
Sembilan bulan kembali lagi.
Pagi itu saat lagi asyik-asyiknya Dara nemenin kembar main di halaman belakang rumah mereka, Dara merasa perutnya mulas sama seperti ketika dia mau melahirkan kembar kemarin.
Lihat ke bawah, gak ada air, artinya tidak ada adegan ketuban pecah. Tapi perut mami mulas beneran loh. Gak terlalu mulas seperti sudah pecah ketuban dulu, tapi rasanya tetap mulas juga.
"Mami kenapa?" Abang Aarash yang melihat gelagat mami lagi meringis jadi menghentikan aktivitasnya bermain.
"Gak papa, Mami mules."
"Mami mau eek ya?" Abang Aariz juga mendekat. Kembar gak tahu mulas melahirkan itu gimana. Yang mereka tahu kalau sakit perut berarti mau eek.
Aarash inisiatif ke dapur, mengejutkan Tuti sama Keke yang lagi masak sambil ngerumpi.
"Mami sakit perut, mau eek."
Tuti dan Keke jadi saling pandang. Lah, mau eek kok ngadunya ke mereka gitu? aturannya mami jalan sendiri ke kamar mandi kan? masa ke kamar mandi mau ditemenin juga.
"Mami ke kamar mandi aja dulu Bang, kalo mau eek." sahut Tuti sambil terus mengaduk tumisan yang masih berada di dalam wajan.
"Tapi Mami gak bisa berdiri, susah. Mami mulas."
Tuti dan Keke jadi berpandangan lagi. Terus keduanya jadi panik. Tuti dan Keke buru-buru ke taman belakang dimana sekarang Nyonya mereka lagi duduk gak bisa berdiri.
"Eeeh, Keke duluan. Tuti lupa matiin api kompor." Tuti segera menepuk jidatnya. Keke ikutan menepuk jidat Tuti.
"Bisa-bisanya Tuti lupa matiin kompor. Nanti angus gimana coba." Keke jadi berkacak pinggang. Abang Aarash cuma geleng-geleng kepala lihat kelakuan mereka.
"Ayo Yang, nanti Mami pingsan loh." Abang Aarash udah tarik tangan Keke yang masih aja sibuk marahin Tuti.
Tuti buru-buru balik lagi ke dapur, mana ada adegan dia nabrak pintu dapur sampai dia jatuh ke belakang sangking paniknya. Dia yakin mami udah mau melahirkan. Habis dari dapur dan udah ngamanin kompor, Tuti buru-buru lagi ke taman belakang. Dia lihat Keke udah bantuin papah mami. Tuti sigap bantuin juga dan teriak panggil pak Mamat. Teriaknya di samping kuping mami bikin mami jadi budeg sesaat.
"Nyonya mau melahirkan!" kata Keke panik.
"Iya, ayo bawa ke mobil."
"Tuti ambilin alat-alatnya mami sama dede ya Keke tunggu di mobil." perintah Keke cepat. Dara gak bisa ngomong lagi yang jelas perutnya udah mulas.
Abang Aarash dan Aariz ikut dengan bingung di belakang.
"Yang, Mami mau eek kok dimasukin ke dalam mobil?" tanya Aariz gak ngerti.
"Mami eek di rumah sakit aja."
__ADS_1
"Kejauhan, nanti Mami eek di celana gimana?"
"Mami mau keluarin Dede, Bang. Udah Abang ikut aja ya."
Kembar mau tak mau ikut juga akhirnya. Mereka masih bingung kenapa mami mau eek aja jauh banget sampe ke rumah sakit.
"Tenang ya Nyonya kita berangkat sekarang."
Pak Mamat segera menjalankan mesin mobil, menuju rumah sakit tempat mami mau bersalin setelah Tuti masuk dengan tas berisi peralatan bayi dan mami.
"Bentar, Tuti telepon Tuan."
"Neon aja yang ngomong."
Ponsel beralih ke tangan abang dengan cepat, Tuti gak bisa cegah. Udahlah pasti papi ngerti nanti apa yang bakal disampaikan anaknya.
"Hallo Babeh?" sapa abang Neon cepat.
"Iya Neon? kenapa telepon Papi? Papi lagi meeting loh." Bagas yang sedang memimpin meeting harus menghentikannya sementara karena panggilan telepon dari Tuti terus berdering tadi.
"Papi, cepat pulang ya. Mami mau eek di rumah sakit."
Bagas awalnya gak ngerti karena abang bilang eek di rumah sakit. Tapi terus Bagas langsung paham, istrinya akan segera melahirkan.
"Maaf semua, meeting sampai di sini dulu. Saya mau ke rumah sakit, istri saya akan segera melahirkan."
"Bu Dara udah mau lahiran lagi." Seru Tina penuh kegembiraan setelah ia selesai menutup meeting hari itu. Semua yang mendengar itu jadi ikutan senang.
Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang tapi cenderung cepat. Ia mengangkat tangan yang berhias jam tangan mahal. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kecemasan mulai menjalari dirinya.
"Papi, Mami sakit perut di dalam." Kembar menyambut Bagas setelah ia sampai di depan kamar persalinan.
"Tunggu disini ya. Papi ke dalam dulu, Mami butuh Papi. Tuti sama Keke jagain kembar ya."
Bagas segera masuk. Dilihatnya Dara sedang berbaring menyamping, nampak pucat wajahnya.
"Mas ... Dede apem belum mau keluar. Kayaknya nungguin papinya."
"Udah buka tujuh, tahan sebentar lagi ya." Perawat yang baru saja memeriksa pembukaan tersenyum hangat pada pasangan suami istri itu.
Bagas menggosok punggung Dara lembut, mengecup keningnya berulang kali, mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan. Air ketuban Dara merembes kemudian, perutnya kembali dilanda mulas luar biasa. Nyerinya semakin mencengkram.
"Suster, aku mau mengejan." pekik Dara tak tertahankan. Suster segera memeriksa pembukaan lagi. Lengkap.
__ADS_1
Dokter mulai bersiap dengan sarung tangan medis. Ia mulai memberi aba-aba pada Dara. Bagas menjadi suami yang siaga dan setia mendampingi istrinya.
"Terus Bu Dara, kepalanya sudah kelihatan."
Dara kira persalinan kedua ini akan lebih mudah ternyata sama saja sebab bayinya besar! Bayinya gendut.
"Kita operasi saja Bu?"
"Gak, Dok. Saya mau normal. Kita coba dulu."
"Gak papa Sayang. Aku gak mau kamu kehabisan tenaga."
"Gak, aku bisa."
Bagas menatap dokter lalu mengangguk. Dokter kembali melakukan episiotomi untuk mempermudah jalan lahir.
"Sedikit lagi Mi, berjuang ya." Bagas menggenggam jemari Dara lembut.
Dara mengejan kembali, setiap tarikan dan hembusan nafasnya menjadi doa dan harapan agar anak gembulnya segera keluar. Dan dengan satu tarikan nafas terakhir, Dara menyudahi perjuangannya melahirkan pagi ini.
Bayi gembul hampir empat kilogram itu lahir dengan selamat. Putih, gembul dan rambutnya juga lebat sekali. Para suster jadi gemas. Kembar segera masuk dan memeluk mami yang masih terbaring.
"Dijahit dulu ya." ujar Dokter mempersilahkan perawat untuk menjahit area bekas jalan lahir tadi.
Dara tampak meringis, tapi ia bahagia sebab bayi apem udah keluar.
"Makasih ya Sayang, kamu udah lahirkan anak yang cantik banget. Kamu jaga dia dengan baik, bayi kita sehat, lucu, gendut ... kayak maminya." Bagas mencium kening Dara diikuti kembar secara bergantian.
Tapi kata-kata terakhir papi itu loh gak banget. Mami dikatain gendut. Lah emang udah endut mami. Tuh pipinya tembem, betisnya gede, semangkanya gede upsss kalo itu dari dulu udah gede. Gak papa mami, nanti diet lagi ya.
"Mana dede Apemnya Mas?" tanya Dara masih dengan meringis karena jahitan masih terasa nyeri.
Perawat datang membawa box bayi dengan dede apem lagi bobo cantik. Tuti dan Keke gemas banget. Anak mami yang ini cantik banget. Abang kembar udah gregetan pengen cubit tapi papi melarang.
"Nanti ya Sayang, dede belum kuat buat di toel-toel." Seakan paham Bagas berusaha memberi pengertian pada kedua anaknya yang udah pada gregetan.
"Neon mau cium aja Beh." kata Neon lu mencium lembut pipi gembul adiknya.
"Ondrong juga." Gantian abang juga cium adiknya.
"Namanya siapa Pak Bagas?" tanya perawat siap mencatat di buku asuhan keperawatan.
"Aalisha Gumilang, Sus."
__ADS_1
Bagas kembali menatap Dara yang sedang mendekap bayi kecilnya dengan penuh perasaan. Dari tatapannya kayaknya, Bagas udah ngatur siasat pengen bikin baby lagi. Papi, tahan. Mami gak mau bengek dulu setelah ini. Cukup ya pi, tiga aja. Mami kasih bonus tuh, gak kayak anjuran pemerintah, dua anak cukup. Mami udah kasih tiga loh itu.
Jum'at, 10:30 WIB, Baby Apem Launching! Yang mau kasih kado langsung aja ke rumah mami ya.