
Masih dengan agenda pertemuan meeting dengan perusahaan yang sama juga dengan pimpinan yang sama, Bagas hari ini kembali memimpin jalannya meeting dengan hati yang masih nyut-nyutan tiap kali pak Rafi kedapatan melirik istrinya yang hari ini memakai setelan celana kerja juga blezzer berwarna moca, membuat tampilannya jadi sangat elegan, anggun juga menarik perhatian.
Bagas mencoba konsentrasi sebab ia tidak ingin mengacaukan jalannya meeting hanya karena pak Rafi yang masih sering menatap istrinya dengan pandangan memuja, sementara yang lain fokus menatap ke arah dirinya.
Sialan nih laki-laki. Mesti gue kasih kultum tujuh menit abis ini kayaknya, biar dia sadar, Dara itu udah punya suami. Bagas ngejelasin sambil ngebatin.
"Ehmmmmm, bapak-bapak di sini mungkin ada yang pengen tambah kopi atau minuman lain?" tawar Bagas pada semua yang ada di dalam ruangan meeting.
"Boleh Pak Bagas, kebetulan saya lagi pengen yang dingin-dingin."
"Oke, jus ya?"
Mereka mengangguk. Bagas mengalihkan pandangannya pada Rafi yang masih sibuk melihat istri CEO gondrong itu.
"Pak Rafi, mau tambah kopi atau tambah yang lain?" tanya Bagas.
"Cappucino aja Pak Bagas." sahut Rafi cepat.
Bagas mengalihkan pandangannya pada Dara.
"Sayang, bisa tolong aku pesan ke pantry?" ujar Bagas lembut.
__ADS_1
Rafi langsung kaget aja dengar Bagas menyebut Dara dengan panggilan sayang itu. Lagian ini si Rafi hidup di hutan kali ya? masa dia gak pernah lihat majalah bisnis ibukota. Ada tuh headline yang tulisannya "CEO GONDRONG DAN ISTRI (SEKRETARIS) SEKSINYA." Headline news itu padahal dilengkapi foto Bagas dan Dara dalam balutan setelan kerja seksi mereka berdua. Foto seksi yang mana Bagas lagi menatap cool istrinya sedangkan Dara sedang menatap kamera sambil menarik dasi suaminya dengan kancing kemeja terbuka beberapa biji di bagian atas. Bisa gak kalian bayangin gimana seksinya mereka berdua?
Pengen rasanya Bagas lemparin itu majalah ke depan mukanya Rafi yang masih mupeng aja lihat istrinya terus dia bisikin di kuping Rafi pake toa " WOI ISTRI GUE TUH!"
Tapi lihat wajah Rafi yang udah tampak lain itu dia menarik seringai. Tenang, ini baru permulaan, nanti Bagas bakal kasih penyegaran otak juga biar Rafi sadar wanita yang dia puja itu adalah istrinya.
"Iya Mas, tunggu ya." balas Dara mesra.
Bengek gak tuh Rafi lihatnya. Dia jadi memicingkan mata penuh curiga menatap kedua pasangan di depan sana. Mau nanya sama asistennya dia gengsi.
"Kita lanjutkan meeting ya, minumannya tungguin aja."
"Oh, saya hafal semua kebiasaan sekertaris saya itu Pak Rafi. Dia lebih suka ngomong langsung tatap muka sama karyawan pantry biar gak ada salah antar pesanan."
"Wah hebat sekali pak Bagas bisa hafal semua kebiasaan sekretarisnya. Berarti benar ya Pak Bagas ini pintar menaklukan hati para sekretaris. Saya pernah dengar loh sekilas tentang ini." Pak Rafi jadi terkekeh sendiri. Bagas ikut tertawa renyah.
"Iya Pak Rafi, jangankan kebiasaan, warna da*amannya aja saya tahu." Bagas ketawa ngakak.
Bener-bener playboy! desis pak Rafi gondok.
"Wah hebat banget pak Bagas, saya jadi pengen berguru biar bisa dapet sekretaris secantik Dara." timpal Rafi lagi.
__ADS_1
Wah, mancing nih. Sakit, sakit ati deh lo abis ini!
"Ya gimana gak dapet, Pak Rafi, lah ibu Dara itu istrinya Pak Bagas kok." sambung salah satu lelaki yang ikutan meeting hari ini.
Bagas tersenyum puas, ternyata gak perlu dia kasih kultum tujuh menit abis ini. Sahutan dari salah satu yang ikutan meeting mewakili apa yang akan dikatakannya pada lelaki itu nantinya.
Rafi bukan lagi melotot saat ini tapi juga sampe kehabisan kata-kata. Dia menatap Bagas yang cuma bisa senyum terkulum menatap dirinya.
Meeting yang harusnya membahas masalah kerjasama jadi sedikit terganggu dengan pembahasan pribadi yang bikin salah satu pihak jadi keki. Rafi menatap Bagas sebal tapi tetap berusaha profesional mengikuti jalannya meeting siang ini.
"Kenapa gak bilang sekretarisnya pak Bagas itu istrinya juga?" bisik Rafi pada asistennya yang cuma bisa garuk-garuk kepala.
"Bapak gak nanya gitu."
"Semprul!" dengus Rafi kesal.
Lu yang semprul! Dasar bos Jones, dia yang patah hati, gue yang disalahin! Balas asistennya tapi cuma berani dalam hati. Bahaya kalo dikeluarin beneran, bisa-bisa besok udah ada surat pemecatan di atas meja.
Sementara Rafi sudah tidak semangat ikut meeting. Matanya menatap nanar Dara yang sudah kembali ke dalam ruangan diikuti pelayan pantry. Cappucino yang harusnya terasa manis sedikit pahit jadi terasa pahitnya aja. Lihat Bagas dan Dara terlihat lagi bahas sesuatu dengan berkas di tangannya yang begitu mesra di depan saja seperti dia lagi nonton film horor yang suka bikin perempuan sewaannya teriak sambil mendesah.
Jadi jelas ya pak Rafi, adik kelas waktu SMA yang dipuja-puja ternyata udah jadi istri orang. Jangan mimpi bisa mengganggu ketenangan rumah tangga buaya gondrong. Gak akan bisa, langkahin dulu bijinya Jordi!
__ADS_1