
Meski terlahir kembar dan hampir semua barang yang mereka kenakan sama, tetap saja ada yang membedakan Ondrong sama Neon. Kalau Aarash lebih cool sedang Aariz lebih bawel dan aktif bertanya, begitu pun soal selera makan mereka.
Aarash gak mau makan ayam kalo bukan bagian paha, sedang Aariz gak mau makan ayam kalo bukan bagian sayap. Gak ada yang suka dada nih? Dada ternyata udah bagian papi, itu kesukaan papi yang gak bisa dibantah.
Begitu pun sama makanan kesukaan. Bagas sekeluarga ini memang pada hobby ngemil. Begitu juga Aarash dan Aariz. Kembar yang aktif itu punya kegemaran masing-masing.
"Yang, Neon pengen singkong rebus kayak di rumah Kakek." kata Aariz saat ia sedang memberi makan Jordi.
"Nanti Keke minta Tuti beli singkong dulu ya, Bang."
"Ondrong mau keju, keju Ondrong udah habis." Kali ini abang Aarash juga ngomong. Dia lagi sibuk ngasih makan Kimung yang udah obesitas itu makan.
"Nanti Keke minta Tuti beliin juga ya, Bang."
"Kita aja yang beli. Ayo, pake motor." Aarash udah narik tangan Keke. Lihat abangnya udah narik tangan Keke buat beli keju, Aariz juga ikutan melakukan hal yang sama.
Jordi yang lihat Aariz udah berhenti ngasih makan dia, jadi matuk-matuk sangkar lagi. Dia masih laper, Neon main tinggal aja! Woii gue pesen nasi padang! Jerit Jordi tak tertahankan. Pelet gue juga woi! Kimung ikut-ikutan.
"Nanti Papi sama Mami marah loh. Gak boleh panas-panasan. Nanti sakit." Keke berusaha memberi pengertian pada dua anak majikannya itu.
"Tar ya, Ondrong telepon Papi."
Ondrong udah pergi ke meja telepon. Menekan nomor telepon ruangan papinya yang lagi asyik lihat mami bikin laporan.
"Papi!" seru Aarash setelah sambungan teleponnya diangkat.
"Ondrong?"
"Iya, ini Ondrong Pi."
"Kenapa telepon Nak?" tanya Bagas dengan serius melihat ke arah layar monitor di depan Dara. Dara sendiri sudah menghentikan kegiatan mengetiknya sementara ketika tahu yang menelepon itu adalah anaknya.
"Pi, Ondrong sama Neon ikut Yayang Keke ke pasar ya."
Dara yang dengar itu hendak melarang, tapi Bagas menahan dengan isyarat tangannya.
"Gak papa, pergi aja. Emang mau beli apa?" tanya Bagas sambil mengelus rambut Dara lembut, menenangkan istrinya yang ketar ketir itu.
"Mau beli singkong, Beh!" Suara Aariz terdengar, kayaknya dia lagi rebutan telepon sama Aarash.
"Mau beli keju Pi!"
"Singkong!"
__ADS_1
"Keju!"
Persis Dara dan Bagas yang suka berdebat kedua anaknya itu sekarang pada rebutan telepon, bikin Keke jadi pusing.
"Udah, siniin biar Keke telepon papi." Akhirnya Keke yang berhasil merebut telepon itu. Udah berasa dapet piala citra Keke angkat itu telepon tinggi-tinggi biar para bocah gak bisa rebutan lagi.
"Jadi gimana, Tuan? Boleh gak kembar ikut Keke ke pasar?" tanya Keke lagi. Sebab kedua anak majikannya ini sudah semangat banget pengen ikut.
"Gak papa Ke, ajak aja. Nanti kalau mereka mau beli apa aja gak papa beli aja ya. Uangnya gue transfer skrg."
"Iya Tuan, makasih loh Tuan."
"Belanja sekalian kebutuhan elo sama Tuti."
"Makasih Tuan, haduh sering-sering gitu Tuan."
"Keenakan lo Ke."
"Mumpung gitu Tuan." sahut Keke polos. Bagas dan Dara cuma tertawa mendengar pengasuh kedua anaknya itu. Dara juga sering memberi barang-barang bagus untuk kedua pekerja di rumah mereka itu.
Bagi Bagas dan Dara, para pekerja mereka adalah keluarga juga. Anak-anaknya juga udah pada dekat sama Keke dan Tuti yang lebih sering dipanggil Yayang itu. Kehadiran dua jomblowati itu sangat membantu Bagas dan Dara yang gak bisa selalu standby di rumah.
"Kenapa dibiarin sih Mas? Kan bisa minta anterin Pak Mamat pake mobil." protes Dara setelah sambungan telepon dimatikan.
"Udara panas loh Mas."
"Gak papa, udah kamu tenang aja."
"Bukannya apa Mas, mereka kan gak biasa panas, aku gak mau nanti malah sakit lagi karena panas-panasan."
"Enggak, udah kamu tenang aja. Justru kalau mereka aktif kesana kemari, mereka gak bakal mudah sakit lagi."
Dara melengos. Kekhawatiran ini sebenarnya lumrah saja, karena Dara adalah seorang ibu. Melihat kembar kemarin sampai di opname tidak bisa dipungkiri akhirnya membuat ia jadi lebih protectif terhadap kembar.
Dara dan Bagas kembali pada kesibukan mereka melihat laporan bulan ini. Keduanya kembali tenggelam dalam keseriusan. Sejenak pembahasan tentang kembar dikesampingkan dahulu.
Sementara itu di pasar, Keke udah kerepotan ikut kemana kembar mau. Di tengah keramaian kembar terlihat sumringah, mereka baru kali pertama ke pasar tradisional. Rencananya cuma mau beli singkong sama keju eh sekarang mereka udah sibuk ke sana kemari. Lihat orang jualan mainan mereka berhenti, pokoknya ada aja yang dibungkus.
"Bang, ini udah kebanyakan. Udah ayo pulang yok, nanti keduluan mami sama papi loh yang nyampe." pekik Keke kepada kembar yang lagi serius lihat orang jualan ikan.
"Yang, coba beli ini."
"Ya ampun." Keke udah pusing. Kembar mau ikan c*pang. Gimana bawanya gitu. Motor mereka gak bakalan muat buat bawain itu semua barang belanjaan.
__ADS_1
"Gak papa kok Mbak, kita bisa antar kok." Abang yang jualan udah takut nanti kembar gak jadi beli. Mana dagangannya belum ada yang laris lagi. Untung kan kembar mau beli banyak.
Akhirnya Keke mengalah, jadi lah mereka sudah pesan banyak ikan c*pang aneka warna. Abang yang jualan ikut nganterin sampai ke rumah.
Abang penjual udah melongo lihat rumah kembar yang kayak istana. Apalagi setelah melihat sebuah mobil mewah masuk, di mana setelah itu turun sepasang suami istri yang memberi senyum ramah padanya. Abang penjual pengen deh bisa jadi pegawainya mas gondrong kalau ada rejeki.
"Papi!" Ondrong udah nyamperin papinya. Dara cuma bisa geleng-geleng lihat begitu banyak barang belanjaan.
"Ini ikan c*pang nya mau ditaruh dimana ya Tuan?" tanya abang penjual pelan.
"Tolong bawa ke dalam ya Bang." Bagas mempersilahkan yang jual ikan buat masuk. Abang udah mau bengek lihat penampakan interior yang begitu klasik tapi mewah. Tangga melingkar udah kayak di istana aja dia.
"Sudah, Tuan. Saya permisi, makasih anaknya udah beli banyak ikan saya." kata abang sambil menunduk.
"Nah, ini buat abang." Bagas udah nyelipin sejumlah uang dengan nominal yang banyak untuk lelaki itu. Mata abang jadi berkaca-kaca. Alhamdulillah, malam nanti bisa ajakin gadis kecilnya makan ayam kriuk.
"Ikannya udah dibayar kok Tuan." Abang penjual berusaha menolak, tapi Bagas tersenyum lalu memasukkan benda itu ke kantung baju abang ******.
"Makasih loh Bang udah anterin belanjaan anak-anak saya, lebihnya itu buat anaknya ya."
Abang penjual ikan akhirnya mengangguk dan tersenyum haru. Baru kali ini ketemu horang kaya gak sombong dan baik hati.
Dara pun tersenyum memandang suaminya dari kejauhan sambil bongkar barang belanjaan kembar dan Keke. Duh, suaminya jadi makin ganteng setiap habis sedekah.
"Tak kan berkurang harta yang sedekah, malah Tuhan bakal tambah." begitu nasihat Bagas setiap kali Dara memuji suaminya itu.
Setelah abang penjual pulang, Bagas dan Kembar udah sibuk nyusun ikan itu di setiap tempat yang berbeda. Karena ini ikan gak bisa digabungin harus di tempat-tempat yang berbeda. Kedua anaknya kayaknya bakal jadi penggila ikan kayak Opa dan Kakek.
"Nih singkong sama kejunya udah jadi."
Mereka mulai menikmati singkong rebus juga parutan keju bersama-sama. Keakraban begitu terjalin, Bagas mengelus perut Dara yang sudah membuncit sambil makan singkong dan keju.
Ondrong makan kejunya aja, dia gak suka singkong. Begitu pun Neon, dia cuma makan singkong karena gak suka keju. Malah sekarang Neon rusuh minta Tuti goreng ikan asin buat temenin singkong dia. Itu Kakeknya banget, makan singkong rebus pake ikan asin.
"Enak kan singkongnya Nyak?"
"Iya, enak kok. Nanti bikin lagi ya." Dara mengelus rambut Neon yang udah mulai lebat.
"Papi suka keju sama kayak Ondrong." Ondrong gak mau kalah. Bagas cuma angkat kedua jempolnya ke arah Ondrong tanda dia setuju.
"Papi sama Mami mandi dulu ya, kalian juga habis makan ini langsung mandi."
Kembar mengangguk dan meneruskan acara makan-makan mereka sambil mandang ikan c*pang. Singkong dan keju bikin keduanya jadi tambah akrab. Apalagi sekarang mereka punya banyak ikan c*pang.
__ADS_1
Papi udah di kamar mandi sama mami, lagi bikin c*pang versi lain. Kembali ada yang nempel tapi bukan perangko. Ada yang basah tapi bukan hujan. Ada yang tegak tapi bukan keadilan. Ada-ada aja pokoknya.