sama suster cantik yang lagi tebar pesona. Suster cantik jadi menelan lagi senyum manisnya yang sama sekali gak dilihat oleh Bagas sangking bahagianya dia menatap Dara.


"Kamu harus banyak istirahat, makan yang banyak, gak boleh stress." ujar Bagas penuh perhatian.


"Mas, kamu harus ngerem-ngerem ya ritualnya, gak boleh terlalu sering." ujar Dara mengingatkan.


Bagas jadi sedikit lesu, tapi demi junior gondrong apapun akan ia turuti. Usia kandungan Dara memang masih muda ya jadi mesti sabar-sabar dan gak boleh lupa dunia kayak tragedi ranjang berderit waktu itu.


"Aku udah gak sabar lihat kamu buncit, pasti lucu." ujar Bagas sambil memeluk pinggang Dara.


"Aku ngeri nanti kamu gak bisa bedain mana galon mana aku." sahut Dara, Bagas jadi tertawa mendengarnya.


"Galon gak punya duo semangka jumbo loh Yang." Bagas terkekeh.


"Mas, kamu gak pernah temanin Ratih terapi lagi?" tanya Dara penasaran.


"Udah ada yang gantiin aku."


"Siapa?"


"Si Kevin, lagian kayaknya Kevin sama Ratih udah mulai dekat loh."


"Wah, bagus dong, aku doain mereka jodoh." ujar Dara yang segera diaminkan oleh Bagas dengan cepat.

__ADS_1


Pasangan serasi yang suka debat itu akhirnya meninggalkan rumah sakit dengan hati riang. Bapak dan ibuk juga mama dan papanya Bagas pasti senang mendapat berita ini.


Bagas cuma punya satu permintaan selama Dara hamil. Ia cuma berdoa semoga istrinya gak ngidam yang aneh-aneh. Karena udah tahukan kalau si Betty lapea udah pengen sesuatu? harus dituruti dan gak boleh gak ada, pokoknya repotnya Bagas bakal sampai ke tulang-tulang. Bikin Bagas jadi bengek berkepanjangan.


__ADS_2