
Halaman rumah luas milik Bagas dan Dara itu telah dipenuhi oleh kendaraan. Pak Mamat dan pak Totok sibuk banget mengatur orang-orang yang baru aja datang. Hilir mudik orang-orang yang bertugas menyempurnakan acara nampak membuat suasana jadi lebih terasa ramai.
Kue besar di tengah taman menambah keindahan acara itu. Dara sedang menatap dirinya di cermin, sedang perias sedang menata rambutnya. Ia nampak cantik, flawless dan memikat. Bagas juga sedang memakai jas mahalnya, rambut gondrong itu sudah diikat rapi.
"Sayang." Suaranya yang berat namun terdengar romantis, membuat Dara yang sudah cantik dan sedang mematut penampilannya di cermin, menoleh.
"Mas Bagas ..." Dara mendekati Bagas, mencium pipi lalu memberi kecupan di bibir Bagas dengan sedikit berjinjit. Tercium aroma wangi dari tubuh istrinya itu.
"Ayo, tamu undangan udah nungguin kita dari tadi." Bagas memberikan lengannya, meminta Dara segera menggamitnya mesra.
"Papi, pita-pita Apem?" Baru aja mau romantis ala-ala ratu sama raja mau nyapa orang-orang, dede Apem yang udah berusia empat tahun itu membuat keduanya hampir kejengkang karena kaget.
Gimana gak kaget coba, mereka udah melangkah pelan hampir menuju pintu kamar mau turun, eh dede Apem muncul dari balik dinding nanyain pitanya yang entah dimana, menghilang atau emang dia lupa simpan dimana.
"Duh, dede Apem, Mami sama Papi mau ke bawah, bentar Yayang cari."
Bagas menghembuskan nafas lega karena Keke datang tepat waktu. Keduanya kembali turun dengan langkah teratur. Semua orang bertepuk tangan, menyaksikan pasangan serasi itu.
Pembawa acara mempersilahkan Bagas dan Dara untuk memberi sedikit sambutan di acara anniversary ke sepuluh tahun pernikahan mereka itu.
Setelah selesai keduanya segera menuju kue dan memotongnya diiringi tepuk tangan. Doni dan Kevin hadir dan mengacungkan kedua jempol mereka untuk Bagas.
"Happy anniversary sepuluh tahun istriku ' Bagas mencium pipi Dara mesra di depan semua orang disambut iringan tepuk tangan.
"Semoga berbahagia selalu Mas Bagas." Dara membalas Bagas dan mencium pula pipi suaminya itu.
Kembar sudah berusia delapan tahun saat ini. Mereka nampak bahagia melihat kemesraan mami dan papi. Dede Apem baru aja turun dari tangga bareng Keke. Pita-pitanya udah nangkring manja di rambutnya sudah panjang gak lagi kayak Dora. Badannya udah lebih kurusan dibanding dua tahun lalu. Dede Apem udah banyak main jadi badannya perlahan menyusut tapi tetap aja makannya kuat.
"Hai dede Apem."
Ya elah, abang botak masih aja suka ngikut kemana aja Doni pergi. Abang botak udah tiga belas tahun dan stop panggil dia botak, dia udah punya rambut walaupun dikit, tapi gak botak licin lagi.
"Abang Botak, cini main dulu."
Main mulu pikirnya dede Apem. Dia gak suka main palu thor lagi, sekarang dede Apem suka main masak-masak. Segala peralatan mainan masak dibawa turun, dia gak peduli sama acara mami papinya.
Jadilah keduanya sibuk main masak-masak dengan dede Apem yang udah cantik pake dress merah muda.
__ADS_1
Acara masih berlangsung, semuanya pada larut dalam suasana. Bagas menatap istrinya mesra, sekian tahun bersama, cinta malah semakin kuat mengikat keduanya. Anak-anak sudah bertambah besar, cinta juga bersemi dan terus mekar.
"Selamat Gas, playboy yang sekarang udah jadi hot Papi." ledek Doni disambut tawa lepas dari Kevin.
"Kayak lo berdua gak aja!" kesal Bagas sambil melempar kulit kuaci ke muka Doni.
"Anak-anak udah pada gede aja." Kevin mengarahkan pandangannya ke arah anak-anak yang sedang bermain bersama di taman luas itu.
Bagas gak melihat dede Apem, matanya tampak celingukan.
"Yang, dede Apem mana?" tanya Bagas setengah teriak.
Dara yang lagi asyik ngobrol sama Ratih dan Mila jadi menoleh.
"Apem cini loh Papi." seru dede Apem yang udah pake celemek Tuti. Dia sama abang botak masih main masak-masak.
Bagas menghembuskan nafas lega sebab anak gadisnya itu sangat aktif, takutnya nanti dia malah ke jalan tanpa sepengetahuan orang, sebab gerbang utama lagi terbuka lebar dan kedua security-nya lagi sibuk ngatur parkir.
"Biarinlah dia aman kok sama botak." kata Doni.
"Minta Mami ya."
Berlarian kembar mendekati mami yang lagi sibuk ngobrol.
Acara itu terasa sangat kekeluargaan. Banyak juga staff yang hadir, Tina datang bawa kado boneka sambil jingkrak-jingkak ternyata dia salah kira. Dia kira dede Apem ulang tahun. Sampe di acara dia gak lihat dede Apem, malah lihat maminya dede Apem pake dress pesta.
"Ya ampun, aku kira dede Apem ulang tahun Bu Dara!" Tina udah jerit sendiri sambil menatap kesal kado yang dia bawa hari ini.
"Salah denger kamu tuh Tina. Aku bilang anniversary aku sama Bagas kok.
Tapi Tina tetap memberikan kado berisi boneka itu buat dede Apem. Ya udahlah Tina udah laper juga kebetulan tanggal tua dia belom gajian, mumpung banyak makanan enak, apalagi gratis Tina akhirnya makan bareng staff lain yang datang dengan lahap.
"Ke, coba dicariin Apem mana ya, tadi dia ada disitu bareng botak, sekarang gak ada lagi." Dara yang lagi sibuk banget sama tamu mendekati Keke.
"Iya Nyah."
Secepat mungkin Keke mencari keberadaan dede Apem yang gak bisa diem. Ke sana kemari gak ditemukannya anak bungsu majikannya itu.
__ADS_1
"Tuti lihat dede Apem?" tanya Keke ketika Tuti lagi sibuk menata buah anggur.
"Gak lihat, Tuti lagi sibuk ngangon anggur."
"Kambing kali Ti ngangon!" decak Keke kesal.
"Udah sana cari dede Apem, nanti Tuan marah loh."
Keke mencari ke segala penjuru. Tak juga ditemukannya dede Apem. Di saat itulah dia mendengar suara perang-perangan dari arah samping tak jauh dari taman. Keke pengen pingsan dengan penglihatannya. Dede Apem yang tadinya udah cantik banget sekarang udah coreng mukanya, bergaris-garis hitam, bajunya juga basah nampaknya ia sedang bermain perang pistol air punya abang kembar.
Tak jauh dari dede Apem terlihat abang botak yang juga udah coreng mukanya, di atas kepala abang botak ada wajan yang pantatnya item. Tuti memang sempat masak sesuatu yang gosong pagi tadi dan kayaknya gak bersih waktu cuci itu wajan.
Jadilah dede Apem sama abang botak main perang-perangan. Keduanya tampak serius sekali. Dede Apem kena serangan air dari pistol abang botak. Dede Apem gak terima, dia malah nangis terus ambil palu thor yang udah penyok.
Abang botak ngeri lihat dede Apem ngamuk sambil ngejar dia. Jadilah mereka kejar-kejaran dengan dede Apem mau geplak pantat abang botak.
"Keke, kenapa dede Apem cemong begitu?!" Dara udah berseru kesal.
"Sumpah Nyah itu kerjaan botak bukan Keke."
Keke segera menghentikan aksi geplak menggeplak dede Apem yang enggak kena bikin dede Apem kesal. Abang botak sekarang udah gabung sama anak-anak lain, dia udah ambil kue sama makanan lain.
Semua anak-anak pada ketawa lihat abang botak dengan wajan di atas kepalanya. Mukanya cemong banget, bikin kesal Doni yang pengen segera lelepin mukanya ke kolam renang sekarang juga.
Para orang tua cuma geleng-geleng kepala terus lanjutin acara ngobrol sambil makan dengan tenang. Dara dan Bagas udah barengan lagi, mereka tetap bahagia, acara berlangsung lancar dan penuh kekeluargaan. Keduanya saling menatap penuh cinta, mereka berharap akan selalu bersama selamanya hingga hanya maut yang mampu memisahkan.
...****************...
Last but not least ya semuanya. Setelah ini akan ada cerita tentang anak-anak mereka yang udah pada gede. Selamat berjumpa lagi di CGIS S2 .
Jangan lupa berikan cinta kalian dengan menekan vote, like koment dan gift ya.
Terima kasih semua,
See U,
Juliez🌹🌹❤️❤️
__ADS_1