CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Kangen Berat


__ADS_3

"Finally!" seru Bagas tepat di hari ke delapan belas ia berada di luar negeri. Bersama para staff handalnya ia berseru senang karena perusahaan telah kembali membaik. Ia melihat data yang mulai berjalan baik, sistem yang sudah kembali normal.


Bagas menyalami para karyawan hebatnya. Ia juga segera kembali ke ruangan. Setelah hampir beberapa minggu lebih ini berusaha memperbaiki keadaan, akhirnya ia sukses mengembalikan perusahaannya di titik stabil dan normal lagi.


Bagas buru-buru balik ke hotel setelah itu. Mempersiapkan diri untuk kembali ke Indonesia secepatnya. Udah gak sabar pengen ketemu istri tercinta juga anak-anak lucunya.


"Mami!" seru Bagas riang kala panggilan videonya sudah tersambung.


"Iya Sayang, aku lagi gantiin popoknya Apem."


Terlihat Dara meletakkan ponsel di atas nakas. Bagas bisa melihat gadis kecil dan gembulnya itu sedang bergerak-gerak lucu menatap ke arah layar ponsel. Dia tahu itu papi yang udah bikin dia kangen.


"Sayangnya papi." panggil Bagas sambil tertawa menatap kamera yang sekarang sudah mengarah ke wajah bulat putrinya.


Dara senyum lihat gerakan aktif Apem yang lagi berusaha mau menyentuh ponsel.


"Mas, gimana perusahaan?"


"Sabar ya Sayang, paling beberapa hari lagi."


Dara mengangguk, Bagas bisa melihat betapa istrinya lagi rindu. Jangan tanya papi, dia udah kangen berat. Tapi Bagas sengaja gak mau ngasih tahu Dara kalo besok dia udah bisa pulang.

__ADS_1


"Kangen gak sama aku?" tanya Bagas.


Dara mengangguk, pandangan mata istrinya teduh. Bagas udah bayangin tatapan mata istrinya kala lagi gitu-gitu. Sudah lama mereka tak melakukannya. Tapi besok malam yang sangat larut Bagas pastikan Mami akan segera mendapat serangan mendadak tapi penuh gairah.


"Aku juga, kangen banget sama kamu."


"Cepat pulang Mas."


Bagas mengangguk mantap. Dia terus tersenyum menatap istrinya yang semakin cantik juga terawat. Sekilas gak bakal ada yang nyangka kalo mami udah punya anak tiga.


Apalagi sekarang mami rambutnya udah di bentuk gelombang gantung di bagian bawah rambut panjangnya. Jadi tampak muda segar dan mempesona. Papi jadi klepek-klepek sama dia.


Apa kabar Kimung sama Jordi? dua makhluk beda kasta dan beda spesies itu sekarang jadi teman akrab kembar. Mereka rajin banget kasih makan itu hewan peliharaan. Kimung udah gak bisa ngapa-ngapain. Dia akan selamanya menjadi kucing obesitas kelebihan lemak membandel. Jangankan buat jalan, buat ngeong aja dia udah gak kuat.


Sekarang dede apem juga udah sehat. Udah bisa ketawa bareng Keke sama Tuti yang lagi main sama dia. Mami cuma lagi kepikiran papi. Aduh, kangen berat. Desah


Dara dalam hati.


"Nyonya, kangen Tuan ya?" tanya para jomblowati. Dara cuma ngangguk.


"Iya." lesu banget mami jawabnya.

__ADS_1


"Bentar lagi pasti pulang, Nyah."


Dara cuma ngangguk aja.


"Tuti gak ada yang dikangenin?" tanya Keke sama Tuti.


"Ada."


"Siapa?"


"Enyak."


Keduanya diam lagi. Dara cuma ketawa lihat kedua pelayannya itu lagi berbalas kata-kata.


Malamnya ketika purnama sudah muncul di peraduan dengan Dara yang lagi mabok rindu jadi gak mau beranjak dari kasur. Ia sudah lama terpejam. Setelah anak-anak tidur dia juga ikutan tidur. Mau telepon papi, nomornya gak aktif seharian. Mami jadi pengen nangis dalam mimpi.


Jangan nangis dulu Mi, lihat tuh siapa yang datang. Bagas udah masuk kamar dengan gerakan pelan. Memulai penjamahan dari kaki jenjang putih bau handbody terus naik sampe ke depan Nyai. Tahan, naik dulu yuk ke perut Mami yang udah geli-geli.


Geli? Dara segera tersadar ada yang sedang meraba dirinya. Matanya membulat sempurna kala melihat Bagas udah bermain bersama bola dunia.


"Mas ..." pekik Dara minta penjelasan sekaligus minta jangan berhenti.

__ADS_1


"Ssstttt, aku lagi laper." desis Bagas udah ngefly.


Dara gak terima, dia juga udah kangen berat. Dara langsung dorong papi hingga terjerembab ke atas ranjang. Buka buka buka, yeeeee belah duren lagi.


__ADS_2