
Sekali waktu atau terkadang beberapa kali tapi gak sampe sering, rumah tangga yang biasanya adem kayak lagi duduk kena angin sepoi-sepoi atau mengalir aja kayak air, pasti akan ada masanya dimana terjadi kesalahpahaman antar suami istri.
Perdebatan yang bikin kepala pusing sampai pada tahap ngambekan gak pake teguran berhari-hari. Seperti yang saat ini sedang Dara dan Bagas rasakan. Kesibukan mereka sebagai orangtua sekaligus pasangan dengan karir cemerlang, terkadang diuji dengan beberapa hal kecil yang akhirnya malah bikin mereka jadi tegang urat sampe gak mau ngomong satu sama lain.
Pagi ini, Dara telat bangunin Bagas. Kebetulan, suami gondrong dan tampannya itu ada pertemuan penting sama perwakilan perusahaan asing. Jadi karena udah telat hampir setengah jam sementara para investor sudah menunggu di ruang meeting, Bagas dengan bersungut-sungut memasang kemeja kerjanya. Lihat itu Dara juga jadi kesal, dia udah bilang sama Bagas jangan keasyikan nonton bola, tapi suaminya itu bantah.
Nah giliran telat bangun malah Dara yang disalahin. Tadinya Dara gak mau ladenin Bagas debat, tapi kayaknya makin didiemin, suaminya itu malah makin ceriwis aja kayak emak-emak lagi ngomelin anaknya yang ketahuan bolos sekolah.
"Kan aku udah bilang Mas, nontonnya jangan sampe lupa waktu."
"Lho, kok kamu malah nyalahin aku? kan aku udah minta bangunin lebih cepat dari biasanya. Kamu aja tidurnya juga kebablasan sampe lupa bangunin aku cepat pagi ini." omel Bagas. Dara masih menahan emosinya, karena kalau sampai meledak bisa-bisa bukan cuma Bagas yang ngomel, dia juga bakalan sama.
"Aku udah bangunin kamu, berulang kali tapi aku ketiduran lagi karena kamu gak bangun juga."
"Tuh kan, harusnya kamu jangan tidur lagi Yang, gini nih kalo aku bilangin kamu malah ngebantah."
"Ya ampun, Mas Bagas. Aku ngebantah apa sih? aku beneran udah bangunin kamu." Dara mencoba mendekati Bagas yang masih manyun itu.
"Udah ayo cepatan, kamu gak usah dandan segala. Buat apa coba dandan kebangetan? mau kondangan?"
Dara menarik nafas panjang. Dia lagi gak pengen debat panjang lebar sebab Bagas harus menghadapi para investor asing yang akan membuatnya banyak memutar otak demi terjalinnya kerjasama penting ini.
"Aku beliin makan ya Mas, nanti makan dulu baru masuk ruang meeting."
"Gak usah, ini aja aku udah telat." ujar Bagas pelan tapi masih dengan rasa keki yang jelas terdengar.
"Ya udah aku siapin berkasnya sekarang."
Bagas diam, begitu pun Dara yang sudah sibuk dengan berkas-berkas di dalam tasnya. Kemudian setelah semuanya selesai dan kebetulan mereka sudah memasuki besmen perusahaan mereka segera keluar dari mobil.
"Mas, pelan-pelan." Dara berusaha mengimbangi Bagas dengan langkahnya yang panjang dan cepat.
__ADS_1
"Ini udah telat setengah jam Yang. Aku gak pernah toleransi sama waktu.
Dara membiarkan Bagas setengah berlari menuju meeting room yang mana di dalamnya ternyata memang telah menunggu para pengusaha luar karena tampak sekali dari cara bicara yang menggunakan aksen inggris juga wajah-wajahnya yang pada bule.
"Maaf saya terlambat." Bagas membungkukkan badannya.
Para pengusaha itu mengangguk tanda mengerti kemudian Bagas memulai meeting dengan penuh wibawa. Dara masuk ke dalam dengan dandanan yang lebih rapi terus menyapa para pengusaha yang sudah memandangnya penuh suka cita.
Bagas yang lagi sensi malah melihatnya sebagai sesuatu yang mengesalkan hatinya sendiri. Walaupun dia tetap berusaha profesional di dalam ruangan.
Setelah selesai dengan kesepakatan yang telah dicapai kedua belah pihak, Bagas dan Dara kembali ke ruangan.
"Aku pesenin makanan ya Mas."
"Aku gak laper, lihat kamu dandan cantik hari ini aku udah kenyang." ujar Bagas sinis.
"Kenapa sih Mas? aku salah apa lagi. Masalah pagi tadi aku minta maaf loh." Dara mencoba mendekati suaminya yang sedang gak mood itu.
Dara mau kehabisan nafas dituduh yang enggak-enggak begitu sama Bagas. Pengen teriak, pengen nangis, pengen pukul dada suaminya itu kalo perlu.
"Kamu jahat banget sih! aku gak gitu! emangnya kamu mau aku kelihatan jelek di depan orang. Aku gak mau buat kamu malu! kenapa sih kamu semudah itu nuduh aku ini itu?! aku pulang, gak mau kerja lagi!" Dara menghempaskan berkas di tangannya dengan kesal.
Tapi alih-alih langsung pulang ke rumah, Dara malah singgah dulu ke depan perusahaan, makan cilok kang gondrong sampe puas dan isi cabe udah kayak mau bunuh diri.
Dara kepedasan sampe nangis. Antara kesal karena pedas juga kesal karena Bagas. Dia udah habis sabar karena Bagas nuduh dia macem-macem.
Bagas lihat pemandangan Dara di bawah lagi makan sambil nangis sebenarnya mengerti istrinya beneran lagi sedih. Tapi dia lagi gengsi banget sekarang. Cuma setelah dipikir-pikir dia emangnya keterlaluan deh tadi.
"Mau kemana Pak Bagas? ada meeting lagi loh jam sebelas tadi bu Dara nitip skedul Bapak sama saya." cerocos Tina.
"Batalin aja meetingnya, saya pengen meluruskan sesuatu yang masih bengkok."
__ADS_1
"Saya punya catok pak."
"Buat apaan catok, Tina?!" tanya Bagas jengah karena Tina udah mulai ngelantur di belakang dia yang masih tergesa-gesa menuju lift.
"Buat ngelurusin yang bengkok."
"Jangankan catok, Setrikaan aja gak mempan buat ngelurusin ini."
"Catok mahal pak, rambut Bapak beneran bisa lurus sempurna nih kayak saya, dijamin gak keriting bengkok lagi."
Bagas masuk ke dalam lift dengan kesal, meninggalkan Tina yang masih gak nyambung. Yang bengkok itu masalahnya Bagas loh mbak Kunti, bukannya rambut! Pengen tak jambak rambut Tina yang udah kayak sapu lidi.
"Aku pulang! gak mau kerja lagi!"
Kata-kata penuh kesedihan itu terngiang-ngiang di telinga Bagas saat ini. Setengah berlari, Bagas masuk ke dalam rumah terus nyari Dara ke sana kemari.
"Ti, dimana Nyonya?!" tanya Bagas ketakutan sendiri.
"Itu Tuan Nyonya pergi bawa dede Apem mereka katanya mau..."
"Apa?! mereka pergi! gimana lo Ti bukannya di halangin!" Bagas udah panik sendiri.
Macan ternak udah berubah jadi macan kabur. Bagas udah kesana kemari nyari keberadaan Dara sampe kepalanya kebentur.
"Tuan Nyonya pergi gak lama katanya..."
"Gak lama apaan, lo tau gak dulu dia pulang ke Malang sampe dua mingguan gua bisa mati berdiri kalo gini Ti. Harusnya lo halangin dia kalo udah gitu, lo apain kek, kasih cilok kek, sogok pakek ketoprak kek pake cimol kek. Ini lo biarin. Ya ampun gue mesti ke bandara secepatnya." Bagas udah lari lagi ninggalin Tuti yang udah teriak setengah mampus pengen ngejelasin tapi selalu dipotong sama Bagas.
Bagas ngidupin mesin mobil ninggalin Tuti yang udah teriak pengen bilang kalo mami tuh gak ke bandara buat pulang kampung.
"Tuan, Nyonya bukan ke bandara, Nyonya ke mall ngajak dede Apem makan es krim sekalian mau jemput abang kembar nanti." Tuti udah teriak kayak orang stress. Bagas sendiri sedang memacu mobilnya gila-gilaan menuju bandara.
__ADS_1
Sementara dede Apem sama mami lagi asyik makan eskrim sambil ketawa-ketawa. Rasain papi gondrong salahpaham berujung salah kira! mau ditungguin sampe itu pesawat pada berubah jadi kapal laut gak bakal dapet itu mami di bandara.