
Hampir dua minggu berlalu, Bagas sekarang udah di Perancis. Masalah perusahaan mereka di Singapore udah kelar. Udah bisa dihandle oleh orang kepercayaan Opa Ben dengan sedikit wejangan dari Bagas tentunya.
Sekarang tinggal yang di Perancis. Masalah yang di Perancis ini malah lebih pelik lagi. Bikin Bagas jadi pusing dan mumet. Bagas yang udah lama gak ngerokok, mulai ngerokok lagi demi menenangkan diri barang sejenak di dalam ruangan.
"Kenapa bisa gini? harusnya ini gak mudah jebol sistemnya!" Bagas yang udah kusut mau gak mau jadi menumpahkan kekesalan pada karyawannya yang cuma bisa nunduk aja sekarang.
Tapi demi lihat wajah memelas staffnya di perusahaan itu, dia jadi menarik nafas panjang. Gak tega juga dia. Udah lama dia gak marah-marah memang.
"Gabung sama yang lain dulu, bentar lagi saya nyusul."
Selain karena masalah perusahaan yang bikin Bagas uring-uringan, hatinya juga sekarang lagi tak tenang. Kepikiran Mami, kembar dan dede Apem.
Sementara di rumah sendiri, Dara lagi berusaha menurunkan panas tubuh dede Apem yang tiba-tiba aja naik. Tapi dia tetap tenang sambil memberi obat yang baru aja dikasih sama dokter.
Dara sengaja gak ngasih tau Bagas, takutnya Bagas nanti malah gak konsen. Itu aja suaminya itu udah senewen apalagi kalo dengar Apem sakit begini.
Tapi ya dasar Neon sama Ondrong, mereka malah telepon papi diam-diam siang itu.
"Papi!" seru abang Aarash setelah Bagas mengangkat telepon darurat itu.
"Kenapa Ondrong panik gitu?" Bagas jadi tambah gak enak hati.
__ADS_1
"Dede Apem sakit Pi, badannya panas." adu Aarash yang langsung diangguki Aariz yang tentu aja gak bisa dilihat Bagas.
Benarkan dugaan Bagas. Ada yang gak beres. Firasatnya sama sekali gak salah.
"Mas." Suara Dara yang terdengar kemudian, Dara ternyata sudah mengambil alih telepon dari kedua anaknya itu.
"Yang, kok gak kasih tau aku dede sakit?!" tanya Bagas panik.
Saat ini waktu di Perancis masih pukul sepuluh pagi sedang di Jakarta sendiri sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Aku gak mau kamu cemas. Gak papa kamu fokus aja ya dulu sama kerjaan kamu. Dede udah mulai turun kok panasnya, udah aku kasih obat. Sekarang lagi bobo." jawan Dara menenangkan.
"Aku benar-benar gak konsen sekarang."
Bagas diam, istrinya benar. Apa yang Dara gak salah sama sekali. Bagas mengusap wajahnya. Mencoba menjernihkan pikiran yang tadi sempat kacau. Ia mencoba tersenyum.
"Maafin aku ya. Aku janji semuanya akan cepat selesai."
"Iya, udah ya Sayang. Jangan lupa istirahat."
Dara menutup telepon lalu menatap kedua anaknya sambil menggeleng-geleng gemas.
__ADS_1
"Kan Mami udah bilang jangan kasih tau Papi dulu. Tuh, kasihan kan Papi kepikiran." ujar Dara lembut, tampak kedua anaknya sedang menunduk.
"Maaf ya Mi." ujar keduanya kompak.
"Neon takut dede pingsan Nyak."
"Ondrong juga."
Ungkapan tulus dan polos itu bikin Dara senyum. Dia mengajak keduanya pergi lihat dede Apem yang masih tertidur pulas.
"Panasnya udah turun. Gak lama lagi dede sembuh."
"Dede .... " Kembar mengelus pipi dede Apem dengan sayang. Mereka takut sekali waktu lihat dede nangis keras.
Sementara Dara tahu, anak gadisnya itu lagi kangen berat sama papi. Makanya dia sampai sakit, mungkin ingat sama Papi yang udah lama gak gendong dan lihat dia.
"Nyah, dede udah turun panasnya?" tanya Tuti, di belakangnya mengekor Keke.
"Udah kok. Gak papa, jangan sedih ya, dede lagi kangen Papi, makanya dia jadi sakit."
Kedua pelayan itu mendekati dede gembul yang lagi tidur di dalam box bayi. Keke insiatif ngambil selimut bayi buat nyelimutin dede, Dara jadi senyum melihat semua orang yang begitu sayang sama anak bungsunya.
__ADS_1
Bagas udah mulai semangat lagi. Dia gak mau lama di Perancis. Dia udah kangen berat anak-anak dan mami. Apalagi dia tahu, dede Apem bisa sakit karena kangen dia juga.
Mas gondrong mulai kembali berkutat dengan keseriusannya menangani masalah perusahaan. Semakin cepat selesai semakin akan mengantarkannya kembali ke rumah juga ke pelukan empuk mami. Ah, Papi jadi sugesti keinget mami. Sabar Pi, gas tipis-tipis nanti.