
Keesokan malamnya, Bagas ngajak Dara ikutan acara bakar-bakar daging. Kalau istilah kerennya, Bagas mau ngajak Dara ikutan pesta barbeque sama tamu lainnya. Jadi mereka berbaur, Bagas jadi banyak ngobrol sama tamu lain yang ternyata juga sedang berbulan madu.
Rata-rata mereka juga para pebisnis yang lagi liburan bareng istri karena sumpek sama Jakarta yang tiap hari macet dan panasnya yang gak ketulungan. Buat Bagas sih gak ngaruh, karena ruangan sama apartement dia ber AC, apalah artinya daku yang cuma bisa pake kipas angin. Itu juga anginnya gak kenceng lagi dikarenakan banyak debu yang menghalang.
Balik ke acara bakar-bakar daging malam ini, Bagas kelihatan balik lagi ke villa. Dara udah mau ngambek karena ditinggalin sendirian di antara para tamu lainnya. Ternyata ke sosweet-an Bagas belum selesai, dia balik ke villa ngambilin syalnya Dara karena ngelihat istrinya yang lagi pake dress melambai-lambai kedinginan.
Dara gak jadi ngambek, malah sekarang jadi senyum-senyum. Klepek-klepek Dara kayak ikan mujaer gak dikasih air, mangap-mangap kayak anak burung mau dikasih serangga sama induknya.
"Makasih ya." Dara tersenyum malu-malu meong.
"Kamu kedinginan aku lihat, nanti beku aku yang repot bawa ke dalem." sahut Bagas kalem. Dara jadi gemas,ia memukul lengan suaminya pelan tapi dengan sayang.
"Ayo gabung sama yang lain. Banyak istri-istri juga di sini. Dari yang istri sah sampai istri gelap, Terserah kamu mau ngomong sama yang mana." bisik bagas pelan takut para istri gelap mendengarkan.
Dara akhirnya bergabung bersama barisan para istri bukan barisan para mantan kayak lirik lagunya the Rain. Cuma yang mana yang sah dan yang simpenan, Dara gak tahu dan gak berani nanya juga. Takut nanti dia malah diracunin karena kepo.
"Mbak Dara, udah berapa bulan itu dede utun?" tanya istri bayang-bayang, karena belum jelas dia istri sah atau istri gelap.
"Eh bukan dede utun, Mbaknya. tapi dede gondrong. Udah jalan enam bulan Mbak." sahut Dara sumringah setiap kali ada yang nanyain tentang kehamilannya.
"Lucu sekali dede gondrong, pasti nanti kalau lahir gondrong kayak bapaknya juga ya, Mbak.'' timpal istri sah, sebab yang ini jelas karena tadi Dara dengar dia sempat menerima telepon dari mertuanya.
Di tengah perbincangan hangat barisan para istri, muncul satu orang perempuan seksi, dia pake baju kurang bahan bikin mata para lelaki jelalatan. Dara udah siaga lima mau lihat suaminya ikutan jelalatan juga atau tidak. Ternyata mas gondrong kesayangan gak peduli sama sekali sama perempuan seksi entah istri sah atau istri gelap itu
__ADS_1
Suaminya terlihat lagi sibuk ngipasin daging udah mirip sama tukang sate yang sering lewat kalo malem. Sempat melihat sebentar lalu melengos lagi karena perempuan itu jatuhin kecap dengan gaya membagongkan. Dibuat-buat sekali dengan berteriak serak serak becek bikin para istri sah kesal setengah mampus.
"Siapa sih? geli banget gue!" desis mbak yang berdiri di samping Dara dengan raut wajah keki.
"Eh eh lihat mamanya dede gondrong, itu mbak kecentilan nyamperin suami kamu." timpal mbak yang satu lagi sambil menunjuk Bagas yang gak peduli sama sekali dengan wanita ganjen itu.
Dara tersenyum kecil melihat Bagas yang nampak tidak peduli sama perempuan itu. Ia jadi tertawa melihat mbak kecentilan dikacangin. Gak lama kemudian, seorang lelaki menghampiri wanita itu dengan wajah kesal.
"Amit-amit ya kalo jadi simpenan memang begitu. Kelakuannya bikin geli. Mau dibawa kemana aja tetap aja murah." bisik para istri sah yang segera disambut anggukan. Dara cuma ketawa-ketawa aja. Dia gak suka gosip, jadi mendingan menghampiri suaminya yang lagi sibuk ngipasin daging.
"Udah ada yang mateng belum?" tanya Dara setibanya ia di dekat Bagas yang langsung disambut rangkulan mesra oleh suaminya itu.
"Dikit lagi ya." sahut Bagas sambil menjawil hidung istrinya.
Waktu lagi asyik bercengkrama sambil mengipas-ngipas daging, seseorang menghampiri mereka. Kali ini seorang pria tampan. Tubuhnya sama atletis sama Bagas. Bedanya, pria itu rambutnya gak gondrong tapi pendek seperti para lelaki umumnya.
Bagas yang dengar suara lelaki sedang menyebut nama istrinya langsung kepo bin sewot. Dia langsung genggam tangan Dara biar istrinya gak bisa kemana-mana.
"Mas Arnold?" tanya Dara ragu. Lelaki itu tampak mengangguk.
"Lama ya kita gak ketemu. Apa kabar kamu? makin cantik aja." puji lelaki itu sambil mengulurkan tangan.
"Baik, Mas." Dara menjabat tangan Arnold membuat Bagas terpaksa melepas genggaman tangan mereka. Tapi kemudian ia berdeham, karena Arnold tak kunjung melepas jabatan tangan pada istrinya.
__ADS_1
"Eh maaf-maaf. Aku jadi mengenang masa lalu, waktu aku lihat kamu ospek dulu di kampus. Gak nyangka deh kamu udah tambah cantik sekarang. Kamu udah nikah?" tanya pria itu yang terdengar sungguh oon di telinga Bagas. Apa dia gak lihat perut Dara udah kayak balon udara yang artinya dia udah hamil anak seseorang.
"Kenalin, Mas. Ini suami aku namanya Mas Bagas."
Bagas menjulurkan jemari yang segera dijabat oleh Arnold. Arnold jadi hilang harapan, tadi niatnya pengen deketin Dara lagi karena dulu gak berhasil macarin Dara waktu mereka masih kuliah. Ya, tapi apa mau dikata, Dara udah punya suami. Gak kalah keren pula dari dia.
" Ya udah, senang ketemu kamu di sini. Bro, senang juga kenalan sama lo." kata pria itu pada Bagas yang menyambutnya dengan senyum cool.
Bagas jengah banget lihat itu cowok masih ada di antara mereka. Walau jaraknya cukup jauh tapi Bagas tahu, dia masih suka curi-curi pandang sama Dara. Lagian masa dia sendiri ke tempat orang bulan madu begitu. Ngenes banget kan nasibnya. Pertayaan Bagas terjawab saat pria itu didekati seorang perempuan, nampaknya mereka juga sedang bulan madu, bulan madu tanpa ikatan pernikahan lebih tepatnya.
"Yang, balik villa aja yuk." Bagas tanpa basa basi langsung menarik tangan Dara untuk pergi meninggalkan tempat itu. Bikin Dara gak rela karena dia baru makan sepotong daging.
"Tapi Mas dagingnya ... " Dara berujar tak rela.
"Udah, nanti aku beli daging kebo biar kamu puas makannya." sahut Bagas yang tiba-tiba kesal, bikin Dara bingung.
"Kamu kenapa sih?" tanya Dara yang ikutan kesal juga setelah mereka sampai di villa.
"Aku gak suka ada lelaki yang ngelihat kamu lebih dari lima detik." ujar Bagas sambil meminum air putih sampai habis.
"Ya ampun, kamu cemburu sama Mas Arnold?" Dara tertawa.
"Jelas dong aku cemburu." sahut Bagas kesal. Ia segera masuk ke kamar membuat Dara tergopoh-gopoh menyusulnya.
__ADS_1
"Dih, ngambek. Kan dia yang nyamperin bukan aku." Dara mengusap rambut gondrong suaminya yang sudah tertelungkup.
Bagas bangkit, lalu tanpa ba bi bu dia membuka semua yang ada pada Dara. Sesudahnya, ya ... kalian udah tahu kan apa yang terjadi. Obat suami istri kalo lagi ngambek ya goyang kasur. Kata Bagas sih gitu, gak tahu kata kamu. Benar-benar membagongkan.