CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
CGIS S2 - Kontraksi Beneran


__ADS_3

Satu bulan kemudian malam hari tepat pukul sembilan malam, Cheryl yang lagi cuci muka, maksudnya bersiap mau tidur, tiba-tiba merasa sesuatu merembes dari sela pahanya. Dia menunduk, kayaknya dia udah pipis tadi kok sekarang pipis lagi malah gak pake permisi langsung keluar gitu aja.


Tapi dia heran baunya gak kayak air kencing. Dia seketika terbelalak. Kayaknya ini air ketuban. Ya enggak kayaknya, emang itu air ketuban. Dia segera memanggil Neon yang lagi asyik menunggunya di atas ranjang sambil main ponsel.


"Sayang, sini cepetan."


"Kenapa, Yang?"


"Sini, ketuban aku pecah."


Bang Neon segera loncat dari ranjang. Setengah berlari dia mendekat ke kamar mandi dan menemukan Cheryl sudah bertopang pada pinggiran wastafel.


"Kamu mau melahirkan!"


Neon menenangkan diri lalu memapah istrinya buat duduk di atas ranjang sementara dia sendiri sibuk memasukkan beberapa peralatan bayi ke dalam tas.


"Ayo."


"Bentar."


"Apa, nanti kamu keduluan brojol."


"Jaket, mana jaket? Masa aku begini?"


Bang Neon baru sadar kalau istrinya cuma pake baju tipis buat bobo. Dia segera membongkar lemari dan meraih sebuah jaket kulit punya dia.

__ADS_1


"Jaket aku yang warna ungu."


"Udah pake aja, Sayang. Masih sempat-sempatnya juga pengen pake jaket ungu." Bang Neon ngedumel.


Cheryl kembali dipapah turun dari lift mereka segera masuk ke mobil.


"Aduh, sakit perut."


"Eek di rumah sakit aja, ya."


"Aku bukan mau eek. Mau mengedan ini."


"Duh, tahan Yang, tahan."


Neon berusaha menenangkan istrinya yang sudah kesakitan luar biasa itu. Ia menyetir dengan cepat dan hati-hati. Untung jarak dari apartement dan rumah sakit tidak terlalu jauh.


"Kamu kuat, harus berjuang ya." Neon memberi semangat kepada istrinya untuk terus mengedan, dan ajaibnya Tiwi bisa mengeluarkan satu bayi mereka dengan mudah setelah dilakukan episiotomi. Bayinya perempuan cantik sekali.


"Satu lagi ya."


"Hah?!" Keduanya sama-sama bingung.


"Bayinya ada dua, Pak."


Shock berat sekaligus bahagia Cheryl berusaha mengedan lagi. Neon kembali menyemangati. Dia sesekali melihat satu bayi yang sudah lahir yang sedang dibersihkan oleh perawat.

__ADS_1


"Sekali lagi Sayang."


"Aaaarrrrghh!" teriakan Cheryl membahana bersamaan dengan lahirnya satu lagi bayi mereka, kembaran bayinya yang sudah lahir duluan.


Perempuan lagi, dua-duanya cantik sekali. Bak pinang dibelah kapak. Mereka mirip. Ya mirip, namanya juga kembar. Anaknya gak ada yang Gondrong atau botak, karena dua-duanya lahir dengan rambut sama lebat.


"Makasih sayang kamu sangat menakjubkan." Neon mencium Cheryl yang sedang menangis karena haru. Anak mereka sudah lahir mereka menamainya Samantha Nadhira dan Samantha Aqeela.


Tiga bulan kemudian, Tiwi menyusul. Di subuh yang begitu dingin, Tiwi merasa perutnya kontraksi hebat. Dia akan melahirkan.


Bang Ondrong yang masih bertelanjang dada segera meraih kaus dan memasangkan jaket kepada istrinya.


Mereka pergi ke rumah sakit terdekat. Di sana ternyata Tiwi sudah buka enam. Hampir satu jam menunggu akhirnya bukaan lengkap dia dapatkan.


"Nona harus menarik nafas dengan benar ya. Kita mulai."


Tiwi jauh lebih tenang saat melahirkan, mungki karena dia banyak menonton video proses melahirkan dan juga selama ini rajin senam hamil.


"Sedikit lagi, rambutnya sudah kelihatan, yaaaa masuk lagi."


Tiwi mengambil nafas lagi, Ia tidak mengangkat bokongnya sesuai anjuran dokter. Dan kemudian dengan satu tarikan nafas, akhirnya anaknya lahir tanpa ada sayatan episiotomi di jalan lahir.


Seorang bayi lelaki tampan menangis melengking. Rambutnya lebat sekali.


"Arjuna sudah lahir, Sayang." Bang Ondrong mencium Tiwi mesra.

__ADS_1


Mereka menangis bahagia.


__ADS_2