CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Papi Ngambek


__ADS_3

Masih dengan mode mute, alias diam sepanjang hari, Bagas sekarang lagi duduk di balkon. Dia lagi main ponsel, melihat foto-fotonya bersama Dara. Dari foto biasa sampe foto hot mereka berdua.


Beneran, rasanya cemburu itu gak enak. Mungkin itu juga yang Dara rasakan ketika ia cemburu berlebihan waktu Bagas kelepasan lagi asik ngobrol sama teman lama sampai mantan yang sempat terlupakan.


Waktu udah pukul sebelas malam, anak-anak udah pada tidur pulas. Neon sama gondrong tidur di kamarnya dede Apem, di bawah box dede Apem lebih tepatnya. Tadinya, Dara pengen mindahin kedua anak kembarnya itu ke kamar mereka sendiri, tapi lihat wajah lugu yang udah capek abis main itu, dia jadi membiarkan kembar tidur di atas permadani tebal yang ada di kamar dede Apem.


Cuma, dia kasih selimut untuk kedua anak kembarnya itu biar mereka gak kedinginan karena walaupun mereka tidur di atas permadani yang cukup tebal, tapi posisi mereka juga dekat dengan lantai, pasti akan terasa lebih dingin.


Balik ke kamar, dia lihat ranjangnya kosong. Papi lagi termenung, duduk di sofa sendirian. Duh, sendirian nih ceritanya. Gak ngajak-ngajak mami gitu biar lebih anget?


"Mas, tidur yuk." Dara mendekat ke arah Bagas yang masih bergeming.


"Kamu duluan aja." ujar Bagas pelan.


Dara menarik nafas panjang. Menghadapi Bagas yang lagi cemburu ternyata butuh usaha ekstra.


"Kamu masih marah?" tanya Dara lembut. Ia duduk di samping Bagas.


"Tidur sana, udah malem." sahut Bagas tanpa peduli pertanyaan Bagas barusan.


"Aku nanya dikacangin! sebel!" Dara berdecak kesal.


"Makanya kamu tidur aja."


"Gak mau! ayo ngomong, aku gak mau kamu diemin gini."

__ADS_1


"Gak, aku biasa aja." kilah Bagas.


"Sini deh, kamu tuh kegantengannya jadi nambah kalo lagi cemburuan gini." Dara menyentil hidung Bagas pelan sambil tertawa.


"Apaan sih kamu?!"


"Ih, segitunya, ngambek banget kamu ya. Aku tahu kamu masih marah masalah siang tadi. Ya udah aku minta maaf ya, lain kali kalau ada teman lama aku yang laki-laki, aku gak akan ngobrol lama begitu lagi."


Bagas menatap istrinya kemudian melengos lagi.


"Aku tuh cuma gak suka, kamu nampak akrab banget sama orang lain. Apalagi laki-laki itu lihat kamu dengan tatapan memuja begitu."


"Iya, aku minta maaf deh. Udah dong, ngambek terus. Aku berhenti aja deh ko gitu jadi sekretaris kamu." ancam Dara akhirnya.


"Tuh kan! cari kesempatan!"


"Makanya jangan berhenti." balas Bagas.


"Ya udah jangan ngambek lagi dong Papi."


Bagas melihat Dara lagi, melihat usaha istrinya itu akhirnya dia luluh juga. Matanya mulai menatap hangat pada Dara yang sudah memberinya senyum.


"Aku gak mau kehilangan kamu ...." desis Bagas pelan.


"Kamu pikir aku mau?"

__ADS_1


"Jangan dekat orang lain ya kalo gitu." pinta Bagas penuh harap.


Dara mengusap rambut gondrong suaminya itu perlahan. Ia menatap lekaki yang telah mencuri hatinya bertahun-tahun itu lalu tersenyum menenangkan.


"Suami aku baik begini, sayang istri sayang anak, aku gak tahu diri banget kalo sampe nakal sama orang lain." uaje Dara lembut. Terdengar begitu manis di telinga Bagas.


"Bener kan kamu gak punya hubungan apapun sama Rafi dulunya?"


"Enggak Mas. Sumpah. Kalaupun dulu dia suka sama aku, ya aku juga gak peduli. Sayang, percaya deh, aku gak bakal macem-macem."


Bagas meraih jemari Dara lalu menciumnya penuh cinta. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi Dara, menatap Dara lembut lalu mengecup bibir istrinya itu sekilas.


"Aku sayang banget sama kamu, aku gak mau kamu diambil orang." gumam Bagas.


"Sayang, anak aku udah tiga loh. Siapa yang mau ngambil."


"Kamu gak tahu aja banyak buaya gak tahu diri berkeliaran di luar sana. Gak peduli anak kamu mau tiga kek, sepuluh kek, sebelas kek." desis Bagas.


"Tapi, aku cuma setia sama satu buaya. Buaya Gondrong." balas Dara penuh arti.


Bagas menatap Dara dengan wajah sudah lebih rileks juga hati yang lebih tenang dan lega.


"Masuk yuk." Ajaknya pada Dara yang segera mengangguk. Bagas merangkul Dara, menutup pintu balkon lalu mulai berbaring bersama istrinya. Gak jadi ngambek pi?


Lampu sudah dimatikan, selimut udah di tarik, tangan udah aktif. Artinya enggak jadi ngambek. Ada yang lebih menantang dari pada ngambek yaitu lahar panas yang akan segera meletus!

__ADS_1


__ADS_2