CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Macan Ternak


__ADS_3

Waktunya masuk sekolah.


Kembar semangat sekali menyambut senin pagi ini. Mereka udah rapi, pake seragam sekolah juga tas monokorobo beda warna. Rambut abang gondrong juga udah diikat rapi. Mereka sedang sarapan, dede Apem lagi makan juga disuapin sama Keke. Tuti lagi di dapur beresin tempat itu yang sedikit berantakan karena habis masak.


Hari ini mami pake celana jeans ketat dan atasan kaus hitam. Tampak awet mudah kayak abege masa kini. Bagas sarapan sambil sesekali lirik istrinya yang cantik sekali pagi ini. Padahal gaya berpakaiannya simpel dan sederhana riasan make up yang gak neko-neko cuma pake bedak terus lipstik merah muda. Haduh cantiknya mama muda.


"Yang, kapan kamu mau balik jadi sekretaris aku lagi?" tanya Bagas. Gak rela aja dia istrinya sering sendiri tanpa dia apalagi sekarang para brondong banyak doyan sama mama muda kayak Dara.


"Bulan depan aku balik kok Mas. Ini ka kembar masih baru masuk sekolah. Aku masih mau fokus ke mereka dulu."


Bagas manggut-manggut mengerti.


"Janji ya, bulan depan udah masuk kerja lagi."


"Iya Sayang."


"Aku berangkat dulu kalo gitu ya. Kamu hati-hati bawa mobilnya. Oh iya, Bapak sama Ibuk kemarin telepon mau ke sini besok lusa. Minta Tuti siapin kamar ya Yang. Biar bapak sama ibuk betah nginap." ujar Bagas panjang lebar setelah itu ia mengecup kening Dara lalu bergantian ke anak-anaknya juga. Kalo dede Apem, beda lagi. Anak gembul itu sekarang udah dalam gendongan Bagas. Tiap pagi mesti begitu, sampe di depan baru Bagas oper gendongan ke mami.


"Dadah Papi." Dara dan Apem dadah-dadah bikin Bagas gak rela ninggalin keduanya. Ia mulai melajukan mobil dengan perlahan, sampai di ujung gerbang, baru ia memalingkan pandangan dari kedua bidadarinya.


"Abang-abang, ayo berangkat nanti telat loh."

__ADS_1


Kembar pamitan sama Keke dan Tuti terus cium dede Apem bergantian.


"Yang, jagain dede ya. Abang Ondrong sama Neon mau sekolah." kata bang Aarash sambil cium tangan Keke dan Tuti bergantian diikuti Neon juga.


"Iya, Abang Ondrong sama Neon belajar yang baik ya. Jangan nakal." ujar Keke. Dara memperhatikan itu dengan senyum terulas di bibir ketika melihat pemandangan manis dan sederhana itu.


"Dede Apem, jangan ngambek, jelek tauk!" Neon menjawil hidung adik gembulnya. Dede Apem udah manyun mau nangis, tapi abang Aarash langsung main cilukba biar dede Apem gak jadi nangis. Bener aja, dede udah ketawa.


Tuti dan Keke juga dede Apem mengantar kepergian mereka sampai di depan. Mereka melambai saat mobil yang dikendarai Dara mulai menghilang dari balik gerbang.


"Pak Mamat, Neon dan Ondrong berangkat ya. Pak Totok mana?" tanya Ondrong ketika mami berhenti sebentar di depan pos security.


"Lagi mandi Bang. Belajar yang rajin ya." Ondrong dan Neon mengangguk kemudian salam lagi ke pak satpam teman mereka main bola itu.


"Beres Bang." Pak Mamat ngacungin jempol.


"Kami berangkat ya Pak." Giliran Dara yang pamitan yang segera dibalas anggukan penuh hormat oleh lelaki itu.


Sampai di taman kanak-kanak, telah banyak para orang tua dan anak-anak yang akan memulai kegiatan bersekolah mereka.


Ada yang gak mau ditinggal maminya, ada yang udah nangis-nangis pengen pulang. Dara sendiri udah jongkok di depan kedua anak-anaknya.

__ADS_1


"Abang, kalo beberapa hari ini, Mami bisa kok temenin abang sampe selesai jam sekolahnya. Tapi, habis itu Abang-abang Mami tinggal ya."


"Iya Mi, gak papa. Ondrong kan gak sendiri ada Neon."


"Iya Nyak, Neon senang sekolah."


Dara memeluk kedua anaknya hangat kemudian mengantar mereka sampai masuk kelas. Dara bincang sebentar sama ibu guru yang udah menyambutnya dengan senyum.


"Titip anak-anak ya Bu." ujar Dara lembut.


Ibu guru mengangguk lagi dan tersenyum. Ia sendiri gemas melihat dua lelaki kembar duplikat papi Bagas itu.


Kedua anaknya nampak kalem, menyapa siapa saja di dalam sana. Dara lihat dari jendela kelas. Anak-anak di dalam sudah mulai memperkenalkan diri satu persatu. Tapi Ondrong gak mau sendirian jadi dia sama Neon berdua ke depan kelas.


Dara jadi tersenyum. Saat di luar banyak perempuan-perempuan dewasa memperhatikannya. Gaya berpakaian Dara yang sederhana tapi tetap membuatnya cantik itu menarik perhatian mereka.


Bagas sendiri sekarang udah ambil ponsel, dia pengen tahu istrinya lagi ngapain. Terus senyum manis saat tahu sang permata hati lagi nungguin kembar di samping kelas lewat video call.


"Nanti pulang hati-hati ya Sayang."


"Iya Mas, kamu juga ya."

__ADS_1


Bagas mengangguk terus mandang istrinya yang lagi senyum lihat anak-anak belajar tanpa kata. Dara tampak berbeda setelah punya anak, tampak lebih cantik dengan aura keibuannya. Selama sebulan mami bakal terus jadi macan ternak buat kembar, mama cantik anter anak.


__ADS_2